Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dokter di Cianjur Meninggal Diduga Campak, KDM Minta Ditelusuri

Dokter di Cianjur Meninggal Diduga Campak, KDM Minta Ditelusuri
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memerintahkan investigasi atas meninggalnya dokter magang di Cianjur yang diduga terinfeksi campak saat bertugas, serta mengimbau kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit tersebut.
  • Kemenkes mencatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota hingga pekan ke-11 tahun 2026 dan menindaklanjuti dengan program imunisasi ORI serta Catch-Up Campaign untuk anak usia 9–59 bulan.
  • Dinas Kesehatan Jabar mempercepat pemetaan dan pelaksanaan imunisasi massal di wilayah dengan lonjakan kasus seperti Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur guna menekan penyebaran campak akibat rendahnya tingkat vaksinasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM memerintahkan Dinas Kesehatan dan juga perangkat kesehatan lainnya turut menelusuri kasus dokter magang meninggal karena diduga terkena penyakit campak saat bertugas di Cianjur.

Dedi pun turut menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa yang menimpa AMW (26 tahun) yang meninggal dunia dengan status suspek campak dengan pneumonia pada Kamis (26/3/2026).

"Saya sampaikan duka mendalam, itu pengabdian tertinggi dari seorang dokter, meninggal di tempat ketika sedang bertugas," ujarnya di Gedung Sate, Senin (30/3/2026).

1. Campak di Cianjur harus segera ditangani

IMG-20251218-WA0046.jpg
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dedi mengimbau agar masyarakat semakin waspada akan bahaya campak setelah munculnya peristiwa ini. Pihak terkait juga harus segera melakukan penanganan KLB campak agar kasusnya bisa ditekan dan tidak membuat adanya korban lainnya.

"Penyakitnya harus segera ditangani dan diawaspadai, apalagi bupatinya seorang dokter," tambahnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 untuk rumah sakit agar waspada penyakit campak, khususnya bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.

Kemenkes mencatat hingga pekan ke-11 2026, tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota. Pada awal tahun, kasus sempat alami lonjakan hingga 2.740 kasus, namun terjadi tren penurunan menjadi 177 kasus.

2. Dinkes minta segera dilakukan pemetaan

Seorang perawat merawat anak yang sedang sakit campak.
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)

Kemenkes merespons kondisi tersebut dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) serta Catch-Up Campaign (CUC) Campak di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.

ORI merupakan imunisasi massal darurat untuk menghentikan penyebaran wabah. Sementara, CUC adalah imunisasi yang bertujuan untuk melengkapi status imunisasi yang belum lengkap.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat R. VIni Adiani Dewi mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan Kadinkes kabupaten/ kota di Jawa Barat, khususunya di wilayah dengan kejadian campak cukup banyak.

"Kemarin sudah rapat dengan semua Kepala Dinas Kesehatan, saya menyampaikan bahwa harus cepat dilakukan pemetaan, jadi ketika kasusnya meningkat, harus langsung dilakukan CUC bagi orang-orang yang belum diimunisasi campak. Tapi kalau kasusnya banyak itu dilakukan namanya ORI," jelasnya ditemui di Gedung Sate.

3. Pemprov Jabar kejar imunisasi campak anak

ilustrasi campak (drugtopics.com)
ilustrasi campak (drugtopics.com)

Vini menyebutkan kegiatan itu kini sedang berlangsung di seluruh kecamatan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya karena adanya peningkatan kasus campak. Sementara wilayah lainnya dilalukan CUC dan ORI berdasarkan temuan kasus per kecamatan, seperti di Cianjur. Kegiatan CUC dan ORI juga segera menyasar 10 kabupaten dan kota lainnya di Jabar secara menyeluruh.

Kegiatan imunisasi campak masal secara nasional terakhir dilakukan pada 2022. Selanjutnya, Pemprov Jabar terus melakukan vaksinasi rutin setiap tahun dengan menyasar balita hingga anak dibawah usai 14 tahun.

"Yang belum akan kita kejar imunisasinya karena sekitar 102.000 anak, data hinggga 2025, yang belum diimunisasi secara lengkap. Untuk orang dewasa diharapkan secara mandiri," tambahnya.

Vini berharap masyarakat tidak anti terhadap imunisasi dan vaksinasi campak agar KLB campak tidak lagi terjadi kemudian hari. Menurut ia, wilayah Garut dan Tasikmalaya mengalami kasus campak cukup banyak karena tingkat vaksinasinya yang masih rendah.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More