Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Susul Pangandaran, Wisatawan Lebih Banyak Main ke Masjid Al-Jabbar

Susul Pangandaran, Wisatawan Lebih Banyak Main ke Masjid Al-Jabbar
ilustrasi Masjid AL-Jabbar (aljabbar.jabarprov.go.id)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Selama libur Idulfitri 2026, Masjid Raya Al-Jabbar di Bandung mencatat 300.000 pengunjung, melampaui Pantai Pangandaran yang menerima sekitar 263.000 wisatawan.
  • Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan menjelaskan lonjakan kunjungan ke Masjid Al-Jabbar dipengaruhi momen Ramadan dan Idulfitri yang membuat wisata religi lebih diminati.
  • Iendra menyoroti pentingnya metode perhitungan dan pelaporan data pengunjung oleh pengelola destinasi, serta perlunya pembatasan kapasitas di kawasan seperti Pangandaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Pola wisatawan di Jawa Barat selama periode libur Idulfitri 2026 mengalami perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat mencatat wisatawan lebih banyak mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung, dibandingkan ke pantai wilayah Kabupaten Pangandaran.

Selama periode libur Lebaran dari 17-25 Maret 2026, kunjungan Masjid Al-Jabal mencapai 300.000 orang, sedangkan Pantai Pengandaran 263.000 orang, juga Pantai Batu Karas itu 99.000 orang.

Meski begitu, Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan mengatakan, jumlah ini didapatkan berdasarkan laporan dari pengelola, dan bisa jadi ada perbedaan perhitungan. Namun, untuk saat ini Masjid Al-Jabbar dipastikan lebih banyak dikunjungi di periode libur Lebaran 2026.

"Ya itu memang ada faktor tadi metode perhitungannya yang kedua keaktifan dari melapornya. (Itikaf) juga dan ngabuburit juga memengaruhi, kan sudah mulai libur tuh," ujar Iendra saat ditemui di Gedung Sate, Senin (30/3/2026).

1. Selama Ramadan dan Idulfitri tempat spiritual lebih banyak didatangi

Masjid Al-Jabbar, Bandung (dok. pribadi/Fatma Roisatin N.)
Masjid Al-Jabbar, Bandung (dok. pribadi/Fatma Roisatin N.)

Iendra menuturkan, momentum Ramadan dan Idulfitri ini memang tujuan wisatawan banyak ke tempat yang menonjolkan spiritual. Sehingga, Iendra pun tidak heran jika Masjid Al-Jabbar paling tinggi dikunjungi para wisatawan.

"Kami akui kalau liburan ritual seperti ini catatan yang kami dapat memang paling banyak di Masjid Al-Jabbar. Jadi sepulih hari karena memang sebelum lebaran sedikit yang wisata, tapi satu hari sebelum lebaran itu sudah mulai banyak," kata dia.

"Puncaknya adalah hari ketiga jadi grafik kita tuh di hari ketiga baik hotel maupun tempat wisata itu paling banyak," ucapnya.

2. Pendapatan wisatawan Masjid Al-Jabbar lebih baik

IMG-20260330-WA0051.jpg
Kepala Disparbud Jabar, Iendra Sofyan (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Iendra memastikan, banyaknya wisatawan yang datang ke Masjid Al-Jabbar telah berdasarkan data yang masuk dari pengelola. Menurutnya, kunjungan wisatawan di 249 destinasi wisata lain di kabupaten dan kota wilayah Jabar bisa jadi lebih tinggi jika benar menghitung pengunjungnya.

"Masalah data ini memang banyak faktor yang pertama adalah kesiapan dari metodenya mereka menghitung, sebetulnya kan mudah dengan tiket hanya mereka itu memang dibedakan antara yang berkunjung dengan menghitung pajak," katanya.

Iendra menambahkan, peran pengurus objek wisata dalam menghitung jumlah wisatawan juga turut menjadi faktor. Masjid Al-Jabbar, kata dia, lebih baik dalam hal menghitung jumlah pengunjung.

"Yang kedua adalah namanya keaktifan dari para pengelola untuk menyampaikan, itu tiap hari kita dorong dan saya pikir Al-Jabbar counting-nya kan dengan metode sensor sehingga mereka lebih canggih," kata dia.

3. Pangandaran bisa terdata lebih banyak dikunjungi jika pendataannya benar

IMG-20260330-WA0048.jpg
Kepala Disparbud Jabar, Iendra Sofyan (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Kendati demikian, para pengelola wisata juga harus memperhitungkan jumlah pengunjung yang masuk dengan kapasitas agar tidak terjadi kepadatan. Seperti di wilayah Kabupaten Pangandaran yang mana harus dilakukan pembatasan untuk menyesuaikan pengawasan.

"Pangandaran saya yakin anggaplah itu 70 persen data yang masuk, tapi saya kira sudah mewakili. Bahkan sebetulnya kalau 100 persen itu yang kami khawatirkan, itu polanya disebut denga caring capacity. Jadi kami harus peduli dengan kapasitas yang ada," ujar Iendra.

"Nah, kayak Pangandaran sebetulnya harusnya mah ditahan jangan terlalu banyak . Nah, ini kan dampaknya tidak hanya mau buat wisatawan, yang kedua buat pengawas juga pusing," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More