Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ancaman Siber Meningkat, Perusahaan Perlu Perkuat Ketahanan Digital
ilustrasi keamanan siber (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Pemanfaatan cloud dan AI meningkat, namun risiko serangan siber makin kompleks, terbukti dari kasus bank daerah yang rugi Rp143 miliar akibat auto-debit massal.
  • BDO Indonesia menekankan empat pilar ketahanan siber: kontrol identitas, otomatisasi keamanan, modernisasi respons insiden, serta pembangunan budaya keamanan di tempat kerja.
  • Budaya keamanan dan pelatihan karyawan dinilai krusial agar SDM mampu mengenali rekayasa sosial dan ancaman berbasis AI demi menjaga ketahanan digital perusahaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemanfaatan teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (AI) terus berkembang di berbagai sektor industri. Di balik peluang tersebut, perusahaan juga menghadapi risiko serangan siber yang dinilai semakin kompleks dan sulit diprediksi.

BDO di Indonesia menilai ketahanan siber kini menjadi aspek penting yang perlu diperkuat seiring meningkatnya transformasi digital di lingkungan bisnis. Langkah ini dinilai tidak hanya melindungi sistem teknologi informasi, tetapi juga menjaga stabilitas operasional dan reputasi perusahaan.

Peringatan tersebut mengemuka setelah terjadinya sejumlah kasus serangan siber yang menimbulkan kerugian besar. Salah satunya adalah insiden yang menimpa sebuah bank daerah pada Februari 2026 akibat serangan auto-debit massal yang menguras dana sekitar Rp143 miliar dari lebih dari 6.000 rekening nasabah.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa investasi pada sistem keamanan digital dinilai menjadi kebutuhan mendesak, terutama di tengah meningkatnya penggunaan layanan berbasis cloud dan AI.

1. Serangan siber berkembang seiring kemajuan teknologi

Ancaman Siber Meningkat, Perusahaan Perlu Perkuat Ketahanan Digital (Dok. BDO)

Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, Reza Aminy, mengatakan hasil investigasi terhadap kasus tersebut menunjukkan serangan dapat dipicu oleh berbagai kelemahan, mulai dari sistem teknologi yang tidak diperbarui hingga tata kelola keamanan yang belum memadai.

“Investigasi menunjukkan bahwa insiden tersebut bisa datang dari beberapa faktor, dari kegagalan keamanan kritis, termasuk sistem IT yang belum diperbarui sejak 2012, tata kelola yang lemah tanpa Security Operation Centre (SOC) 24 jam, serta risiko vendor yang tidak dikelola dengan baik."

"Pada akhirnya, kerugian Rp143 miliar harus ditutup menggunakan laba tahun lalu perusahaan, yang menegaskan realitas pahit bahwa biaya pemulihan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan,” ujarnya.

Menurut Reza, lanskap ancaman siber kini berubah semakin cepat. Di lingkungan cloud, pelaku kejahatan siber memanfaatkan pencurian identitas digital, rekayasa sosial, hingga penyalahgunaan sistem untuk memperoleh akses ke data penting perusahaan.

Ia juga menilai perkembangan AI menjadi pisau bermata dua karena selain meningkatkan produktivitas, teknologi tersebut juga dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk membuat malware, serangan phishing, hingga deepfake yang semakin sulit dikenali.

2. BDO dorong penerapan empat pilar ketahanan siber

Ancaman Siber Meningkat, Perusahaan Perlu Perkuat Ketahanan Digital (Dok. BDO)

BDO di Indonesia mendorong perusahaan untuk membangun sistem pertahanan digital yang lebih adaptif melalui empat langkah utama, yakni memperkuat kontrol identitas, mengotomatisasi sistem keamanan, memodernisasi respons terhadap insiden, dan membangun budaya keamanan di lingkungan kerja.

Menurut Reza, pendekatan tersebut diperlukan agar organisasi mampu mengurangi risiko serangan sekaligus mempercepat penanganan ketika insiden terjadi.

"Di sisi lain, meskipun AI meningkatkan produktivitas, teknologi ini bertindak bagai pisau bermata dua dengan memperkenalkan risiko privasi yang kompleks dan memfasilitasi pelaku kejahatan siber," kata Reza.

Ia menilai organisasi perlu beralih dari sistem pertahanan manual menuju sistem keamanan yang lebih otomatis agar dapat merespons ancaman secara lebih cepat dan efektif.

3. Budaya keamanan dinilai sama pentingnya dengan teknologi

Ancaman Siber Meningkat, Perusahaan Perlu Perkuat Ketahanan Digital (Dok. BDO)

Selain memperkuat infrastruktur digital, BDO menilai penguatan budaya keamanan di lingkungan perusahaan menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Perusahaan didorong untuk menerapkan kerangka manajemen risiko siber secara menyeluruh, mulai dari identifikasi aset penting, penguatan kontrol keamanan, hingga pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Pendekatan tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan agar karyawan mampu mengenali berbagai bentuk rekayasa sosial maupun ancaman digital berbasis AI.

"Manajemen risiko siber harus dijalin erat ke dalam budaya perusahaan, memastikan karyawan tetap menjadi lini pertahanan pertama melawan rekayasa sosial dan ancaman berbasis AI," ujar Reza.

BDO menilai kombinasi antara penguatan teknologi, tata kelola, dan kesiapan sumber daya manusia menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk menjaga ketahanan digital di tengah percepatan transformasi teknologi.

Editorial Team

Related Article