Dinkes Cianjur Lakukan Tracing usai Dokter Muda Meninggal Diduga Campak

- Dinkes Cianjur melakukan tracing dan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga serta kontak erat dokter muda AMW yang meninggal diduga akibat campak.
- Penyebab kematian belum dipastikan karena masih menunggu hasil laboratorium, sementara Kemenkes menurunkan tim epidemiologi untuk menyelidiki sumber penularan.
- AMW sempat dirawat intensif di RSUD Cimacan sebelum meninggal, dan masyarakat diimbau melengkapi imunisasi sebagai perlindungan efektif dari campak.
Cianjur, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur langsung melakukan penelusuran kontak erat setelah meninggalnya AMW (26), dokter muda yang diduga terpapar suspek campak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan orang-orang yang sempat berinteraksi dengan almarhum tetap terpantau.
Kepala Dinkes Cianjur, Made Setiawan, mengatakan pemeriksaan kesehatan sudah dilakukan terhadap keluarga dan kerabat dekat yang sempat kontak langsung.
“Kami telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan penelusuran terhadap keluarga dan orang yang kontak langsung guna memastikan kondisi kesehatan mereka, termasuk memberikan suplemen vitamin,” ujar Made, Senin (30/3/2026).
1. Penyebab kematian belum dapat dipastikan

Meski demikian, Made belum dapat memastikan penyebab pasti kematian. Made menyebut pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel serum darah dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat di Bandung.
“Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena masih menunggu hasil lab. Jika sudah keluar, baru bisa kita pastikan penyebab meninggalnya dr. AMW,” tambahnya.
Almarhum diketahui merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI) yang baru menjalani tugas sebagai dokter internship di RSUD Pagelaran selama satu bulan terakhir.
2. Investigasi libatkan Kemenkes

Kasus ini turut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Tim Penyelidikan Epidemiologi (PE) telah diterjunkan guna menelusuri kemungkinan sumber penularan serta menilai tingkat risiko di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, pasien sempat mengalami gejala klinis berupa demam, muncul ruam merah, hingga sesak napas berat akibat komplikasi pneumonia.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan duka cita atas wafatnya tenaga medis tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak.
“Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau terinfeksi campak tetap memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius hingga berakibat fatal,” jelasnya.
3. Sempat masuk ICU sebelum meninggal

Sementara itu, pihak RSUD Cimacan disebut telah memberikan penanganan medis maksimal sesuai prosedur pada 26 Maret lalu sebelum pasien dinyatakan meninggal dunia. Ia sempat dirawat di IGD rumah sakit hingga masuk ICU, namun sayangnya dokter tersebut tak dapat diselamatkan.
Hingga kini, tim kesehatan masih terus memantau perkembangan di lapangan. Masyarakat juga diimbau untuk melengkapi imunisasi sebagai langkah perlindungan paling efektif terhadap penularan campak.


















