Pedagang Daging Sapi di Pasar Kosambi Mogok Berjualan

- Seluruh pedagang daging sapi di Pasar Kosambi Bandung mogok berjualan sebagai bentuk protes atas kenaikan harga yang tidak stabil, membuat kios-kios kosong dan aktivitas pasar menurun.
- Aksi mogok berdampak pada konsumen yang kesulitan mendapatkan daging sapi, sebagian pembeli beralih ke daging ayam karena harganya lebih terjangkau dan pasokan masih tersedia.
- Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menaikkan harga sapi impor dari Australia, memicu kenaikan harga domestik serta menunjukkan kerentanan ketahanan pangan hewani Indonesia terhadap gejolak eksternal.
Bandung, IDN Times - Seluruh pedagang daging sapi di Pasar Kosambi, Kota Bandung, memilih mogok berjualan, Senin (18/5/2026). Kios-kios yang selama ini ditempati pedagang tampak kosong dan tidak ada sisa-sisa potongan daging sapi hasil penjualan.
Kepala Unit Pasar Kosambi, Yayan Agustina Gunawan, menuturkan bahwa aksi yang dilakukan adalah bentuk protes karena ketidakstabilan terhadap harga jual daging sapi saat ini yang terus mengalami kenaikan.
"Kami kurang tahu (para pedagang sapi mogok). Kami tahunya mereka tidak jualan dari kemarin (Minggu). Katanya (dari informasi yang beredar) ada kenaikan harga dari sananya. Tapi itu juga belum pasti kebenarannya," kata Yayan.
1. Pembeli beralih cari daging ayam

Yayan mengatakan, mogoknya para pedagang sapi memberi dampak besar pada para konsumen yang selama ini membeli. Karena tidak ada pedagang berjualan sebagian pembeli ada yang mengurungkan niat belanja, ada juga yang kemudian beralih membeli daging ayam.
Menurutnya, harga daging ayam sendiri sekarang sedang turun seprti ayam broiler mencapai Rp38 ribu per kg. "Para pedagang daging sapi susah menaikkan harga, karena takut ditinggal oleh pelanggan. Untuk harganya Rp140 ribu sampai Rp160 ribu (per kilogram)," ucapnya.
2. Pembeli ingin daging sapi tetap ada

Salah seorang pembeli, Sutiah, menyebut mogoknya para pedagang daging sapi di Pasar Kosambi telah memberikan dampak. Dia merasa kesulitan mencari daging sapi di tempat lain karena biasanya membeli di pasar ini.
"Harusnyamah setiap hari ada. Sekarang kesulitan. Mahal juga gak apa-apa kalau ada mah,"ucapnya
Dia berharap persoalan kenaikan harga daging sapi di tingkat produsen termasuk penjual bisa turun sehingga konsumen di pasar tradisional bisa kembali mendapatkan daging sapi.
"Inginnya jangan naik terus-terusan karena kalau masyarakat inginnya sih daging ada terus, harga juga terjangaku," kata dia.
3. Pelemahan rupiah atas dolar AS buat harga impor sapi naik

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyebabkan harga sapi impor dari Australia menjadi naik. Belum lagi harga sapi di Australia sudah naik sejak akhir tahun 2025 lalu akibat meningkatnya persaingan ekspor Australia ke pasar global, hingga ketidakpastian geopolitik.
Kondisi ini menjadi alarm bagi ketahanan pangan hewani di Indonesia. Meskipun kondisi ini menguntungkan peternak lokal karena mendorong kenaikan harga sapi domestik, akan tetapi ketergantungan terhadap impor membuat harga daging sapi nasional tetap rentan terhadap gejolak eksternal.
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Panjono menyebut, kenaikan harga sapi impor memiliki dampak positif dari sisi peternak lokal, kondisi tersebut justru dapat memberikan keuntungan karena harga sapi domestik ikut terdorong naik.
“Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik,” ujarnya dikutip dari laman ugm.ac.id.
Namun, dari perspektif nasional, kata Panjono, kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan Indonesia khususnya untuk komoditas daging sapi masih rentan terhadap gejolak eksternal seperti nilai tukar rupiah, kondisi geopolitik, dan dinamika pasar global.
Menurutnya, apabila harga sapi impor terus tinggi, volume impor berpotensi menurun. Akibatnya, pemotongan sapi lokal akan meningkat untuk menutupi kebutuhan pasar. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan populasi sapi nasional.
“Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan,” jelasnya.


















