Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aplikasi Cadas dan Dilema Pemerataan Akses Pendidikan di Jawa Barat
MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Forum Kepala Sekolah SMA Swasta Jabar menyoroti Aplikasi Cadas karena dianggap membuat calon murid berpindah dari sekolah swasta ke negeri, sehingga banyak sekolah swasta kekurangan siswa.
  • Dinas Pendidikan Jabar menjelaskan Aplikasi Cadas dibuat untuk mengisi kursi kosong di sekolah negeri sesuai pemeringkatan dan hasil konsultasi dengan Kemendiknasmen, bukan untuk praktik titipan.
  • Kadis Pendidikan Purwanto menegaskan penambahan kuota sekitar 31 ribu siswa hanya berlaku di wilayah tertentu dengan kepadatan tinggi, serta seluruh proses SPMB tetap mengikuti prosedur resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 Juli 2026

Purwanto menyebut kelulusan siswa untuk sekolah negeri telah ditentukan pada tanggal ini sebelum rapat dewan guru.

14 Juli 2026

Masa daftar ulang dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai di sekolah-sekolah negeri.

16 Juli 2026

Ketua FKSS Jawa Barat, Ade D. Herdiana, mengkritik penggunaan Aplikasi Cadas yang dinilai merugikan sekolah swasta. Pada hari yang sama, Kepala Disdik Jabar Purwanto membantah tudingan tersebut dan menjelaskan dasar serta mekanisme penambahan kuota melalui aplikasi itu.

kini

Aplikasi Cadas masih menjadi sorotan karena dianggap memengaruhi pemerataan akses pendidikan antara sekolah negeri dan swasta di Jawa Barat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Perdebatan muncul terkait penggunaan Aplikasi Cadangan SPMB (Cadas) oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat yang dinilai memengaruhi pemerataan akses pendidikan antara sekolah negeri dan swasta.
  • Who?
    Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jabar, Ketua FKSS Ade D. Herdiana, serta Kepala Disdik Jabar Purwanto.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di wilayah Provinsi Jawa Barat, dengan laporan dampak di beberapa daerah seperti Bekasi, Bogor, Depok, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
  • When?
    Pernyataan dan tanggapan disampaikan pada Kamis, 16 Juli 2026, bertepatan dengan masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru.
  • Why?
    Aplikasi Cadas dibuat untuk mengisi kursi kosong di sekolah negeri akibat calon siswa yang tidak daftar ulang, namun dipersoalkan karena menyebabkan perpindahan siswa dari sekolah swasta ke negeri.
  • How?
    Sekolah negeri menggunakan data pemeringkatan calon murid tahap dua melalui Aplikasi Cadas untuk menggantikan siswa yang tidak daftar ulang; hal ini menimbulkan kekurangan murid di sejumlah sekolah swasta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada aplikasi baru namanya Cadas buat bantu anak yang belum dapat sekolah negeri di Jawa Barat. Tapi banyak sekolah swasta sedih karena muridnya pindah ke negeri lewat aplikasi itu. Pak Ade dari kumpulan kepala sekolah swasta bilang ini bikin sekolahnya sepi. Tapi Pak Purwanto dari Dinas Pendidikan bilang murid bebas pilih mau sekolah di mana, dan semua aturan tetap dijalankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meskipun menuai perdebatan, kehadiran Aplikasi Cadas menunjukkan upaya Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk memastikan setiap kursi di sekolah negeri terisi secara adil dan transparan. Melalui sistem pemeringkatan dan konsultasi dengan kementerian, pemerintah berusaha mengoptimalkan layanan pendidikan sambil tetap memberi ruang serta subsidi bagi sekolah swasta agar akses belajar tetap terbuka bagi semua siswa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat kembali disorot oleh Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jabar. Mereka mempertanyakan adanya aplikasi Cadangan SPMB (Cadas) yang dituding sebagai sebuah cara agar bisa memasukkan Calon Murid Baru (CMB) ke SMA dan SMK negeri.

Langkah Disdik Jawa Barat ini dinilai bertolak belakang dengan program Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK) yang dibuat untuk menampung para calon murid yang tidak diterima ke sekolah negeri. Namun, pada kenyataannya Disdik Jabar justru mengakomodir CMB lewat Aplikasi Cadas.

"Cadas itu kan Cadangan SPMB. Ketika di sekolah negeri itu banyak yang tidak daftar ulang, maka sekolah-sekolah tersebut bisa mengambil data siswa yang ikut Tahap dua berdasarkan pemeringkatan," kata Ketua FKSS Jawa Barat, Ade D. Herdiana, Kamis (16/7/2026).

1. Maksud adanya Aplikasi Cadas sangat baik

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dampak dari adanya Aplikasi Cadas ini membuat sekolah yang masuk dalam program SSK kekurangan murid, karena banyak di antaranya yang sudah mendaftarkan diri akhirnya mencabut berkas karena sudah diterima ke sekolah negeri melalui aplikasi tersebut.

"Kita tahu kan, dari tanggal 14 sudah mulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Nah, kemarin laporan dari rekan-rekan bahwa banyak siswanya yang mengundurkan diri karena ditelepon, diterima di sekolah negeri melalui jalur cadangan tersebut," katanya.

Ade menilai, Aplikasi Cadas ini pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, yakni mengisi kursi kosong di sekolah negeri berdasarkan pemeringkatan agar tidak terjadi praktik titipan. Namun, kata dia, pelaksanaannya perlu dievaluasi karena perpindahan siswa, terjadi setelah masa daftar ulang SPMB berakhir dan kegiatan MPLS telah dimulai.

"Tujuan awalnya bagus, ketika ada siswa yang tidak daftar ulang digantikan oleh siswa yang secara resmi mengikuti berdasarkan pemeringkatan. Jadi biar tidak ada titipan. Tapi ada kemungkinan juga melalui aplikasi tersebut banyak yang menitipkan, itu hanya formalitas saja seperti pemeringkatan itu," katanya.

2. Implementasinya dinilai bertolak belakang dengan program SSK

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Aplikasi Cadas membuka peluang agar CMB bisa masuk ke sekolah negeri melalui kuota siswa yang tidak melakukan daftar ulang saat SPMB. Akibatnya, beberapa murid yang sudah mendaftarkan ke sekolah swasta mencabut berkas karena dinyatakan lolos ke sekolah negeri.

"Kenapa melalui Cadas tadi? Karena sisa siswa di sekolah negeri itu ada yang tidak daftar ulang. Ketika dinyatakan lulus oleh negeri tapi tidak daftar ulang, tidak datang, maka digantilah oleh siswa-siswa cadangan itu," ucapnya.

Ade juga mempertanyakan bagaimana sekolah negeri dapat mengetahui data calon murid yang telah mendaftar di sekolah swasta.

"Walaupun pihak Disdik tidak boleh mengambil data siswa yang sudah daftar di sekolah swasta, tapi bagaimana mereka tahu siswa itu sudah daftar atau tidak di sekolah swasta," ucapnya.

Ade mengaku belum menghitung jumlah pasti, berapa siswa yang berpindah dari SSK ke sekolah negeri. Namun, berdasarkan laporan yang diterima FKSS, dampaknya dirasakan hampir seluruh sekolah swasta.

Dia menyebut, sejumlah sekolah yang dilaporkan kehilangan calon murid akibat mekanisme tersebut dilaporkan terjadi di wilayah Bekasi, Bogor dan daerah lainnya.

3. Purwanto bantah semua tudingan FKSS

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Gayung bersambut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto membantah tudingan FKSS tersebut. Dia mengatakan, hak memilih sekolah sepenuhnya berada di tangan siswa. CMB berhak menentukan akan melanjutkan pendidikan di sekolah negeri maupun sekolah swasta.

Purwanto menjelaskan, Aplikasi Cadas ini dihadirkan berdasarkan hasil konsultasi dengan Kemendiknasmen. Dia pun membenarkan ada penambahan kuota di sekolah negeri itu.

"Cadas itu, kita kan sesuai dengan hasil konsultasi dengan kementerian, memang ada penambahan kuota. Namun, hak pendidikan itu kan diserahkan kembali kepada siswa, mereka mau sekolah di mana," ujar Purwanto, Kamis (16/7/2026).

"Pak Gubernur ingin memberikan layanan kepada siswa yang kemarin ikut seleksi negeri namun belum masuk, maka sekarang dioptimalkan. Silakan ditempuh prosedurnya dan mekanismenya. Untuk sekolah swasta juga dikasih ruang, yang masuk ke swasta itu juga dibiayai (disubsidi)," kata dia.

Lebih lanjut, Purwanto menegaskan, penambahan rombongan belajar (rombel) tidak dilakukan di seluruh sekolah negeri. Penambahan hanya diberikan di wilayah tertentu, berdasarkan kebutuhan dan kepadatan jumlah calon murid.

"Tidak (semua sekolah Negeri), itu hanya untuk daerah-daerah tertentu dan sudah dikurasi. Jumlahnya pun tidak sama, ada yang hanya tambah empat siswa per kelas, ada yang enam siswa. Itu sudah sesuai dengan peta jumlah murid," katanya.

Adapun total penambahan kuota yang disiapkan pemerintah mencapai sekitar 31 ribu siswa. Jumlah tersebut pun, kata dia, tidak seluruhnya terisi.

"Kemarin total kuota tambahannya sekitar 31.000 siswa. Tapi itu juga tidak terisi semua," ucapnya.

Menurut Purwanto, penambahan kuota diprioritaskan untuk daerah dengan jumlah pendaftar yang tinggi, seperti Bogor, Depok, Bekasi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.

Terkait pelaksanaan SPMB, Purwanto memastikan seluruh tahapan tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan. Ia membantah adanya penerimaan siswa baru di sekolah negeri setelah tahapan SPMB berakhir.

"Tidak, itu tetap mengikuti prosedur SPMB. Kalau sudah tutup dan sudah rapat dewan guru, ya sudah tidak bisa lagi. Tanggal 14 itu kan sudah masa daftar ulang dan mau MPLS. Kelulusan siswa itu kan sudah ditentukan pada tanggal 10 untuk negeri, sebelum rapat dewan guru. Jadi mekanismenya tetap sesuai jadwal," katanya.

Purwanto menambahkan, setelah proses penutupan SPMB selesai, sekolah negeri tidak lagi dapat menerima peserta didik baru di luar mekanisme yang telah ditetapkan.

"Kalau sudah penutupan ya sudah ditutup, tidak bisa narik lagi. Kalau di SMK/SMA swasta masih boleh daftar secara offline. Kalau negeri kan semuanya sudah sistem online, jadi tidak bisa daftar mendadak atau cabut dari swasta ke negeri seenaknya," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article