Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Mendaftar Pendidikan Karakter Siswa Bermasalah di Jabar
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (IDN Times/Amir Faisol)

Bandung, IDN Times - Program pendidikan karakter dengan konsep semi-militer oleh Provinsi Jawa Barat sudah berjalan sejak Jumat (2/5/2025). Pendidikan ini berpusat di Dodik Bela Negara Rindwam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pemerintah Provinsi rencananya akan membuat beberapa gelombang, di mana untuk gelombang pertama kuotanya 350 orang siswa. Namun saat ini baru ada 210 siswa dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat yang tengah menjalani program ini.

1. Orangtua bisa langsung daftarkan anaknya

IDN Times/Debbie Sutrisno

Plt Kepala Disdik Jabar Deden Saepul Hidayat menjelaskan, alur pendaftaran pendidikan karakter bagi siswa yang bermasalah itu dilakukan atas persetujuan orangtua masing-masing. Di mana nantinya orangtua bisa melaporkan keinginannya ke kepala sekolah. 

"Ke sekolah dulu, dari sekolah ke Disdik melalu cabang Dinas Pendidikan," ujar Deden saat dikonfirmasi, Senin (5/5/2025).

Adapun nantinya para orangtua siswa tersebut akan dimintai tanda tangan persetujuan, termasuk secara lisan. Sementara, karakter siswa bermasalah yang layak menjalankan program ini yaitu sering terlibat tawuran, kecanduan main game, merokok, mabuk, balapan motor, menggunakan knalpot brong dan perilaku tidak terpuji lainnya.

Semua kategori siswa bermasalah itu, kata Deden, sudah tertulis dalam Surat Edaran Gubernur nomor: 43/PK.03.04/KESRA dan dipastikannya sudah disampaikan ke seluruh Kantor Cabang Dinas (KCD) Disdik Jabar.

"Kami tidak menyebutnya 'nakal'. Tapi mereka adalah anak-anak yang perlu layanan khusus karena penyimpangan sosial, perilaku, atau emosi," ujarnya. 

2. Disdik Jabar ada kurikulum untuk program ini

IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara materi yang diberikan dalam kegiatan pembinaan ini meliputi bela negara, wawasan kebangsaan, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), kedisiplinan, anti narkoba, pendidikan keagamaan dan lain-lain. Sementara lama waktu untuk gelombang pertama selama dua pekan. 

"Kami sudah punya kurikulumnya, mereka belajar dari bangun pagi, ibadah, khusus islam ibadah solat, ngaji, kemudian olahraga, makannya diatur, izinya ditentukan, kemudian setelah itu ada kegiatan-kegiatan bela negara, kedisiplinan, baris-beraris misalnya," ujarnya. 

Setelah itu, pada siang ke sore ada pembelajaran akademik yang sudah disiapkan siapkan modul serta gurunya. Malam hari, kata dia, juga ada sedikit pemateri.

"Mereka harapkan tidur itu lebih cepat, dan ini sesuai dengan tujuh kegiatan yang dilampirkan oleh Pak Menteri Kemendik, yang itu juga dilakukan di sana. Dalam bayangannya bukan militer begitu ya, tapi kan kedisiplinan, yang memang untuk mendisiplinkan itu, institusi TNI lebih pengalaman daripada kita," kata dia.

3. Pelajaran normal hanya diberikan waktu dua jam

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan ada dua jam bagi siswa untuk mengikuti materi pembelajaran formal seperti di sekolah.

"Setiap hari ada dua jam untuk pembelajaran formal sesuai kurikulum sekolah. Kami ingin pastikan anak-anak tidak ketinggalan pelajaran," kata Herman. 

Editorial Team