Harga Daging Sapi Naik, Pemkot Bandung Siapkan Pasokan Daging Beku

- Harga daging sapi di Bandung naik akibat lonjakan harga bibit impor dan pakan ternak, sementara pasokan lokal hanya mencukupi sekitar dua persen kebutuhan kota.
- Pemkot Bandung menyiapkan distribusi daging beku melalui pasar modern serta berkoordinasi dengan seluruh rantai pasok untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga.
- Pemerintah meminta pedagang tetap berjualan agar warga tidak panik, sambil memastikan stok daging segar dan beku cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bandung, IDN Times - Kenaikan harga daging sapi mulai dirasakan di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung. Kondisi ini dipicu terganggunya rantai pasok mulai dari pengusaha penggemukan sapi, rumah pemotongan hewan (RPH), hingga pedagang pasar yang keberatan membeli karkas dengan harga tinggi.
Muhammad Farhan mengatakan pemerintah kini berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan agar masyarakat tidak panik. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membuka jalur distribusi daging beku melalui pasar modern untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Pemerintah akan berusaha melakukan pendekatan mulai dari importirnya, para pengusaha penggemukannya, para pengusaha pemotongan hewannya, sampai kepada para pedagang yang ada di pasar tradisional,” ujar Farhan, Senin (18/5/2026).
1. Harga sapi impor dan pakan ternak jadi pemicu utama

Farhan menjelaskan kenaikan harga daging sapi terjadi akibat naiknya harga bibit sapi impor dari Australia, India, dan Selandia Baru. Selain itu, harga pakan ternak juga ikut melonjak sehingga berdampak langsung pada biaya produksi.
“Pedagang merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh penyuplai daging di Kota Bandung,” kata Farhan.
Ia menyebut pasokan daging segar di Bandung masih sangat bergantung pada daerah lain. Hanya sekitar 2 persen yang berasal dari pasar lokal, sementara sisanya dipasok dari Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Di sisi lain, para pengusaha penggemukan sapi juga tengah fokus memastikan stok hewan kurban aman menjelang Iduladha. Kondisi itu membuat distribusi sapi potong untuk kebutuhan harian menjadi lebih terbatas.
2. Pemkot Bandung buka jalur daging beku untuk jaga pasokan

Farhan menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Pemkot Bandung saat ini melakukan pendekatan kepada seluruh rantai distribusi, mulai dari importir, pengusaha penggemukan sapi, rumah pemotongan hewan, hingga pedagang pasar tradisional.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan alternatif pasokan melalui impor daging beku yang akan disalurkan lewat pasar modern.
“Kebutuhan daging sapi sebetulnya bisa terpenuhi, tinggal masalah selera masyarakat,” ujarnya.
Menurut Farhan, sektor kuliner menjadi yang paling terdampak akibat kenaikan harga bahan baku. Ia mencontohkan harga daging memengaruhi kualitas bakso, sementara kenaikan gandum berdampak pada harga mie dan roti.
Tak hanya itu, kenaikan harga kedelai impor juga ikut memengaruhi produksi tahu dan tempe yang menjadi konsumsi harian masyarakat.
3. Pemkot minta pedagang tetap berjualan agar warga tidak panik

Farhan mengungkapkan tidak ada ancaman dari pedagang terkait aksi tidak berjualan pada 18-19 Mei 2026. Menurut dia, pedagang hanya mengimbau anggota asosiasi untuk sementara tidak berjualan sebagai bentuk protes terhadap harga yang tinggi.
Meski begitu, Pemkot Bandung meminta pedagang tetap membuka lapak dengan stok yang tersedia agar pasar tidak kosong total.
“Kalau pasar sampai nol, nanti kita khawatir masyarakat panik,” katanya.
Farhan memastikan masyarakat tidak perlu khawatir karena stok daging masih tersedia, termasuk melalui pasokan daging beku di pasar modern. Pemerintah saat ini juga terus berupaya menjaga kelancaran distribusi agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak turun drastis.


















