Libur Lebaran 2026: Tingkat Lama Tinggal Wisatawan di Jabar Menurun

- Tingkat okupansi hotel di Jawa Barat selama libur Lebaran 2026 masih rendah, mayoritas di bawah 80 persen meski kunjungan wisatawan meningkat dibanding tahun sebelumnya.
- Pemerintah Provinsi Jabar mencatat lama tinggal wisatawan hanya sekitar 1,4 hari karena persebaran hotel belum merata dan infrastruktur memudahkan perjalanan tanpa perlu menginap.
- PHRI Jabar menyebut peningkatan okupansi tidak signifikan di berbagai daerah seperti Bandung, Bogor, dan Cirebon, dipengaruhi faktor ekonomi serta daya tarik wisata yang kurang kuat.
Bandung, IDN Times - Pengusaha hotel di Jawa Barat turut mengeluhkan belum adanya peningkatan tingkat keterisian atau okupansi kamar dalam momentum libur lebaran. Pada periode 17-25 Maret 2026 keterisian kamar hotel di beberapa wilayah Jabar masih lesu di bawah 80 persen.
Sementara, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat memastikan pada libur lebaran tahun ini ada peningkatan kunjungan dibandingkan 2025. Hanya saja, tingkat wisatawan tinggal di Jabar dikaji pemerintah provinsi masih minim, bahkan cenderung menurun.
Kepala Disparbud Jabar, Iendra Sofyan mengatakan, ada banyak faktor yang membuat para wisatawan tidak tinggal lebih lama saat berwisata di Jawa Barat, salah satunya belum meratanya perhotelan yang ada di objek-objek wisata.
"Ya, yang pertama memang hotel di Jawa Barat ini tidak merata ya, masih tertumpu di wilayah kota. Yang kedua lenght of stay atau lama tinggal tahun 2025 memang kita hanya mencapai 1,4 hari, artinya (hanya) satu malam," ujar Iendra saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (30/3/2026).
1. Infrastruktur baik disebut jadi faktor wisatawan lama tinggal

Menurutnya, para wisatawan yang datang ke Jabar pada tahun ini memang banyak menggunakan kendaraan pribadi dengan kondisi infrastruktur yang sudah baik, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya hanya berkunjung tidak menginap di hotel.
"Ini dampak dari infrastruktur yang lebih baik gitu ya jadi dari Cisumdawu cuman satu jam setengah ke Cirebon, langsung dan segala macam. Tapi sisi lain evaluasi buat kita harus terus meningkatkan daya tarik supaya mereka mau tinggal lebih lama di sini," katanya.
Meski begitu, Iendra menyampaikan, berdasarkan catatannya okupansi hotel saat ini cenderung lebih baik. Hanya saja dia menilai kurang menarik para wisatawan bisa menginap saat ke tempat wisata.
"Kalau masalah hotel saya pikir sudah cukup baik di kita dari mulai melatih sampai kepada bintang. Artinya pelayanannya sudah cukup baik, namun sekali lagi daya tariknya ini (yang menjadi masalah)," ucapnya.
2. Kenyamanan juga membuat para wisatawan tidak menetap lama

Di sisi lain, Iendra turut menyinggung mengenai pengaturan lalu lintas dan juga kebersihan lingkungan yang banyak membuat para wisatawan tidak tinggal lama. Misalnya, soal sampah dan juga kemacetan yang dinilai dapat mengurangi minat wisatawan tinggal.
"Nah, yang kedua selain daya tarik adalah dukungannya yaitu masalah kemacetan, kemudian masalah sampah terutama di kota-kota seperti Kota Bandung. Itu juga harus menjadi perbaikan ke depan supaya mereka lebih lama tinggal di kita," tuturnya.
3. Bandung masih banyak jadi tujuan wisatawan saat libur Lebaran 2026

Mengenai okupansi, Iendra mengakui memang ada penurunan jika dibandingkan pada 2024 yang mana di tahun tersebut hingga 2025 penurunan sampai 2,5 persen. Sementara pada tahun ini penurunan terjadi hingga 1,4 persen.
Selama libur lebaran, Iendra mengatakan, para wisatawan banyak datang ke wilayah Bandung, Bogor serta Kabupaten Pangandaran yang mana banyak objek wisata pantai di daerah tersebut.
"Lebaran masih pertama adalah Metro Bandung sudah pasti, yang kedua adalah Bogor yang ketiga bukan kawasan tetapi titik satu kabupaten itu Pangandaran," kata dia.
Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat sebelumnya turut mengeluhkan kondisi okupansi hotel selama libur Lebaran 2026, karena tingkat penghunian kamar hotel dari 17-25 Maret 2025 mayoritas masih di bawah 50 persen.
Seperti di Kota Bandung, dari 19 persen di awal meningkat hingga 52 persen saja. Cirebon dari 25 persen menjadi 70 persen, Bogor yang awalnya 18 persen menjadi 48 persen.
Di wilayah Sukabumi pada 17 Maret 2026 ada 22 persen keterisian kamar hotel, di akhir masa libur lebaran 25 Maret 2026 menjadi 39 persen. Kabupaten Pangandaran dari 10 persen menjadi 62 persen, dan Karawang 68 persen naik 73 persen, wilayah Garut dari 33 persen naik 65 persen.
Ketua BPD PHRI Jabar, Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan, peningkatan okupansi memang terjadi namun tidak signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat.
"Cirebon, Bogor, Bandung, Sukabumi. Nah, itu perwakilan-perwakilan di wilayah itu, (peningkatan) tidak jauh berbeda (dengan sebelumnya) yang di daerah lain lebih sepi dari itu," ujar Dodi saat dikonfirmasi, Sabtu (28/3/2026).
Berdasarkan data yang didapatkan PHRI Jabar, mayoritas hotel wilayah Jawa Barat memang belum mencatat adanya peningkatan keterisian kamar selama 17-25 Maret 2026. Termasuk Bandung yang digadang-gadang akan mendapatkan banyak wisatawan ternyata tidak berdampak signifikan ke sektor perhotelan.
"Semuanya hampir sama; tidak berbeda jauh. Bandung saja yang dianggap wilayah ramainya, kami lihat di tanggal 24, 25, 27, itu ini kesannya turun lagi," katanya.
Disinggung mengenai faktor yang membuat wisatawan datang namun tidak menginap, menurut Dodi dilandasi oleh bermacam penyebab salah satunya kondisi ekonomi pemerintah saat ini.
"Saya tidak bisa ngomong kan dari dulu akibat daripada efisiensi pemerintah. Kan semua sekarang daerah dipotong, efisiensi 40 persen. Kemudian semua kementerian dipotong. Nah, akibat dipotong itu ya akhirnya sekarang terjadi penurunan," kata dia.

















