Bandung, IDN Times - Kasus dugaan korupsi tata niaga timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk (TINS) periode 2015-2022 dengan klaim kerugian mencapai Rp300 triliun menjadi perhatian banyak ahli. Bahkan, ada ahli yang memandang bahwa kasus tersebut harus diselesaikan dengan Undang-undang (UU) Lingkungan Hidup; bukan UU Tindak Pidana Korupsi (tipikor).
Dosen Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara Mahmud Mulyadi menjelaskan, jika ada suatu ketentuan pidana yang dirumuskan dalam suatu UU khusus yang mau diterapkan dalam suatu UU khusus lainnya, maka yang berlaku adalah UU khusus yang secara khusus telah mengatur delik tersebut secara lengkap atau sistematik.
Hal tersebut meliputi perbuatan pidananya, pertanggung-jawaban pidana dan sanksi pidananya.
Mahmud menjelaskan, dalam kondisi terjadinya dugaan tindak pidana yang masuk ialah antara lain delik UU Pengelolaan Lingkungan Hidup, delik UU Kehutanan, delik UU Pertambangan Minerba, delik UU Perpajakan, delik UU Perbankan, dan UU khusus lainnya.
Namun, di sisi lain beririsan dengan indikasi adanya kerugian keuangan negara yang diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor, maka yang harus diberlakukan adalah ketentuan delik UU Pengelolaan Lingkungan Hidup, delik UU Kehutanan, delik UU Pertambangan Minerba, delik UU Perpajakan, delik UU Perbankan, dan UU khusus lainnya; bukan ketentuan tipikor.
“Dalam hal ini delik Pasal dan Pasal 3 UU Tipikor sebagai lex generalis, sedangkan delik UU Pengelolaan Lingkungan Hidup, delik UU Kehutanan, delik UU Pertambangan Minerba, delik UU Perpajakan, delik UU Perbankan dan UU khusus,” ujar Mulyadi, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Senin (2/12/2024).
