Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Muda Pergi, Kuningan Terjebak Siklus Desa Menua

Anak Muda Pergi, Kuningan Terjebak Siklus Desa Menua
Ilustrasi urbanisasi (Pexels.com/Tranmautritam)
Intinya Sih
  • Kabupaten Kuningan mencatat migrasi keluar tertinggi di Jawa Barat bagian timur, dengan 19,64% warganya menetap di daerah lain dan hanya 9,18% pendatang yang masuk.
  • Arus perpindahan penduduk Kuningan didominasi ke kota-kota urban seperti Cirebon yang menawarkan peluang ekonomi lebih besar, menunjukkan ketergantungan wilayah agraris pada pusat ekonomi.
  • Migrasi keluar usia produktif menyebabkan struktur penduduk Kuningan menua lebih cepat dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal akibat berkurangnya tenaga kerja muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kuningan, IDN Times- Kabupaten Kuningan mencatat migrasi keluar tertinggi di Jawa Barat bagian timur dalam hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.

Pada indikator migrasi seumur hidup antarkabupaten/kota, persentase warga Kuningan yang menetap di daerah lain mencapai 19,64%, hampir dua kali lipat dibanding penduduk luar yang menetap di Kuningan yang hanya 9,18%.

Pola ini menandakan kuatnya arus perpindahan permanen penduduk usia produktif dari wilayah berbasis pertanian tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan migrasi seumur hidup dalam SUPAS mengukur perbedaan kabupaten/kota tempat tinggal saat survei dengan tempat tinggal sebelumnya, dengan syarat sudah menetap minimal satu tahun.

"Indikator ini menunjukkan perpindahan yang cenderung permanen. Ketika persentase migrasi keluar jauh lebih besar dari migrasi masuk, itu mencerminkan daerah tersebut menjadi pengirim penduduk,” ujarnya dikutip Senin (18/5/2026).

Menurut dia, pola yang terlihat di Kuningan serupa dengan sejumlah kabupaten agraris lain di Jawa Barat, tetapi selisih angkanya tergolong tinggi di wilayah timur provinsi.

1. Defisit migrasi yang lebar

ilustrasi pekerja (freepik.com/aleksandarlittlewolf)
ilustrasi pekerja (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Data SUPAS 2025 menempatkan Kabupaten Kuningan sebagai salah satu kabupaten dengan defisit migrasi paling lebar. Selisih hampir 10 poin persentase antara migrasi keluar dan migrasi masuk memperlihatkan ketimpangan arus perpindahan penduduk.

Kondisi ini berbeda dengan kota-kota penyangga metropolitan yang justru mencatat migrasi masuk tinggi. Di Kuningan, arus perpindahan lebih banyak keluar, sementara daya tarik masuk relatif lemah.

"Ini bukan sekadar mobilitas harian atau komuter, tetapi perpindahan domisili yang menetap,” kata Margaretha.

Fenomena tersebut pun menunjukkan Kuningan belum menjadi tujuan baru bagi penduduk luar, sekaligus belum mampu menahan warganya untuk tetap tinggal.

2. Arus ke pusat urban

ilustrasi pekerja (freepik.com/tirachardz)
ilustrasi pekerja (freepik.com/tirachardz)

Secara regional, kata Margaretha, arus migrasi dari Kuningan cenderung mengarah ke pusat-pusat urban dan kawasan ekonomi yang lebih dinamis, seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, serta wilayah penyangga metropolitan di Jawa Barat.

Kota Cirebon, misalnya, mencatat migrasi masuk yang jauh lebih tinggi dibanding kabupaten-kabupaten sekitarnya.

Hal ini memperlihatkan peran kota tersebut sebagai simpul perdagangan, jasa, pendidikan, dan transportasi di Pantura timur yang menyedot perpindahan penduduk dari hinterland, termasuk Kuningan.

“Pola ini menggambarkan ketergantungan tenaga kerja dari wilayah agraris ke wilayah urban. Tenaga produktif bergerak ke tempat yang menyediakan lebih banyak peluang ekonomi,” ujar Margaretha.

3. Dampak pada struktur penduduk

ilustrasi pekerja shift malam (pexels.com/Kuan-yu Huang)
ilustrasi pekerja shift malam (pexels.com/Kuan-yu Huang)

Margaretha menyebutkan, migrasi keluar yang dominan berdampak langsung pada struktur demografi Kuningan. Ketika usia produktif lebih banyak pindah dan tidak kembali, komposisi penduduk di daerah asal berpotensi menua lebih cepat.

Kondisi tersebut, lanjut Margaretha, dapat memengaruhi dinamika ekonomi lokal. Pasar tenaga kerja menyempit, regenerasi pelaku usaha melemah, dan aktivitas ekonomi cenderung bertumpu pada kelompok usia yang lebih tua.

"Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah karena basis penduduk produktif berkurang,” katanya.

Margaretha menilai data ini penting sebagai dasar perencanaan pembangunan.

"Migrasi mencerminkan keputusan individu berdasarkan peluang ekonomi dan kualitas hidup. Ketika banyak yang pergi dan sedikit yang datang, itu sinyal yang perlu dibaca dalam perencanaan wilayah,” ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More