Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Laboratorium ke Pasar, ITB Kenalkan Inovasi Pangan untuk UMKM
STEI ITB (itb.ac.id)
  • Institut Teknologi Bandung menggelar Festival Akulturasa pada 20–21 Juni 2026 untuk memamerkan hasil riset inovasi pangan dan menjembatani kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, serta masyarakat.
  • PT Bank Tabungan Negara mendukung acara ini dengan fokus pada penguatan ekosistem ekonomi kreatif, pembiayaan UMKM kuliner, serta penerapan transaksi digital guna memperluas literasi keuangan masyarakat.
  • Melibatkan empat fakultas ITB, festival ini menampilkan produk pangan berbasis bahan lokal seperti umbi dan rempah, sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan ide dan memperluas pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
3 Juni 2026

Asvianti Handaru dari BTN menjelaskan dukungan bank terhadap festival Akulturasa ITB dan pentingnya kolaborasi dalam ekosistem ekonomi kreatif saat acara pengenalan di IRO ITB.

20–21 Juni 2026

Festival Akulturasa ITB dijadwalkan berlangsung di Kampus ITB, Jalan Ganesha, untuk memamerkan hasil riset pangan serta mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Festival Akulturasa ITB digelar untuk memperkenalkan hasil riset inovasi pangan dari sivitas akademika Institut Teknologi Bandung kepada masyarakat serta mendukung pengembangan UMKM di sektor kuliner.
  • Who?
    Kegiatan ini diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung dengan dukungan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, melibatkan dosen, mahasiswa, pelaku usaha, dan masyarakat umum.
  • Where?
    Festival berlangsung di kawasan Kampus ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    Acara dijadwalkan pada 20 hingga 21 Juni 2026, dengan pengenalan kegiatan dilakukan pada awal Juni 2026.
  • Why?
    Kegiatan ini bertujuan menjembatani hasil riset kampus dengan kebutuhan industri pangan serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan digitalisasi bagi pelaku UMKM kuliner.
  • How?
    Penyelenggaraan dilakukan melalui pameran inovasi pangan lintas fakultas ITB, kolaborasi akademisi dan pelaku usaha, serta penerapan transaksi digital yang didorong BTN selama festival berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
ITB mau bikin acara besar namanya Akulturasa di kampusnya. Di sana banyak orang pintar, pengusaha, dan teman-teman datang lihat makanan baru hasil riset dosen dan mahasiswa. Bank BTN bantu acaranya supaya usaha kecil bisa makin maju dan pakai cara bayar digital. Sekarang semua sedang siap-siap buat acaranya bulan Juni nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Festival Akulturasa ITB mencerminkan semangat kolaborasi antara dunia akademik, perbankan, dan pelaku usaha dalam memperkuat ekosistem pangan nasional. Dengan menampilkan inovasi riset berbasis bahan lokal serta mendorong digitalisasi transaksi, kegiatan ini tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap teknologi pangan, tetapi juga menumbuhkan jejaring kreatif yang mendukung keberlanjutan UMKM kuliner.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Festival Akulturasa turut dihadirkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai bentuk memamerkan hasil riset di industri pangan. Acara yang akan digelar di kawasan Kampus Kampus ITB, Jalan Ganesha, pada 20-21 Juni 2026 itu menjadi sebuah jembatan untuk mempublikasikan hasil riset di industri pangan.

Festival ini mempertemukan akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif ini didukung PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)/

Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Barat Asvianti Handaru W. menuturkan, Akulturasa ITB menjadi ruang penting yang sejalan dengan komitmen BTN dalam mendukung ekosistem pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri pangan nasional.

Asvianti menilai, investasi terbaik bukan hanya pada proyek yang menghasilkan keuntungan finansial semata, tapi juga kegiatan yang mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial jangka panjang.

"Dalam satu ekosistem kolaboratif ini dapat memperkuat jejaring, membuka peluang usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi sektor kuliner," kata Asvianti usai acara pengenalan Akulturasa di International Relation Office (IRO) ITB, dikutip Rabu (3/6/2026).

1. Industri makanan dan minuman memiliki efek berganda yang sangat besar

Ilustrasi ekonomi digital dengan konsep e-commerce, fintech, dan layanan on-demand. (freepik.com)

Industri kuliner merupakan salah satu sektor yang memiliki daya tahan kuat, sekaligus kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut juga menjadi ruang tumbuh bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.

"Industri makanan dan minuman memiliki efek berganda yang sangat besar. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang usaha bagi banyak masyarakat," ujarnya.

Dengan begitu, BTN terus memperkuat dukungannya terhadap pelaku UMKM, baik melalui program pembiayaan, pendampingan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital. Setelah itu, diharapkan pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar mereka.

2. Bank tidak hanya hadir sebagai penyedia pembiayaan

ilustrasi ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

Transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha, termasuk di sektor kuliner, karena mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik bagi konsumen.

"Bank tidak hanya hadir sebagai penyedia pembiayaan. Kami juga ingin membantu UMKM naik kelas melalui pendampingan dan digitalisasi agar bisnis mereka semakin kuat dan berkelanjutan," tutur Asvianti.

Maka dari itu, selama penyelenggaraan Akulturasa ITB, BTN juga mendorong penggunaan transaksi digital oleh pengunjung maupun tenant. Selain memberikan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi, langkah tersebut diharapkan dapat memperluas literasi keuangan digital di tengah masyarakat.

Mengingat, teknologi finansial memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan bisnis kuliner. Sistem pembayaran yang praktis dan aman memungkinkan pelaku usaha lebih fokus mengembangkan produk serta meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.

3. ITB punya banyak inovasi dalam hal industri pangan

Ilustrasi ekonomi terguncang (IDN Times/Arief Rahmat)

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Andryanto Rikrik Kusmara menjelaskan bahwa festival tersebut lahir dari keinginan kampus untuk menghadirkan berbagai hasil riset dosen dan mahasiswa kepada masyarakat luas.

Menurut Rikrik, selama ini banyak inovasi yang dihasilkan sivitas akademika ITB, namun belum memiliki ruang yang cukup untuk diperkenalkan secara luas. Karena itu, Akulturasa hadir sebagai wadah yang menjembatani dunia akademik dengan masyarakat.

"Makanya saya lapor ke Rektor, dan disambut baik. Ini sangat inspiratif sehingga dibuatkan acara yang lebih besar di bawah payung Akulturasa. Ada kultur dan rasa, pertemuan sains, teknologi, seni dan budaya yang digabungkan," ujar Rikrik.

Dia menjelaskan, sedikitnya empat fakultas terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut, yakni Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri Kesehatan, Sekolah Farmasi, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat akan diperlihatkan berbagai inovasi pangan hasil penelitian dosen dan mahasiswa. Salah satunya, produk pangan fermentasi yang dikembangkan dari bahan baku lokal seperti umbi-umbian dan rempah-rempah.

"Jadi lewat festival ini kami harapkan dapat mengundang sivitas ITB maupun masyarakat datang ke ITB untuk melihat berbagai fenomena makanan yang diolah sedemikian rupa. Dari hasil lokal, teknologi lokal, olahan lokal, lalu bagaimana kemudian masyarakat bisa memanfaatkan apa yang sudah diperbuat oleh ITB," uiarnya.

Rikrik menilai, keberadaan festival tersebut juga disambut antusias oleh dosen dan mahasiswa. Sebab, inovasi yang selama ini dikembangkan di laboratorium dan ruang kelas dapat langsung diperkenalkan kepada masyarakat, serta berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

"Nanti saya harapkan banyak ide-ide muncul dari UKM kita, dari masyarakat, dari adik-adik, dari pedagang dan sebagainya. Semoga apa yang sudah dimiliki oleh ITB ini bisa berdampak pada peningkatan keekonomian kita," harapnya.

Akulturasa ITB terbuka bagi masyarakat umum. Selain menjadi ajang edukasi dan pameran inovasi pangan, festival tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pangan nasional yang inovatif dan berkelanjutan.

Editorial Team

Related Article