BBKSDA Pastikan Kematian Dua Harimau di Bandung Zoo karena Infeksi FPV

- BBKSDA Jawa Barat memastikan dua anak harimau benggala di Bandung Zoo, Hara dan Huru, mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV) yang sangat menular dan mematikan bagi satwa muda.
- Tim gabungan dari berbagai instansi melakukan penanganan intensif berupa terapi simtomatik, pemberian vitamin, obat antiparasit, serta perawatan kritis untuk menyelamatkan kedua harimau tersebut.
- Sebagai langkah pencegahan, BBKSDA dan pengelola memperketat biosekuriti melalui desinfeksi lingkungan, pembatasan akses orang dan alat, serta pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora.
Bandung, IDN Times - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengungkap penyebab kematian dua anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) koleksi Eks Kebun Binatang Bandung, Hara dan Huru. Keduanya diketahui masih berusia 8 bulan saat dinyatakan mati dalam rentang 24–26 Maret 2026.
Pit. Kepala BBKSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, memastikan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi menunjukkan keduanya terinfeksi virus mematikan. Hasil pemeriksaan menyimpulkan Hara dan Huru mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).
"Penyakit ini dikenal sangat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi, terutama pada satwa keluarga kucing (Felidae) yang masih muda," kata dia melalui siaran pers dikutip IDN Times, Minggu (29/3/2026).
1. Virus ini menyerang sel aktif

Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, khususnya pada saluran pencernaan. Dampaknya, terjadi kerusakan mukosa usus secara masif yang memicu diare parah hingga perdarahan.
Pada Hara, kondisi memburuk sejak 22 Maret 2026 dengan gejala muntah, diare, dan penurunan aktivitas. Rapid test FPV dari sampel feses menunjukkan hasil positif, sebelum akhirnya mati pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB.
Sementara Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan, tapi akhirnya mati pada 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB dengan hasil uji yang juga positif FPV.
2. Penanganan intensif sempat dilakukan tim gabungan

Ammy menjelaskan, sejak laporan awal diterima, tim langsung melakukan penanganan terpadu bersama berbagai pihak.
“Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait,” ujarnya.
Penanganan melibatkan Tim Medis Eks Kebun Binatang Bandung, dokter hewan BBKSDA Jawa Barat, UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, hingga dokter hewan dari Khal’s Pet Care Bandung. Langkah yang dilakukan meliputi terapi simtomatik, suportif, pemberian vitamin, obat antiparasit, hingga penanganan intensif saat kondisi kritis.
3. Antisipasi diperketat untuk cegah penularan

Sebagai langkah awal, kedua harimau sempat dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan. Huru yang satu kandang dengan Hara juga langsung diberi vitamin dan obat cacing sebagai tindakan pencegahan.
Ke depan, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola akan memperketat langkah biosekuriti. Upaya ini meliputi desinfeksi lingkungan secara intensif, pembatasan lalu lintas orang dan peralatan, serta peningkatan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora.
FPV sendiri dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, hingga benda perantara. Risiko kematian sangat tinggi pada satwa muda yang sistem imunnya belum berkembang sempurna.

















