Jawa Barat sebagai basis industri terbesar harus dijaga stabilitas industrinya demi keberlanjutan ratusan ribu tenaga kerja. Sidarta menegaskan bahwa saat ini industri otomotif menghadapi, penurunan pasar domestik, pengurangan jam kerja di sejumlah pabrik, efisiensi biaya produksi, PHK di beberapa perusahaan dan industri komponen.
"Di tengah kondisi seperti ini, belanja pemerintah sebesar Rp24,66 triliun seharusnya menjadi bantalan penyelamat industri nasional, bukan justru menjadi stimulus bagi industri luar negeri," ujarnya.
Sebagai representasi buruh sektor logam, elektronik dan mesin yang mayoritas bekerja di industri otomotif dan komponen, Muhamad Sidarta menegaskan, dirinya tidak anti terhadap kerja sama asing, namu harus tetap memperhatikan kondisi industri dalam negeri.
"Kami tidak anti terhadap kerja sama internasional. Namun dalam kondisi industri nasional yang sedang tertekan, kebijakan negara harus berpihak pada produksi dalam negeri. Jawa Barat adalah jantung industri otomotif Indonesia. Jika kebijakan tidak berpihak, maka dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan ketenagakerjaan," kata dia.
Dengan kondisi ini, DPD FSP LEM SPSI Jawa Barat menyampaikan untuk:
Mendesak pemerintah membatalkan rencana impor 105.000 kendaraan niaga dalam bentuk CBU.
Mendorong agar kebutuhan kendaraan KDKMP dipenuhi melalui produksi dan perakitan dalam negeri.
Meminta sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian agar sejalan dengan agenda industrialisasi nasional.
Mengingatkan bahwa konsistensi terhadap visi hilirisasi dan industrialisasi Presiden Prabowo Subianto harus diwujudkan dalam kebijakan konkret yang melindungi industri dalam negeri.