Bandung, IDN Times - Thalita mengecek aplikasi Ajaib untuk melihat pergerakan bursa saham. Kondisinya merah, jauh dari harapannya yang baru terjun berinvestasi di pasar modal setahun ke belakang.
Per Oktober 2026 indeks harga saham gabungan (IHSG) memang naik-turun, walaupun lebih seringnya turun. Berbagai faktor internal dan eksternal membuat harga saham anjlok termasuk adanya Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
"Sedih sih kalau dilihat. Kadang pagi saya pentengin naik sampe siang, eh sore pas penutupan udah merah lagi saja," ungkap Thalita, Jumat (30/10/2026).
Perempuan 25 tahun ini memang baru mulai terjun berinvestasi di pasar modal khususnya bursa. Selama berkuliah di salah satu kampus swasta dia tidak mendapat pelajaran secara detail mengenai dunia investasi. Barulah setelah bekerja dia mendapat informasi mengenai berbagai instrumen investasi dari rekan kerja dan media sosial.
"Dulu ya tahunya hanya nabung di bank atau investasi emas saja kaya orangtua saya," ungkap Thalita.
Setelah mendapat kerja dan menerima gaji, Thalita biasanya lebih banyak membeli kebutuhan harian atau dipakai untuk berbelanja barang yang diinginkan. Dana yang disiapkan untuk investasi atau tabungan pun tidak banyak, hanya sisa dari bulanan yang selama ini dipakai.
Namun, setelah terpapar informasi investasi di pasar modal, Thalita pun mengunduh aplikasi yang bisa digunakannya untuk berinvestasi di pasar modal. Menurutnya, di tengah kecanggihan jaman sekarang memang tidak sulit untuk mencari informasi di mana seseorang bisa berinvestasi. Terlebih banyak aplikasi di ponsel yang makin memudahkan untuk menyimpan dana tak selalu di bank.
"Kalau sekarang nabung dikit-dikit lah, bisa beli saham yang murah dan memang fundamentalnya bagus, atau memang bisa beli yang blue chip gitu. Kita kan bisa baca juga kondisi perusahaan sama cari info dari para pakar gitu. Banyak kan sekarang di medsos juga cara biar paham beli saham bagus yang mana," ungkap Thalita.
Investasi yang dilakukan Thalita pun tujuannya memang bukan untuk sesaat, melainkan jangka panjang. Dia berharap dari menyimpan uang tersebut dan harga saham yang dibeli setiap tahunnya naik sambil menunggu dividen.
Mulai berinvestasi sejak dini juga dilakukan Siti Nurhaliza. Mahasiswi semester tujuh ini semakin yakin untuk meningkatkan investasi setelah sempat mengikuti pelatihan di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Bandung.
Kuliah di kampus UNIBI jurusan ekonomi, Siti memang sudah terbiasa mendengar istilah investasi dari semester satu. Hal ini kemudian dia coba dengan berinvestasi melalui aplikasi digital dan memasukkan sejumlah uang yang selama ini dimiliki setiap bulannya.
Selama tiga tahun berinvestasi, dia lebih banyak menyimpan uangnya dengan membeli saham sejumlah perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Hanya sedikit saja dari tabungan yang disimpan di reksa dana.
"Kalau tabungan ini ada yang bisa cuman Rp10.000 saja masukinnya kayak di reksa dana. Saya juga suka nabung sistemnya gitu jadi gak nunggu uang banyak dulu baru nabung, kan masih anak kuliahan," ungkap Siti saat berbincang dengan IDN Times.
Menurutnya, menabung dengan berinvestasi di berbagai instrumen lebih menguntungkan karena imbal hasil yang lebih besar dibandingkan hanya disimpan di perbankan. Uang hasil investasi ini pun nantinya akan dipakai Siti untuk membuka usaha setelah lulus dari kampus.
