Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dedi Mulyadi Incar Cirebon Jadi Episentrum Ekonomi Budaya Baru
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Hotel Borobudur Jakarta Pusat (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Pemerintah Jawa Barat menargetkan Cirebon sebagai pusat ekonomi berbasis budaya dengan memanfaatkan warisan sejarah, tradisi, dan kuliner lokal untuk mendorong pertumbuhan serta membuka lapangan kerja.
  • Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pendidikan terarah agar masyarakat mampu mengolah potensi budaya menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi dan memperkuat daya saing daerah.
  • Pengembangan ekonomi budaya di Cirebon menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pelestarian dan komersialisasi, serta membutuhkan infrastruktur dan konektivitas yang mendukung arus wisatawan dan investasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Dedi mau bikin Cirebon jadi tempat ekonomi dari budaya. Katanya Cirebon punya banyak hal bagus, seperti keraton, makanan enak, dan bahasa sendiri. Semua itu bisa bantu orang punya kerjaan dan buat kota jadi ramai. Sekarang pemerintah mau bangun kota yang cantik dan ajar anak-anak supaya bisa jaga budaya sambil cari rezeki.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengarahkan Kabupaten Cirebon menjadi kawasan ekonomi berbasis identitas budaya, dengan menjadikan warisan sejarah dan tradisi lokal sebagai aset produktif untuk mendorong pertumbuhan, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing daerah.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan Kabupaten Cirebon memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni kelengkapan warisan budaya masih hidup dan dapat dilihat secara nyata.

Menurut dia, potensi tersebut harus diolah secara sistematis agar menjadi kekuatan ekonomi baru.

“Cirebon memiliki bangunan kesultanan, tradisi, bahasa, hingga kuliner yang masih terjaga. Ini bukan sekadar warisan, tetapi modal ekonomi yang bisa dikembangkan,” ujar Dedi dalam sidang paripurna hari jadi ke-544 Kabupaten Cirebon Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Kamis (2/4/2026) sore.

1. Budaya sebagai mesin ekonomi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat akan menerima kujang dari Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil dalam rangka HJB ke-543 di halaman gedung DPRD Kota Bogor, Selasa (3/6/2025) pagi. (Linna Susanti/IDN Times).

Dedi menekankan, pendekatan pembangunan di Kabupaten Cirebon akan difokuskan pada pemanfaatan budaya sebagai penggerak utama ekonomi.

Berbeda dengan daerah yang mengandalkan industrialisasi murni, Cirebon diarahkan untuk mengoptimalkan sektor pariwisata budaya, ekonomi kreatif, dan usaha mikro berbasis tradisi.

Kuliner khas seperti Nasi Jamblang disebut sebagai contoh konkret bagaimana tradisi dapat menjadi komoditas ekonomi yang memiliki nilai tambah. Selain itu, keberadaan keraton dan situs sejarah juga dinilai mampu menarik wisatawan sekaligus memperpanjang lama tinggal pengunjung.

"Strategi ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga menciptakan efek berantai terhadap sektor lain seperti perdagangan, jasa, dan perhotelan," ujar Dedi.

Sebagai bagian dari rebranding daerah, Pemprov Jawa Barat juga akan mendorong penataan kota berbasis arsitektur khas Cirebon. Bangunan publik seperti kantor pemerintahan, sekolah, hingga ruang publik diarahkan memiliki keseragaman desain yang mencerminkan identitas lokal.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat citra kota sebagai destinasi budaya. Selain itu, pembangunan infrastruktur juga tidak hanya difokuskan pada fungsi, tetapi pada aspek estetika.

“Jalan, penerangan, hingga gapura harus memiliki nilai visual. Ini akan meningkatkan daya tarik kawasan dan memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung,” kata Dedi.

2. Integrasi pendidikan dan ekonomi Lokal

Inin Nastain/ Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

Upaya penguatan ekonomi berbasis budaya juga akan didukung melalui sektor pendidikan. Pemerintah daerah diminta mendorong peningkatan akses pendidikan sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan industri dan potensi lokal.

Dedi menilai, sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam mengelola dan mengembangkan potensi budaya agar bernilai ekonomi. Dengan pendidikan yang terarah, masyarakat diharapkan mampu mengolah warisan budaya menjadi produk kreatif yang kompetitif.

“Pendidikan harus menjadi fondasi agar masyarakat tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi sumber penghidupan,” ujarnya.

3. Peluang dan tantangan

Dedi Mulyadi di Gedung KPK pada Senin (19/5/2025). (dok. Humas KPK)

Meski memiliki potensi besar, Dedi mengingatkan pengembangan ekonomi berbasis budaya memerlukan konsistensi dan pengelolaan yang tepat. Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian nilai budaya.

Selain itu, perbaikan infrastruktur dan konektivitas juga menjadi kebutuhan mendesak, mengingat posisi Cirebon yang strategis sebagai daerah penyangga Jakarta. Akses yang semakin mudah dinilai akan mempercepat arus wisatawan dan investasi.

Dedi menegaskan, jika seluruh elemen tersebut dapat terintegrasi dengan baik, Cirebon berpeluang menjadi model pengembangan ekonomi daerah berbasis identitas di Indonesia.

“Budaya bukan sesuatu yang statis. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi kekuatan ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” kata dia.

Editorial Team