Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Siswa SMPN 13 Bandung Juara 1 Kompetisi Inovasi Literasi Keuangan

Kota Bandung
5 min read
Siswa SMPN 13 Bandung Juara 1 Kompetisi Inovasi Literasi Keuangan
Dok. Istimewa
  • Tim 13 Finsmart SMPN 13 Bandung meraih Juara Pertama JA SparktheDream Social Challenge 2026 lewat FINHABIT, platform interaktif berisi latihan, simulasi, dan tantangan pengelolaan uang.
  • SNLIK 2026 mencatat inklusi keuangan pelajar 92,76 persen, sementara literasinya 62,72 persen. OJK menekankan edukasi sejak sekolah dan kolaborasi lintas pihak untuk memperkuat pemahaman serta penggunaan layanan keuangan.
  • Dua tim terbaik nasional akan mewakili Indonesia di kompetisi Asia Pasifik pada November 2026. Program JA SparktheDream telah menjangkau lebih dari 8.200 siswa sejak 2023.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Mengelola uang saku bukan sekadar soal mengetahui berapa banyak uang yang dimiliki dan dibelanjakan. Kebiasaan tersebut juga membutuhkan kemampuan menentukan prioritas, memahami risiko, dan mengambil keputusan agar uang tidak habis sebelum waktunya.

Persoalan sederhana itu menjadi perhatian sekelompok siswa SMPN 13 Bandung. Melalui sebuah platform bernama FINHABIT, mereka mencoba menghadirkan cara belajar keuangan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni melalui latihan, simulasi, dan tantangan yang memungkinkan penggunanya mempraktikkan pengetahuan finansial.

Gagasan tersebut mengantarkan Tim 13 Finsmart dari SMPN 13 Bandung meraih Juara Pertama dalam JA SparktheDream Social Challenge 2026. Kompetisi yang diselenggarakan PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) tersebut mendorong siswa sekolah menengah pertama mengembangkan inovasi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial masyarakat.

Prestasi ini menjadi menarik karena persoalan literasi keuangan masih menjadi tantangan di kalangan pelajar. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan pelajar mencapai 92,76 persen, sedangkan indeks literasinya baru 62,72 persen.

Angka tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman dalam menggunakannya. Dengan kata lain, semakin banyak pelajar yang terhubung dengan layanan keuangan, tetapi pemahaman mengenai cara mengelola uang dan mengenali risikonya masih perlu diperkuat.

  1. 1. FINHABIT, cara siswa SMP Bandung mengajarkan kebiasaan finansial

    WhatsApp Image 2026-10-30 at 08.13.29.jpeg
    Dok.Istimewa

    Melalui FINHABIT, Tim 13 Finsmart mencoba mengubah pembelajaran keuangan yang biasanya bersifat teoritis menjadi pengalaman yang lebih interaktif.

    Platform tersebut menggabungkan latihan, simulasi, dan tantangan kehidupan nyata. Pengguna tidak hanya mempelajari konsep pengelolaan uang, tetapi juga diajak mempraktikkan pengetahuan tersebut dan merefleksikan keputusan yang diambil.

    Pendekatan ini diarahkan untuk membantu pengguna membangun kebiasaan finansial dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, memahami konsekuensi dari pilihan pengeluaran dan membiasakan diri mempertimbangkan kebutuhan sebelum menggunakan uang.

    FINHABIT menjadi salah satu dari 12 gagasan yang dipresentasikan dalam JA SparktheDream Social Challenge 2026. Seluruh peserta ditantang mengidentifikasi persoalan sosial di lingkungan sekitar, kemudian menyusun solusi yang dijelaskan melalui video pendek.

    Selain Tim 13 Finsmart, kompetisi tersebut juga menghasilkan dua pemenang lainnya. Juara kedua diraih Tim FINSHIELD dari SMP Nation Star Academy Surabaya melalui permainan papan yang menggunakan kartu skenario penipuan untuk mengajarkan remaja mengenali risiko finansial.

    Permainan tersebut dilengkapi jurnal finansial, tantangan bersama keluarga, serta mentor AI bernama SORA untuk mendukung proses pembelajaran.

    Sementara itu, Juara Ketiga diraih Tim Spensyora dari SMPN 9 Denpasar melalui Cashora. Mereka mengembangkan situs web pencatatan uang saku yang memberikan notifikasi ketika pengeluaran meningkat terlalu cepat, sehingga anak-anak dan keluarga dapat mengevaluasi kebiasaan belanja sebelum uang saku habis.

    Ketiga gagasan tersebut menunjukkan pendekatan berbeda dalam mengajarkan literasi keuangan, mulai dari membangun kebiasaan mengelola uang, mengenali penipuan, hingga mengendalikan pengeluaran.

  2. 2. Akses keuangan pelajar tinggi, pemahaman masih perlu diperkuat

    Literasi Keuangan
    Literasi Keuangan

    Pentingnya edukasi keuangan sejak usia sekolah juga menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK, Halimatus Sa’diyah, mengatakan pelajar merupakan salah satu kelompok prioritas dalam penguatan literasi dan inklusi keuangan.

    Menurutnya, tingkat pemahaman dan penggunaan layanan keuangan di kalangan pelajar masih berada di bawah rata-rata nasional. Karena itu, edukasi sejak usia sekolah dibutuhkan agar mereka mampu mengelola uang, memahami risiko, serta menggunakan layanan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.

    “Edukasi sejak usia sekolah menjadi investasi penting untuk membangun kemampuan mengelola uang, memahami risiko, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab di masa depan,” ujarnya.

    Halimatus juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri jasa keuangan, sekolah, keluarga, dan organisasi masyarakat agar pembelajaran keuangan dapat diterapkan secara berkelanjutan.

    Kebutuhan tersebut menjadi salah satu landasan FWD Insurance bersama PJI menghadirkan JA SparktheDream. Program yang memasuki tahun keempat ini menjangkau lebih dari 2.300 siswa di 12 kota dan kabupaten melalui pembelajaran di sekolah dan aktivitas bersama keluarga.

    Rangkaian pembelajaran tersebut membekali siswa dengan pengetahuan pengelolaan keuangan pribadi. Selanjutnya, melalui JA SparktheDream Social Challenge, mereka didorong menerapkan pengetahuan tersebut dengan merancang solusi untuk persoalan di lingkungan sekitar.

    Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, mengatakan edukasi keuangan sejak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk membantu generasi muda menghadapi risiko dan perubahan kondisi finansial.

    “Melalui JA SparktheDream, FWD Insurance berkomitmen membantu mereka membangun kebiasaan finansial yang sehat serta kemampuan mengambil keputusan yang selaras dengan aspirasi mereka. Fondasi ini memberi mereka kepercayaan diri untuk merencanakan masa depan dan meraih peluang,” katanya.

  3. 3. Dua tim akan mewakili Indonesia di kompetisi Asia Pasifik

    WhatsApp Image 2026-10-30 at 08.13.28.jpeg
    Dok. Istimewa

    Perjalanan para peserta tidak berhenti pada kompetisi nasional. Dua tim terbaik akan mewakili Indonesia dalam kompetisi tingkat Asia Pasifik pada November 2026, bersama peserta dari Hong Kong SAR, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

    Sebelum mengikuti kompetisi nasional, para peserta telah menjalani bootcamp daring untuk mengembangkan gagasan solusi literasi keuangan sekaligus meningkatkan keterampilan presentasi. Mereka juga memperoleh pendampingan dari sukarelawan FWD Insurance yang membantu mempertajam ide dan mempersiapkan presentasi.

    Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan keuangan kepada siswa, tetapi juga mendorong mereka menggunakan pengetahuan itu untuk memahami persoalan di lingkungan sekitar.

    Ketika merancang sebuah solusi, siswa diajak mempertimbangkan siapa yang membutuhkan, bagaimana solusi digunakan, dan manfaat yang ingin dihasilkan. Proses tersebut sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kerja sama.

    “Proses ini mengasah penalaran kritis, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri bahwa mereka dapat berkontribusi bagi komunitasnya,” ungkap Utami.

    Sejak dimulai pada 2023, JA SparktheDream telah menjangkau lebih dari 8.200 siswa di Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, Bandung, Cimahi, Surabaya, Sidoarjo, Bogor, Tangerang, Bekasi, Denpasar, dan Semarang.

    Melalui program tersebut, FWD Insurance dan PJI berupaya menghubungkan pembelajaran keuangan di rumah, sekolah, dan komunitas. Bagi para siswa, proses ini menjadi kesempatan untuk tidak hanya memahami cara mengelola uang sendiri, tetapi juga memikirkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu orang-orang di sekitarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More