Mahkota Binokasih Mau Dikaji Ilmiah, Dedi: Jangan Dianggap Mistis

- Pemerintah Jawa Barat mendorong kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih agar masyarakat memahami nilai sejarahnya, bukan sekadar memandangnya sebagai benda mistis.
- Gubernur Dedi Mulyadi menilai hasil kajian dapat menjadi dasar pengembangan tata ruang, pendidikan, hingga kesehatan di Jabar, menghubungkan warisan sejarah dengan pembangunan masa depan.
- Para ahli menjelaskan Mahkota Binokasih mencerminkan konsep Kosmologi Tritangtu dalam budaya Sunda, menggambarkan peran Rama, Ratu/Prabu, dan Resi sebagai simbol kebijaksanaan serta kepemimpinan kerajaan.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menilai kajian akademik penting untuk mengubah cara pandang masyarakat dari mistis menjadi pemahaman sejarah.
Menurutnya, dengan dilakukannya kajian akademik nantinya masyarakat tidak lagi menganggap dua benda tersebut sebagai mistis, melainkan memiliki dasar kebudayaan yang kuat.
"Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama," ucap Dedi, Sabtu (16/5/2026).
1. Naskah akademik jadi landasan asal usul benda sejarah kerajaan Sunda tersebut

Apalagi, kata Dedi, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang terbukti dengan adanya Prasasti Batutulis. Sehingga, hal tersebut harus dijelaskan secara komprehensif melalui pendekatan akademik.
Selanjutnya, naskah akademik itu juga dapat menjadi landasan pembuatan tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, dan tata kelola kesehatan di Jawa Barat. Dengan begitu, ada kesatuan antara sejarah masa lalu dengan masa depan.
Menurut Dedi, Prasasti Batutulis yang berada di wilayah Kota Bogor tidak sekadar peninggalan sejarah. Lebih dari itu, tersimpan fakta besar yang menceritakan kejayaan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
2. Mahkota Binokasih dibuat dibuat Kerajaan Galuh

Titi Surti Nastiti selaku Ahli Epigrafi, menyampaikan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk memperingati jasa pendahulunya yakni Prabu Siliwangi (1482-1521) yang dianggap berjasa memperbaiki penataan di Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibukota Kerajaan Sunda.
Namun, setelah melewati abad demi abad, Kerajaan Sunda yang dulu berjaya tak banyak menampakkan sisa-sisa peninggalannya. Beberapa faktor menjadi penyebab, salah satunya pengaruh kerajaan Islam yang begitu kuat di sebagian besar wilayah Pulau Jawa.
Meski demikian, ada satu artefak yang dianggap menggambarkan kemegahan Kerajaan Sunda di masa lampau. Artefak tersebut adalah Mahkota Binokasih yang disimpan secara turun temurun di Keraton Sumedang Larang.
Menurut naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh dengan tujuan sebagai simbol kekuasaan serta legitimasi bagi raja-raja Sunda. Namun ketika Kerajaan Sunda runtuh, Mahkota Binokasih diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.
3. Mahkota Binokasih tidak bisa terpisahkan dari budaya Sunda

Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian menganalisa bahwa Mahkota Binokasih mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan budaya masyarakat Sunda yaitu Kosmologi Tritangtu. Itu merupakan konsep kehidupan yang terbagi ke dalam tiga unsur yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam.
Harry menambahkan, Mahkota Binokasih didesain sedemikian rupa hingga memiliki komponen yang mewakili tiga peranan di Kerajaan Sunda yaitu Rama, Ratu/Prabu, dan Resi.
Menurut penjelasannya, Rama adalah kelompok pemimpin spiritual atau rohaniawan yang menjaga nilai-nilai adat, agama, dan juga kebijaksanaan. Posisinya ada di bagian atas mahkota, berbentuk stupa dengan ornamen yang didominasi bunga teratai.
Desain tersebut melambangkan karakteristik kepemimpinan seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan memancarkan keindahan sekaligus manfaat bagi orang lain.
Di bagian tengah mahkota (ratu/prabu) melambangkan kesempurnaan tindakan pemimpin dalam mengambil keputusan dan merumuskan peraturan-peraturan.
Terdapat desain daun segitiga pada sisi-sisi mahkota bagian tengah, serta ornamen Garuda Mungkur di bagian belakangnya. Hal tersebut dimaknai bahwa seorang pemimpin harus mampu melindungi masyarakatnya dengan keberanian dan sifat kesatria.
Untuk bagian bawah (resi), desain mahkota memiliki makna terkait ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati. Nama tersebut merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Sunda yang memerintah di masa Kerajaan Sunda-Galuh sekitar abad ke-14. Ia dikenal sebagai pemimpin bijaksana yang memperkuat nilai budaya, spiritualitas, serta tata kehidupan masyarakat.
Sesuai dengan pembagian peranannya, resi memang terdiri dari kelompok kaum intelektual, penasehat, atau orang bijak yang memberi ilmu dan pertimbangan.
Melihat nilainya yang sangat besar, tak heran Mahkota Binokasih disimpan rapat-rapat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun dalam rangka Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa ke beberapa kabupaten/kota sebagai perwujudan napak tilas Pajajaran. Hal ini tentunya jadi momentum bagi masyarakat untuk bisa mengenali lebih dalam sejarah Kerajaan Sunda.












![[QUIZ] Bayar Pajak Kendaraan Kini Bisa Lewat WhatsApp. Kamu Tim Setuju atau Ribet?](https://image.idntimes.com/post/20250401/whatsapp-image-2025-04-01-at-114016-acf4e7c647ce84dceac623e1ba7b3cfe.jpeg)



![[QUIZ] Setujukah Kamu, Sekolah Maung Jabar Terima Siswa Berprestasi?](https://image.idntimes.com/post/20230908/pexels-emily-ranquist-1205651-511d65780e8dbe0c76295579fde633ca-648b8335988d43a11a46690c62906f75.jpg)

