237 Bayi di Bandung Meninggal pada 2025, 203 di Antaranya Neonatal

- Kota Bandung mencatat 237 kematian bayi dari 35.275 kelahiran hidup pada 2025, dengan 203 kasus atau 85,7 persen terjadi dalam 28 hari pertama kehidupan.
- Total kematian bayi turun dari 244 kasus pada 2024 menjadi 237 pada 2025, tetapi kematian neonatal meningkat dari 193 menjadi 203 kasus.
- Wali Kota Muhammad Farhan menyatakan RSUD Bandung Kiwari perlu memperkuat IGD dan keterampilan penanganan darurat, terutama bagi ibu hamil rujukan dengan kondisi kritis.
Bandung, IDN Times – Kesiapan rumah sakit menangani pasien dengan risiko tinggi dan kondisi kegawatdaruratan masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui, RSUD Bandung Kiwari masih perlu memperkuat kemampuan penanganan pasien, terutama ibu hamil yang datang dalam kondisi kritis dan membutuhkan tindakan medis segera.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena keselamatan ibu dan bayi berkaitan erat dengan kesiapan layanan kesehatan dalam menangani kondisi berisiko. Farhan menyebut, meskipun RSUD Bandung Kiwari telah memiliki sejumlah dokter spesialis, kemampuan penanganan kasus kegawatdaruratan tetap perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, data Profil Perkembangan Kependudukan Kota Bandung 2026 mencatat sebanyak 237 bayi meninggal pada 2025. Dari jumlah tersebut, 203 kematian terjadi pada periode neonatal atau masa 28 hari pertama setelah bayi dilahirkan. Angka ini menunjukkan bahwa fase awal kehidupan bayi masih menjadi periode yang membutuhkan perhatian serius dalam pelayanan kesehatan.
1. Farhan Akui Penanganan Pasien Berat di RSUD Kiwari Perlu Diperbaiki

RSUD Bandung Kiwari (Dok.Diskominfo Bandung) Farhan mengatakan, salah satu tantangan RSUD Bandung Kiwari saat ini adalah menangani pasien dengan kondisi kehamilan yang sudah berat ketika tiba di rumah sakit. Menurutnya, tidak sedikit pasien yang datang ke instalasi gawat darurat dalam kondisi kritis sehingga membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
“Khusus untuk RSUD Kiwari, memang tantangan terbesarnya sekarang, walaupun berhasil menekan angka kematian ibu melahirkan jauh di bawah rata-rata nasional, jumlah kematian bayi lahir di RSUD Kiwari ini lumayan tinggi. Jadi, kita lagi ada usaha menekan ke arah sana,” ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Jumat (30/10/2026).
Ia menilai, kondisi kesehatan ibu menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keselamatan bayi sejak masih berada di dalam kandungan. Karena itu, Pemkot Bandung berupaya membangun sistem pelayanan yang lebih terarah agar ibu hamil yang berkonsultasi maupun menjalani penanganan di RSUD Bandung Kiwari memperoleh layanan sesuai kebutuhan medisnya.
“Sebetulnya kunci utamanya adalah kondisi ibunya. Kondisi ibu menjadi sangat penting karena bagaimanapun juga, kondisi bayi di dalam kandungan sangat tergantung pada kondisi ibunya. Jadi, kita akan membangun sebuah sistem yang lebih to the point di RSUD Kiwari ini untuk memastikan bahwa para ibu hamil yang berkonsultasi ke RSUD Kiwari itu betul-betul ditangani,” katanya.
Farhan secara khusus menyoroti instalasi gawat darurat (IGD) sebagai bagian layanan yang perlu diperkuat. Sebab, RSUD Bandung Kiwari kerap menerima pasien rujukan dari berbagai daerah, termasuk ibu hamil yang datang dengan kondisi kesehatan yang sudah memburuk.
“Namun, salah satu yang paling penting adalah UGD. Karena banyak kasus berat, ibu hamil yang sudah sangat berat (severe), berdatangan dalam keadaan yang sudah sangat berat. Jadi, UGD-nya memang harus sangat baik. Itu yang sedang kita perbaiki sekarang, terutama karena RSUD Kiwari ini sering menjadi rujukan dari berbagai macam daerah untuk penanganan kasus-kasus kesehatan masyarakat,” tutur Farhan.
Ia menjelaskan, RSUD Bandung Kiwari telah memiliki dokter spesialis obstetri dan ginekologi, neonatologi, hingga fertilitas. Namun, keberadaan tenaga spesialis tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan teknis dalam menangani situasi darurat, terutama ketika pasien mengalami kondisi kritis secara mendadak.
2. Sebanyak 203 dari 237 Bayi Meninggal pada periode Neonatal

ilustrasi bayi lahir dengan gigi natal (pexels.com/Lisa) Tantangan keselamatan bayi juga tergambar dalam data kematian bayi di Kota Bandung sepanjang 2025. Berdasarkan Profil Perkembangan Kependudukan Kota Bandung 2026, tercatat 237 bayi meninggal dari 35.275 kelahiran hidup. Dengan demikian, angka kematian bayi di Kota Bandung mencapai 6,72 per 1.000 kelahiran hidup.
Dari total kematian tersebut, sebanyak 203 kasus atau sekitar 85,7 persen terjadi pada periode neonatal. Istilah neonatal merujuk pada masa sejak bayi dilahirkan hingga berusia 28 hari atau sekitar empat minggu pertama kehidupannya. Periode ini merupakan fase awal kehidupan yang rentan sehingga membutuhkan pemantauan kondisi bayi dan pelayanan kesehatan yang memadai.
Sementara itu, sebanyak 34 kematian lainnya terjadi pada periode post-neonatal, yakni ketika bayi berusia 29 hari hingga belum mencapai satu tahun. Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar kematian bayi di Bandung pada 2025 terkonsentrasi pada masa 28 hari pertama setelah kelahiran.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Bandung Kulon mencatat jumlah kematian bayi tertinggi dengan 22 kasus. Sementara itu, Kecamatan Lengkong, Sumur Bandung, dan Antapani masing-masing mencatat dua kasus. Data tersebut bersumber dari laporan Puskesmas yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Angka 237 kematian tersebut merupakan data agregat tingkat Kota Bandung. Karena itu, data ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai jumlah kematian bayi yang terjadi di RSUD Bandung Kiwari. Pernyataan Farhan mengenai tingginya kematian bayi di rumah sakit tersebut merupakan sorotan tersendiri yang belum disertai rincian angka kasus dalam data profil kependudukan tersebut.
3. Kematian Neonatal meningkat, meski total kematian bayi menurun

ilustrasi bayi lahir prematur (unsplash.com/Charles Eugene) Dibandingkan 2024, jumlah kematian bayi di Kota Bandung pada 2025 memang mengalami penurunan. Pada 2024, tercatat 244 bayi meninggal, sedangkan pada 2025 jumlahnya turun menjadi 237 kasus. Artinya, terdapat pengurangan tujuh kasus atau sekitar 2,9 persen dalam satu tahun.
Namun, penurunan angka kematian bayi secara keseluruhan tidak diikuti oleh penurunan pada kelompok neonatal. Jumlah kematian neonatal justru meningkat dari 193 kasus pada 2024 menjadi 203 kasus pada 2025. Sebaliknya, kematian pada periode post-neonatal turun dari 51 kasus menjadi 34 kasus dalam periode yang sama.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran komposisi kematian bayi. Pada 2024, kematian neonatal mencakup sekitar 79,1 persen dari total kematian bayi. Proporsinya meningkat menjadi sekitar 85,7 persen pada 2025. Dengan kata lain, meskipun jumlah bayi meninggal secara keseluruhan berkurang, kematian pada 28 hari pertama kehidupan justru bertambah.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Pemkot Bandung dalam mengevaluasi pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Penguatan layanan tidak hanya dibutuhkan ketika persalinan berlangsung, tetapi juga sejak masa kehamilan, proses rujukan, penanganan kegawatdaruratan, hingga pemantauan kesehatan bayi setelah dilahirkan.
Pengakuan Farhan mengenai perlunya pembenahan layanan kegawatdaruratan di RSUD Bandung Kiwari menjadi salah satu pekerjaan yang perlu ditindaklanjuti. Terlebih, data kematian neonatal memperlihatkan bahwa fase awal kehidupan bayi masih menjadi titik krusial dalam upaya menekan angka kematian bayi di Kota Bandung.


















