Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Busyra Basnur Sebut Semangat Bandung Kini Lebih Dibutuhkan Dunia

Busyra Basnur Sebut Semangat Bandung Kini Lebih Dibutuhkan Dunia
Ketua Umum Perhimpunen Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), AI Busyra Basnur. IDN Times/Azzis Zulkhairil
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Busyra Basnur menegaskan Semangat Bandung dari Konferensi Asia-Afrika 1955 masih relevan dan bahkan lebih dibutuhkan dunia untuk menghadapi dinamika politik, ekonomi, serta sosial budaya global saat ini.
  • Ia menyoroti pentingnya solidaritas dan kerja sama antarnegara dalam mengatasi konflik, ketimpangan, dan kemiskinan, dengan meneladani nilai-nilai Dasasila Bandung sebagai dasar kebersamaan dunia.
  • Busyra mengajak masyarakat luas—akademisi, mahasiswa, pengusaha, seniman, hingga media—untuk aktif menjalankan diplomasi publik dan menyebarkan semangat Dasasila Bandung tanpa bergantung pada pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandung, IDN Times - Semangat Bandung yang dideklarasikan dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan global saat ini. Semua nilai yang tertuang dalam Dasasila Bandung harus terus digaungkan terutama di Indonesia.

Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) , AI Busyra Basnur saat menyelenggarakan seminar internasional di Bandung, Selasa (2/6/2026).

"Bahwa Semangat Bandung itu, atau semangat apa yang dideklarasikan pada saat Konferensi Asia Afrika, sampai sekarang sangat relevan. Bahkan kalau menurut saya justru lebih dibutuhkan oleh masyarakat dunia sekarang ini," ujar Busrya.

1. Semangat solidaritas sangat penting

IMG-20260602-WA0083.jpg
Ketua Umum Perhimpunen Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), AI Busyra Basnur. IDN Times/Azzis Zulkhairil

Menurut dia, perkembangan dunia, baik dari politik, ekonomi, dan perkembangan sosial budaya sangat dinamis pada akhir-akhir ini. Termasuk, masalah keamanan dunia di beberapa tempat yang mana hal tersebut menjadi perhatian masyarakat global sekarang.

"Nah, dalam menghadapi situasi yang semakin dinamis itu, di mana-mana terjadi konflik, di mana-mana terjadi ketidakseimbangan, di mana-mana terjadi kemiskinan, dan di sini diperlukan suatu solidaritas, kebersamaan, dan komitmen yang kuat antarnegara di dunia," jelasnya.

Semangat untuk bersolidaritas ini, kata dia, pada 1955 Indonesia sudah mendeklarasikannya dan itu tertuang dalam Semangat Bandung KAA. Sehingga, para generasi saat ini harus memelihara api solidaritas ini.

"Dan sekali lagi saya ulangi bahwa semangat Konferensi Asia yang kita kenal dengan Dasasila Bandung itu masih dan sangat relevan untuk sekarang ini," kata dia.

2. Masyarakat harus terus menggaungkan Dasasila Bandung

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung (dok. Museum of The Asian-African Conference)
Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung (dok. Museum of The Asian-African Conference)

Mantan Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika (2019-2025) itu juga mengajak agar semua pihak ikut mensosialisasikan dan menggaungkan Dasasila Bandung ini, tidak harus menunggu dari pemerintah saja.

"Tidak hanya pemerintah, tidak hanya government, tidak hanya Presiden, tidak hanya Perdana Menteri atau Menteri, tetapi masyarakat. Nah, di sini kita mengenal istilah people-to-people cooperation, yaitu kerja sama antarmasyarakat, yang di dalam bahasa diplomasi kita menyebutnya adalah public diplomacy," tutur dia.

Berdasarkan pengalaman sebagai duta besar, Busyra menilai peranan masyarakat bisa mencapai 70 persen kesuksesannya untuk public diplomacy. Sementara, pemerintah hanya melakukan 30 persen di dunia diplomasi publik ini.

"Lalu siapa sebetulnya aktor yang melakukan diplomasi publik itu? Termasuk Semangat Dasasila Bandung KAA ini, yaitu kalangan masyarakat. Yang pertama akademisi, mahasiswa," kata dia.

"Kemudian pengusaha, seniman, dan termasuk tentunya juga wartawan media, media pers. Ini sangat berperan penting dalam melakukan kegiatan diplomasi publik," ucapnya.

3. Seminar nasional medium menyebar luaskan nilai Dasasila Bandung

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung (dok. Museum of The Asian-African Conference)
Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung (dok. Museum of The Asian-African Conference)

Sebagai informasi, Seminar dengan tema Revitalizing the Spirit of Bandung and Pancasila to Enhance Global People-to-People Cooperation ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-71 Konfererisi Asia Alrika (KAA), Hari Lahir Pancasila dan Ulang Tahun Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok.

PPIT adalah perhimpunan persahabatan kedua negara yang didirikan 1 Juni 1955. Pada acara pembukaan hadir sebagai pembicara Al Busyra Basnur, Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT); Fekadu Beyene Aleka, Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia; dan Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Rektor Universitas Padjadjaran.

Sementara pidato kunci disampaikan oleh Heru Hartanto Subolo, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI. Pembicara pada sesi diskusi panel adalah Febrian Irawati Mamesah, Direktur Kerja Sama Intra-Regional dan Inter-Regional untuk Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri.

Kemudian Duta Besar Dr. Mohamad Hery Saripudin, Duta Besar Indonesia untuk Kenya, Uganda, Somalia, Republik Demokratik Kongo (DRC), UNEP, UN Habitat, di Nairobi (2020-2025); dan Dr. Iman G. Lanti, Direktur Eksekutif, Pusat Penelitian Pembangunan Perdamaian dan Global Selatan, Universitas Padjadjaran. Sementara itu moderator adalah Muhammad Fikry Anshory.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More