Ilustrasi kebakaran lahan (unsplash.com/Matt Palmer)
Selain distribusi air, BPBD berharap adanya solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur dalam di wilayah rawan.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Majalengka, Reza Permana, menyebut penyaluran air hanya bersifat sementara.
“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk CSR, untuk pembangunan sumber air permanen,” ujarnya.
Di sisi lain, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD mengakui penanganan kebakaran lahan cukup sulit, terutama karena masih adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar.
Data sebelumnya mencatat kebakaran lahan terbesar terjadi pada 2019 dengan luas mencapai 232 hektare.
BPBD pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan guna mencegah risiko kebakaran selama musim kemarau.