Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dedi Mulyadi: Jalan Diponegoro Gedung Sate Tak Ditutup Tapi Dialihkan
(Istimewa)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Jalan Diponegoro tidak ditutup, melainkan dialihkan arusnya ke arah Jalan Suci dalam rencana penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
  • Petisi penolakan proyek senilai Rp15,82 miliar ini telah ditandatangani lebih dari 1.400 orang karena dinilai melanggar RTRW dan RDTR Kota Bandung serta mengabaikan hak publik atas jalan.
  • Dedi menjelaskan tujuan revitalisasi untuk memperluas ruang terbuka, menyatukan kawasan Gedung Sate–Gasibu, serta mengurangi kemacetan yang sering terjadi saat aksi demonstrasi di sekitar lokasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
APBD 2026

Anggaran penataan halaman Gedung Sate tercantum dalam APBD 2026 dengan nilai total Rp15,82 miliar di bawah Biro Umum Pemprov Jabar.

20 April 2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Jalan Diponegoro tidak ditutup, melainkan dialihkan arusnya ke arah Jalan Suci. Ia menjelaskan pengalihan dilakukan setelah penataan kawasan selesai dan jalan baru dibangun.

kini

Petisi penolakan rencana penyatuan Lapangan Gasibu dan Gedung Sate telah ditandatangani sekitar 1.433 orang, sementara proyek penataan masih menuai pro dan kontra di masyarakat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat merencanakan penataan kawasan Gedung Sate dengan menyatukan Lapangan Gasibu, termasuk pengalihan arus Jalan Diponegoro tanpa penutupan total jalur tersebut.
  • Who?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan rencana ini, sementara masyarakat yang dipimpin Ricky N Sas membuat petisi penolakan yang telah ditandatangani lebih dari seribu orang.
  • Where?
    Kegiatan dan rencana penataan berlangsung di kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, Kota Bandung, mencakup ruas Jalan Diponegoro sepanjang sekitar 130 meter.
  • When?
    Pernyataan Dedi Mulyadi disampaikan pada Senin, 20 April 2026. Anggaran proyek tercatat dalam APBD tahun 2026 melalui Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP).
  • Why?
    Penataan dilakukan untuk memperluas ruang terbuka, memperbaiki akses kawasan Gedung Sate, serta mengurangi kemacetan yang sering terjadi saat kegiatan besar atau unjuk rasa berlangsung.
  • How?
    Arus kendaraan Jalan Diponegoro akan dialihkan memutar ke arah Jalan Surapati–Cicaheum (Suci). Selama proses revitalisasi jalan tetap dibuka hingga pembangunan selesai dan pengalihan diberlakukan bertahap.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada rencana buat bikin halaman Gedung Sate jadi lebih besar dan nyatu sama Lapangan Gasibu. Banyak orang nggak setuju karena takut jalannya ditutup. Tapi Pak Dedi Mulyadi bilang Jalan Diponegoro nggak ditutup, cuma nanti mobilnya muter aja. Sekarang jalannya masih bisa dilewati, nanti baru dialihkan kalau bangunannya sudah jadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Dedi Mulyadi menunjukkan upaya pemerintah untuk menenangkan kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa Jalan Diponegoro tidak akan ditutup, melainkan dialihkan secara terencana. Langkah ini mencerminkan komitmen menjaga akses masyarakat sambil memperindah kawasan Gedung Sate dan Gasibu agar lebih tertata, nyaman, serta bebas dari kemacetan saat kegiatan besar berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Rencana pelebaran Gedung Sate dengan menyatukan Lapangan Gasibu masih menjadi pro dan kontra. Saat ini muncul petisi penolakan rencana Pemerintah Provinsi itu yang dinilai telah merampas hak penggunaan jalan.

Diketahui, diantara Lapangan Gasibu dan Gedung Sate ini terdapat sebagian Jalan Diponegoro kurang lebih 130 meter. Berdasarkan desain yang berbedar nantinya jalan tersebut akan ditutup, aksesnya kemudian dialihkan melingkar ke Jalan Surapati-Cicaheum (Suci).

Petisi tersebut dibuat oleh masyarakat atas nama Ricky N Sas, dan sampai sore ini sudah ditandatangani sekitar 1.433 orang. Dalam narasinya, sang pembuat petisi ini menganggap rencan penggabungan itu telah melanggar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung.

Kemudian, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang diabaikan. Dia juga mempertanyakan sikap Pemkot Bandung yang tidak mempersoalkan hal tersebut.

1. Dedi Mulyadi sebut jalan hanya dialihkan

(Istimewa)

Menanggapi petisi penolakan ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, Jalan Diponegoro masih tetap dibuka untuk umum dan tetap bisa dilalui oleh masyarakat seperti sebelumnya.

"Saya bilang, sampai hari ini Jalan Diponegoro tidak ditutup," kata Dedi ditemui di Kabupaten Bandung, Senin (20/4/2026).

Hanya saja, Dedi menggunakan diksi Jalan Diponegoro dialihkan arus kendaraannya memutar ke arah Jalan Suci, bukan ditutup dan tidak bisa dilalui.

"Tidak ada penutupan Jalan Diponegoro, yang ada adalah pengalihan ruas Jalan Diponegoro yang asalnya membelah antara Gasibu dan Gedung Sate itu melingkar menjadi muter. Gak ada penutupan," jelasnya.

2. Sampai saat ini Jalan Diponegoro tetap bisa dilalui

Suasana pembangunan Plaza Gedung Sate (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dedi memastikan, selama proses revitalisasi, Jalan Diponegoro masih bisa dilintasi pengguna kendaraan. Namun, untuk nantinya pengalihan arus akan mulai dilakukan apabila penataan kawasan sudah selesai.

"Jadi selama jalannya belum dibangun tidak akan kami tutup. Nanti setelah dibangun, nyaman, baru kami alihkan," kata dia.

Sebelumnya, Dedi mengatakan, konsep penataan halaman Gedung Sate ini bertujuan memperbaiki akses sekaligus mengatasi persoalan kemacetan yang kerap terjadi saat ada aktivitas besar di kawasan tersebut, termasuk aksi unjuk rasa.

"Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan?" Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate-nya terbangun dengan baik. Saya begini deh, bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi," katanya.

Menurut Dedi, selama ini penutupan Jalan Diponegoro saat aksi demonstrasi menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Kota Bandung.

"Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah," katanya.

3. Proyek ini menelan anggaran Rp15,82 miliar

(Istimewa)

Kondisi yang sering terjadi ini, kata Dedi, nantinya tidak akan terulang karena jalan di depan Gedung Sate akan diubah, dan dipastikan tidak akan menggangu arus kendaraan.

"Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate," tegasnya.

Meski begitu, Dedi juga menegaskan, proyek ini tidak menentup sepenuhnya Jalan Diponegoro, karena perluasan halaman Gedung sate tidak dilakukan sepenuhnya di jalan tersebut.

"Bukan (ditutup), jalannya melingkar. Jadi kan itu Gedung Sate ini Jalan Diponegoro. Nanti muter ke depan Pullman, belok kanan. Nanti sebagian Gasibu digunakan untuk jembatan di ujungnya, jadi lebih baik," kata dia.

Lebih lanjut, Dedi menegaskan, inti dari penataan ini adalah memperluas ruang terbuka dan menyatukan kawasan Gedung Sate dengan Gasibu agar lebih representatif.

"Yang ada adalah penataan, halamannya jauh lebih bagus, sehingga nanti tinggi halaman Gasibu itu sama dengan tinggi halaman Gedung Sate," ujarnya.

Anggaran untuk penataan halaman Gedung Sate kini sudah muncul di laman Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP). Dalam laman tersebut tercantum anggaran proyek ini mencapai Rp15,82 miliar berasal dari APBD 2026 di bawah Biro Umum Pemprov Jabar.

Adapun rincian proyek penataan yang akan dilakukan di depan Gedung Sate ini meliputi pekerjaan fisik (e-purchasing) sebesar Rp15,037 miliar, jasa konsultasi perencanaan Rp321,3 juta, dan jasa konsultasi pengawasan Rp464,3 juta. Total keseluruhan mencapai Rp15,82 miliar. Adapun, lahan yang ditata meliputi 14.642 m², panjang koridor 97 m - 144.24 m.

Editorial Team