195 Kasus HIV Muncul di Cirebon, Screening Masih Setengah Jalan

- Kabupaten Cirebon menemukan 195 kasus HIV positif sepanjang Januari-Juli 2026 dari 26.113 orang yang diperiksa, dengan 52 kasus telah memasuki fase AIDS.
- Kasus positif banyak ditemukan pada pasien TBC sebanyak 52 kasus, kelompok LSL 51 kasus, serta kategori populasi lainnya yang mencatatkan 73 kasus.
- Cakupan skrining baru sekitar 54 persen dari target 48.466 orang; sekitar 22.353 orang belum diperiksa, sehingga perluasan deteksi dan akses layanan kesehatan didorong.
Cirebon, IDN Times - Sebanyak 195 kasus HIV terkonfirmasi positif ditemukan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sepanjang Januari hingga Juli 2026. Temuan tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap 26.113 orang dari total target 48.466 orang.
Dari kasus yang ditemukan, sebanyak 52 kasus telah memasuki fase AIDS. Sementara itu, cakupan pemeriksaan baru mencapai sekitar 54 persen dari target yang ditetapkan hingga Juli 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kabupaten Cirebon, Mona Isabela Saragih, mengatakan pemeriksaan HIV dilakukan terhadap sejumlah kelompok populasi yang menjadi sasaran screening.
“Temuan ini menunjukkan pemeriksaan HIV masih perlu diperluas. Semakin banyak masyarakat yang mengetahui status HIV-nya, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan,” kata Mona, Kamis (3/9/2026).
1. Ada sebanyak 195 kasus dari berbagai kelompok

Ilustrasi HIV/AIDS (pexels.com/Photo by Anna Shvets) Berdasarkan data pemeriksaan, temuan kasus positif berasal dari sejumlah kelompok sasaran. Pasien tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu kelompok dengan temuan kasus positif terbanyak.
Dari target pemeriksaan 7.993 pasien TBC, sebanyak 3.179 orang telah menjalani tes. Dari jumlah tersebut, ditemukan 52 kasus positif HIV.
Kelompok lelaki suka lelaki (LSL) juga mencatatkan temuan yang cukup tinggi. Dari target 2.044 orang, baru 512 orang menjalani pemeriksaan. Hasilnya, ditemukan 51 kasus positif HIV.
“Meski capaian pemeriksaannya masih rendah, kelompok tersebut mencatatkan 51 kasus positif HIV,” ujar Mona.
Sementara itu, pemeriksaan terhadap ibu hamil menjadi yang terbesar dari sisi jumlah orang yang dites. Dari target 36.895 orang, sebanyak 21.459 orang atau sekitar 58 persen telah menjalani pemeriksaan. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan enam kasus positif HIV.
2. Temuan juga muncul di populasi lain

Ilustrasi perempuan dan HIV/AIDS (IDN Times/Aditya Pratama) Kasus positif juga ditemukan pada kelompok wanita pekerja seks (WPS), warga binaan pemasyarakatan (WBP), dan transgender.
Pada kelompok WPS, sebanyak 515 dari target 635 orang telah menjalani pemeriksaan. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan lima kasus positif.
Kemudian, dari 339 WBP yang diperiksa dari target 700 orang, ditemukan empat kasus positif. Adapun pada kelompok transgender, 109 dari target 199 orang telah menjalani pemeriksaan dan ditemukan empat kasus positif.
Sementara itu, kelompok pengguna napza suntik (IDUS) belum mencatatkan pemeriksaan pada periode tersebut.
Mona mengatakan, sebanyak 73 kasus positif HIV justru tercatat pada kategori populasi lainnya. Jumlah tersebut menjadi salah satu bagian terbesar dari keseluruhan temuan 195 kasus.
“Di luar kelompok populasi yang telah ditentukan, kategori populasi lainnya justru mencatatkan jumlah temuan positif HIV paling tinggi,” katanya.
3. Masih ada 22.353 orang belum diperiksa

kesadaran diri sendiri mengenai HIV/AIDS Secara keseluruhan, pemeriksaan HIV hingga Juli 2026 baru menjangkau 26.113 orang. Dengan target 48.466 orang, masih terdapat sekitar 22.353 orang yang belum menjalani pemeriksaan.
Mona mengatakan perluasan screening menjadi penting agar kasus HIV dapat ditemukan lebih awal.
“Dengan capaian pemeriksaan baru 53 persen hingga Juli 2026, masih terdapat sekitar 47 persen target yang perlu dikejar,” ujar dia.
Menurut dia, pemeriksaan tidak hanya bertujuan menemukan kasus, tetapi juga memastikan orang yang terkonfirmasi positif dapat segera memperoleh layanan kesehatan.
Mona menjelaskan, orang yang mengetahui status HIV lebih awal dapat segera memperoleh penanganan dan terapi antiretroviral (ARV) melalui layanan kesehatan.
Deteksi dini juga diperlukan untuk mencegah infeksi berkembang ke kondisi yang lebih berat. Temuan 52 kasus yang telah memasuki fase AIDS menjadi salah satu alasan cakupan pemeriksaan perlu ditingkatkan.
“Semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan,” kata Mona.
Selain pemeriksaan, pemerintah daerah juga mendorong penjangkauan masyarakat dan edukasi mengenai HIV. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan status kesehatannya.




















