Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DLH Bandung Imbau Warga Waspadai Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Penampakan Gunung Anak Krakatau, Jumat (15/12/2023). (IDN Times/Istimewa).
  • Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau terdeteksi berdampak di Bandung, menurunkan kualitas udara sejak 6 September 2026 dan memicu penghentian sementara operasional Bandara Husein Sastranegara.
  • Pemantauan empat AQMS menunjukkan kualitas udara kategori sedang yang mengarah buruk; partikel PM10 dan terutama PM2,5 berisiko mengganggu pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.
  • DLH Bandung mengimbau warga memakai masker medis seperti N95, mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, serta terus memantau perkembangan kualitas udara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Abu dari Gunung Anak Krakatau sampai ke Bandung. Udara jadi tidak terlalu baik. Bandara Husein Sastranegara juga berhenti sebentar. Pak Darto dari DLH bilang debu kecil bisa masuk ke hidung dan paru-paru. Warga diminta pakai masker N95 dan jangan lama-lama di luar. DLH masih melihat keadaan udara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemantauan intensif melalui empat titik AQMS memberi Bandung dasar yang jelas untuk mengenali perubahan kualitas udara sejak dini. Di tengah sebaran abu vulkanik, imbauan penggunaan masker medis dan pengurangan aktivitas luar ruang menunjukkan adanya langkah perlindungan yang praktis, terutama bagi kelompok warga yang lebih rentan terhadap paparan partikel halus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai berdampak hingga Kota Bandung. Selain mengganggu aktivitas penerbangan dan memaksa Bandara Husein Sastranegara menghentikan sementara operasionalnya, abu vulkanik juga mulai memengaruhi kualitas udara yang dihirup warga sehari-hari.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat kualitas udara mengalami penurunan sejak Minggu (6/9/2026) pagi. Kondisi tersebut terpantau melalui alat pemantau kualitas udara yang tersebar di sejumlah titik di Kota Bandung.

1. Kualitas udara Bandung mulai mendekati kategori buruk

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto. (Dok. Humas Pemkot Bandung)

Kepala DLH Kota Bandung Darto mengatakan, hasil pemantauan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) menunjukkan kualitas udara Kota Bandung berada pada kategori sedang dan mengarah ke kondisi buruk. Perubahan tersebut mulai terlihat sejak pagi hari, bertepatan dengan terdeteksinya abu vulkanik di kawasan Bandara Husein.

Menurut Darto, meski DLH tidak melakukan pengukuran langsung terhadap persebaran abu vulkanik, data kualitas udara menunjukkan adanya penurunan yang signifikan dibanding kondisi normal. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa dampak erupsi Gunung Anak Krakatau telah mencapai wilayah Bandung.

"Hari ini kualitas udara kita sedang menjelang buruk. Dari tadi pagi sudah terlihat kuning," kata Darto.

DLH saat ini mengoperasikan empat titik AQMS di Kota Bandung untuk memantau kondisi udara secara berkala. Salah satu alat pemantauan berada di kawasan Ujungberung, sementara tiga lainnya tersebar di lokasi berbeda untuk memberikan gambaran kondisi udara secara menyeluruh.

2. Partikel abu vulkanik berpotensi mengganggu kesehatan

(Dok.Humas Pemkot Bandung)

Darto menjelaskan, abu vulkanik membawa partikel-partikel halus yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Partikel yang paling menjadi perhatian adalah PM10 dan PM2,5, yang sama-sama dapat masuk ke sistem pernapasan saat terhirup.

Partikel PM10 umumnya menyebabkan iritasi dan gangguan pada saluran pernapasan. Namun, PM2,5 memiliki risiko yang lebih besar karena ukurannya jauh lebih kecil sehingga dapat masuk lebih dalam ke paru-paru bahkan menembus aliran darah.

"Yang paling berbahaya itu PM2,5 karena bisa masuk ke peredaran darah," ujarnya.

Paparan partikel tersebut berpotensi menimbulkan dampak lebih serius bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh kondisi yang sedang terjadi meskipun abu vulkanik tidak selalu terlihat jelas secara kasat mata.

3. DLH imbau warga gunakan masker saat beraktivitas

(Dok.Humas Pemkot Bandung)

Sebagai langkah antisipasi, DLH meminta masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dinilai menjadi perlindungan paling sederhana untuk mengurangi paparan partikel halus yang saat ini berada di udara.

Darto menyarankan warga menggunakan masker medis seperti N95 karena memiliki kemampuan penyaringan yang lebih baik dibanding masker biasa. Langkah tersebut dinilai penting, terutama bagi warga yang harus beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.

"Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker medis agar bisa menangkal dampak PM10 maupun PM2,5," katanya.

Selain memakai masker, masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak hingga kondisi kualitas udara kembali membaik. Sementara itu, DLH memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan secara intensif untuk memantau perkembangan dampak abu vulkanik terhadap lingkungan Kota Bandung.

Menurut Darto, fenomena alam ini tidak hanya berdampak pada sektor penerbangan, tetapi juga perlu menjadi perhatian masyarakat karena berpotensi memengaruhi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Karena itu, kewaspadaan dan langkah pencegahan sederhana menjadi penting selama sebaran abu vulkanik masih terdeteksi di wilayah Bandung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article