Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Uang Jajan Menuju Masa Depan, Anak Muda Mulai Melirik Pasar Modal
Seorang investor sedang mengecek kondisi pasar saham yang alami penurunan selama bulan Oktober 2026. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Investor muda makin aktif di pasar modal melalui aplikasi digital, meski menghadapi volatilitas saham; investasi dilakukan bertahap untuk tujuan jangka panjang seperti dividen, usaha, dan masa depan finansial.

  • Per Agustus 2026, investor pasar modal mencapai 31,14 juta SID; 55,25 persen berusia di bawah 30 tahun. Jawa Barat menyumbang 20,08 persen SID nasional.

  • OJK dan BEI memperluas edukasi investasi bagi berbagai kelompok. Anak muda diingatkan menentukan tujuan, mengecek kondisi keuangan, memahami risiko, biaya, serta legalitas sebelum memilih instrumen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Thalita mengecek aplikasi Ajaib untuk melihat pergerakan bursa saham. Kondisinya merah, jauh dari harapannya yang baru terjun berinvestasi di pasar modal setahun ke belakang.

Per Oktober 2026 indeks harga saham gabungan (IHSG) memang naik-turun, walaupun lebih seringnya turun. Berbagai faktor internal dan eksternal membuat harga saham anjlok termasuk adanya Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

"Sedih sih kalau dilihat. Kadang pagi saya pentengin naik sampe siang, eh sore pas penutupan udah merah lagi saja," ungkap Thalita, Jumat (30/10/2026).

Perempuan 25 tahun ini memang baru mulai terjun berinvestasi di pasar modal khususnya bursa. Selama berkuliah di salah satu kampus swasta dia tidak mendapat pelajaran secara detail mengenai dunia investasi. Barulah setelah bekerja dia mendapat informasi mengenai berbagai instrumen investasi dari rekan kerja dan media sosial.

"Dulu ya tahunya hanya nabung di bank atau investasi emas saja kaya orangtua saya," ungkap Thalita.

Setelah mendapat kerja dan menerima gaji, Thalita biasanya lebih banyak membeli kebutuhan harian atau dipakai untuk berbelanja barang yang diinginkan. Dana yang disiapkan untuk investasi atau tabungan pun tidak banyak, hanya sisa dari bulanan yang selama ini dipakai.

Namun, setelah terpapar informasi investasi di pasar modal, Thalita pun mengunduh aplikasi yang bisa digunakannya untuk berinvestasi di pasar modal. Menurutnya, di tengah kecanggihan jaman sekarang memang tidak sulit untuk mencari informasi di mana seseorang bisa berinvestasi. Terlebih banyak aplikasi di ponsel yang makin memudahkan untuk menyimpan dana tak selalu di bank.

"Kalau sekarang nabung dikit-dikit lah, bisa beli saham yang murah dan memang fundamentalnya bagus, atau memang bisa beli yang blue chip gitu. Kita kan bisa baca juga kondisi perusahaan sama cari info dari para pakar gitu. Banyak kan sekarang di medsos juga cara biar paham beli saham bagus yang mana," ungkap Thalita.

Investasi yang dilakukan Thalita pun tujuannya memang bukan untuk sesaat, melainkan jangka panjang. Dia berharap dari menyimpan uang tersebut dan harga saham yang dibeli setiap tahunnya naik sambil menunggu dividen.

Mulai berinvestasi sejak dini juga dilakukan Siti Nurhaliza. Mahasiswi semester tujuh ini semakin yakin untuk meningkatkan investasi setelah sempat mengikuti pelatihan di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Bandung.

Kuliah di kampus UNIBI jurusan ekonomi, Siti memang sudah terbiasa mendengar istilah investasi dari semester satu. Hal ini kemudian dia coba dengan berinvestasi melalui aplikasi digital dan memasukkan sejumlah uang yang selama ini dimiliki setiap bulannya.

Selama tiga tahun berinvestasi, dia lebih banyak menyimpan uangnya dengan membeli saham sejumlah perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Hanya sedikit saja dari tabungan yang disimpan di reksa dana.

"Kalau tabungan ini ada yang bisa cuman Rp10.000 saja masukinnya kayak di reksa dana. Saya juga suka nabung sistemnya gitu jadi gak nunggu uang banyak dulu baru nabung, kan masih anak kuliahan," ungkap Siti saat berbincang dengan IDN Times.

Menurutnya, menabung dengan berinvestasi di berbagai instrumen lebih menguntungkan karena imbal hasil yang lebih besar dibandingkan hanya disimpan di perbankan. Uang hasil investasi ini pun nantinya akan dipakai Siti untuk membuka usaha setelah lulus dari kampus.

Gen Z makin banyak yang berinvestasi

Diskusi investasi di Kota Bandung. Dok. Pemkot Bandung

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 31,14 juta Single Investor Identification (SID) berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2026.

Dari sisi demografi, sekitar 55,25 persen investor pasar modal Indonesia berusia 30 tahun ke bawah, yang apabila digabungkan dengan investor berusia 31-40 tahun, maka porsinya lebih dari 80,64 persen dari total jumlah investor di pasar modal Indonesia.

Dari sisi literasi, OJK menyoroti bahwa indeks literasi dan inklusi keuangan untuk kelompok usia 26 tahun sampai 35 tahun menempati posisi tertinggi, yaitu masing-masing 78,70 persen dan 96,27 persen, menurut data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.

Di Jawa Barat, Kepala OJK Jabar Darwisman menuturkan, perkembangan pasar modal sangat menjanjikan di provinsi ini. Tingkat inklusi masyarakat terhadap produk pasar modal mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tercermin dari jumlah SID di Jawa Barat yang tumbuh sebesar 82,59 secara tahunan.

"Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah SID terbesar, mencapai 20,08 persen terhadap nasional. Hal ini menunjukkan antusiasme warga untuk mengakses produk keuangan pasar modal," ungkap Darwisman dalam diskusi pada acara FinExpo di Kota Bandung.

Menurutnya, saat ini para investor memang paling banyak menyimpan uang mereka di reksa dana mencapai 86,03 persen. Sementara untuk keseluruhan transaksi saham di Jabar mencapai Rp43,19 triliun, naik sekitar 5,80 persen secara tahunan.

Geliat pasar modal di Jawa Barat. IDN Times/Debbie Sutrisno

Meski jumlah anak muda yang masuk ke pasar modal uangnya belum banyak, itu tidak menjadi masalah. Darwisman menilai bahwa aspek paling penting saat ini adalah bagaimana memberikan pengetahuan lebih dulu kepada mereka untuk kemudian mencoba masuk ke pasar modal sejak dini seperti dari kuliah atau justru sekolah menengah atas (SMA).

Harapannya, ketika mereka nanti sudah mulai bekerja tidak kebingungan akan seperti apa memanfaatkan uang dari gaji yang didapat.

"Kita berpikirnya juga harus jangka panjang. Seiring mereka tumbuh dan mulai bekerja nanti mereka akan lebih paham mengenai literasi keuangan termasuk masuk ke pasar modal. Jadi kalau ada gejolak ekonomi global di masa depan itu kemandirian pasar modal kita sudah baik, dan itu (literasi keuangan) harus kita dorong dari sekarang," kata Darwisman.

Dia mencontohkan ketiga ada gejolak ekonomi global seperti saat ini pasar modal Indonesia kelabakan karena selama ini masih didominasi oleh uang asing. Maka, ke depan dengan semakin banyak masyarakat Indonesia berinvestasi kejadian anjloknya pasar modal dalam negeri diharap tidak kembali terjadi.

Pelatihan terus digenjot

Puluhan mahasiswa UNIBI, Bandung, mengikuti kelas edukasi mengenai investasi reksa dana di kantor BEI Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Debbie Sutrisno

Untuk mendorong peningkatan literasi pada pasar modal, OJK bersama sejumlah memasifkan pelatihan mulai dari kalangan pelajar hingga mahasiswa. Dalam beberapa bulan terakhir misalnya, OJK bersama Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menggelar kunjungan ke sejumlah kampus di Bandung Raya. Beberapa kampus yang telah didatangi di antaranya Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Universitas Islam Negeri Bandung (UIN), Universitas Sangga Buana YPKP, serta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Darwisman menuturkan, per 27 Oktober 2026 OJK telah melakukan kegiatan edukasi mencapai 15.549 di Jawa Barat. Adapun total peserta yang mendapat edukasi mencapai 6.983.910. Ada lima kalangan yang coba disasar yakni perempuan atau ibu rumah tangga, mahasiswa dan pelajar, disabilitas, petani atau nelayan, hingga pelaku UMKM.

"Perempuan ini juga penting kita tingkatkan literasinya agar mereka khususnya ibu rumah tangga juga tetap paham pentingnya mengelola keuangan termasuk berinvestasi untuk masa depan.

Sementara itu, manfaat edukasi ini pun dirasakan oleh Gilang, salah satu mahasiswa Universitas Sangga Buana YPKP. Mahasiswa yang baru melaksanakan sidang ini tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi di kampusnya. Dia selama ini berkuliah di jurusan ilmu komunikasi.

Namun, informasi mengenai manfaat berinvestasi di media sosial membuat dia kerap mengintip unggahan pemengaruh yang menjelaskan mengenai manfaat dari berinvestasi. Hal ini pula yang membuatnya tertarik ikut serta dalam sosialisasi dan edukasi reksa dana di kampus.

"Lumayan ada sedikit pemahaman, tidak kosong banget tentang reksa dana. Mungkin nanti saya mau coba mulai nabung di reksa dana kan sekarang banyak bisa pakai aplikasi," ujar Gilang.

Diskusi mengenai instrumen investasi reksa dana pun diikuti oleh Adebayu. Dia mendapatkan pemahaman mengenai manfaat reksa dana ketika ada kegiatan edukasi di Kantor OJK Jawa Barat. Selama ini Ade lebih banyak menyimpan uangnya dalam bentuk emas atau tabungan di bank.

Dengan ilmu baru yang didapatnya, Ade pun berkeinginan untuk memulai berinvestasi di reksa dana. "Nanti saya harus lihat-lihat dulu agen penjual reksa dana, kan harus cari yang terpercaya," ungkap Ade.

Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat Achmad Dirgantara menuturkan bahwa pihaknya memang sering memberikan pelatihan kepada berbagai kalangan masyarakat. Dengan adanya 73 galeri investasi yang ada di bawah naungan BEI Jabar, masyarakat khususnya tingkat pelajar hingga mahasiswa pun semakin mudah untuk mencari tahu tata cara berinvestasi di pasar modal.

Dia mengatakan, kalangan pelajar hingga mahasiswa bisa mencoba instrumen pasar modal yang minim risiko seperti reksa dana. Instrumen yang lebih mudah dijangkau dalam hal nominal bisa menjadi pintu masuk paling mudah bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk memulai investasi jangka panjang di pasar modal. Instrumen ini tidak hanya terjangkau, tetapi juga menawarkan kemudahan bagi investor pemula karena dikelola oleh manajer investasi profesional.

Menurutnya, anak muda bisa mencari instrumen keuangan yang memiliki variasi risiko lebih ringan. Contohnya, reksa dana pasar uang yang relatif rendah risiko, hingga reksa dana saham dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Dengan nominal investasi yang relatif kecil, bahkan mulai dari Rp10.000, mahasiswa dan generasi muda memiliki peluang besar untuk mulai berinvestasi sejak dini. Kebiasaan ini penting untuk membentuk perencanaan keuangan jangka panjang.

“Yang penting itu disiplin menyisihkan, bukan menunggu sisa uang. Kalau menunggu sisa, biasanya tidak ada karena habis untuk konsumsi,” katanya

Dominasi investor muda dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang berinvestasi, dana yang beredar di pasar modal dapat mendorong pembiayaan berbagai sektor usaha.

Selain itu, kebiasaan berinvestasi sejak dini juga berpotensi meningkatkan ketahanan finansial masyarakat di masa depan. Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga berperan sebagai pemilik aset.

“Di negara maju, orang tidak hanya bekerja, tapi asetnya juga bekerja. Ini yang perlu kita dorong di Indonesia,” kata Ahmad.

Jangan takut untuk berinvestasi, pahami juga risikonya

Masyarakat memanfaatkan Saung Anti Boncos di acara Financial Expo di Kota Bandung, untuk berkonsultasi mengenai kondisi keuangannya. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dorongan untuk anak muda berani melakukan investasi sedari dini juga disampaikan perencana keuangan, Fennicia. Ditemui di acara financial expo di Kota Bandung, dia menyebut bahwa sudah seharusnya anak muda paham mengenai pentingnya investasi demi masa depan yang lebih baik.

Keinginan mencapai financial freedom sejak muda bisa dimulai dengan mengelola uang dan berinvestasi. Namun, langkah tersebut tidak cukup hanya bermodal keberanian atau mengikuti tren. Anak muda perlu memahami tujuan keuangan, kondisi finansial, hingga risiko dari instrumen investasi yang dipilih.

Terlebih, kemudahan akses investasi melalui aplikasi digital membuat siapa pun bisa mulai mengenal pasar modal. Tanpa bekal pengetahuan yang cukup, keputusan investasi justru berpotensi menimbulkan kerugian, terutama ketika seseorang membeli saham hanya karena mengikuti teman atau takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO).

“Yang pertama dan paling penting itu anak muda harus tahu goals-nya atau tujuan mereka itu apa,” ujarnya.

Tujuan keuangan akan membantu investor menentukan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan jangka waktu investasi. Persiapan dana untuk menikah dalam waktu dekat, misalnya, tentu berbeda dengan investasi untuk kebutuhan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Karena itu, anak muda sebaiknya tidak terburu-buru membeli saham hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan. Ketika masuk pada harga tinggi dan nilai saham turun, investor yang tidak memahami tujuan investasinya cenderung panik dan mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang.

Sebelum memilih instrumen investasi, anak muda perlu memeriksa kondisi keuangannya terlebih dahulu. Penghasilan, pengeluaran rutin, cicilan utang, dan arus kas menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

"Jangan sampai keinginan memperoleh keuntungan dari investasi justru membuat kebutuhan sehari-hari terbengkalai. Jika penghasilan masih habis untuk memenuhi kebutuhan pokok atau cicilan utang terlalu besar, memperbaiki kondisi keuangan sebaiknya menjadi prioritas" kata Fennicia.

Dia pun meminta anak muda saat berinvestasi tidak didasarkan pada tren atau rekomendasi teman semata. Sebelum membeli produk investasi, anak muda perlu memahami cara kerjanya, potensi keuntungan, risiko kerugian, biaya, serta legalitas penyedia layanan.

Pasar saham, misalnya, menawarkan peluang pertumbuhan nilai investasi, tetapi tidak menjamin keuntungan dalam waktu singkat. Penurunan harga merupakan salah satu risiko yang harus dipahami sebelum seseorang memutuskan membeli saham.

Selain saham, anak muda dapat mempelajari instrumen lain seperti reksa dana, deposito, dan emas. Setiap instrumen memiliki karakteristik serta risiko berbeda sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Fennicia menyebut bahwa pada akhirnya mencapai financial freedom bukan sekadar soal seberapa cepat seseorang mulai berinvestasi atau seberapa besar keuntungan yang diperoleh. Langkah tersebut perlu dibarengi kemampuan mengelola keuangan, memahami risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan tujuan yang jelas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article