Bandung Masih Jadi Pasar Mesin Apparel meski Industri Tekstil Melambat

- Industri TPT Jawa Barat melambat akibat persaingan global dan biaya produksi, tetapi Bandung tetap diminati untuk teknologi apparel yang mendukung produksi fleksibel.
- IAPE 2026 di Bandung menghadirkan sekitar 20 perusahaan dan lebih dari 40 brand; permintaan mesin ditopang pesanan custom, print on demand, serta jersey komunitas dan olahraga.
- Mayoritas mesin apparel masih impor, sehingga nilai tukar dan pembatasan impor menaikkan biaya investasi; pelaku usaha juga menghadapi kompetisi biaya dari Vietnam dan Bangladesh.
Bandung, IDN Times – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat tengah menghadapi tekanan. Persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh, biaya produksi, hingga perlambatan pertumbuhan printing membuat pelaku usaha harus semakin selektif membaca peluang.
Namun, kondisi itu belum membuat Bandung kehilangan daya tarik sebagai pasar teknologi produksi apparel. Permintaan terhadap mesin masih ada, terutama dari pelaku usaha yang membutuhkan produksi lebih fleksibel untuk memenuhi pesanan custom, komunitas, hingga kebutuhan print on demand.
Gambaran tersebut terlihat dalam Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 yang digelar di Bandung Convention Centre pada 2–5 September 2026. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-11 ini menghadirkan sekitar 20 perusahaan dengan lebih dari 40 brand yang menawarkan berbagai teknologi produksi apparel.
1. Permintaan Mesin Masih Ada meski Pertumbuhan Printing Melambat

Dok.Istimewa Ketua KOPI Grafika, Usman Batubara, mengatakan pasar printing memang belum berada dalam kondisi pertumbuhan tinggi. Berdasarkan pengamatannya, pertumbuhan kebutuhan printing saat ini berada di kisaran 3–4 persen.
“Peningkatannya itu ya memang tidak dalam kondisi baik-baik saja, tapi pertumbuhan itu memang melambat. Paling mungkin ada sekitar 3–4 persen aja pertambahan untuk printing, untuk kebutuhan printing,” kata Usman.
Meski lajunya melambat, kebutuhan terhadap teknologi produksi tetap muncul. Pasar tidak hanya berasal dari perusahaan tekstil berskala besar, tetapi juga pelaku usaha menengah dan kecil yang membutuhkan mesin dengan kemampuan produksi lebih fleksibel.
Project Manager Moremedia Indonesia, Bryan W. Arsaha, mengatakan Bandung masih memiliki permintaan yang cukup tinggi terhadap teknologi apparel. Bahkan, sejumlah peserta pameran disebut sudah mengamankan keikutsertaan untuk penyelenggaraan berikutnya.
“Kalau demand-nya untuk yang di Bandung ini cukup tinggi, jadi biasanya setelah pameran ini langsung pada booking untuk pameran,” ujar Bryan.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlambatan industri tidak otomatis membuat kebutuhan terhadap mesin berhenti. Pelaku usaha tetap membutuhkan teknologi untuk menyesuaikan diri dengan karakter pasar yang semakin cepat berubah.
2. Jersey dan produksi custom jadi penopang pasar

IDN Times/Yogi Pasha Salah satu perubahan yang paling terasa berada pada pola produksi pakaian. Pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan pesanan dalam jumlah besar, tetapi mulai bergerak ke produksi yang lebih spesifik berdasarkan kebutuhan konsumen.
Bryan melihat permintaan print on demand dan custom printing cukup kuat pada segmen menengah dan kecil. Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya kegiatan komunitas dan olahraga yang membutuhkan pakaian dengan desain khusus.
“Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah permintaan berbasis print on demand, custom printing. Itu yang sekarang baru tren, yang kalau di dunia fashion itu fast fashion,” katanya.
Jersey menjadi salah satu contoh paling mudah untuk melihat perubahan tersebut. Berbagai kegiatan lari dan komunitas pengendara kini kerap memiliki pakaian sendiri yang dibuat khusus untuk satu kegiatan atau kelompok.
“Jersey kadang-kadang cuma dipakai pas running terus udah. Nah, itu yang sekarang baru tinggi sekali demand-nya. Setiap event running kostum jersey-nya baru, tiap event komunitas riders punya kostumnya masing-masing. Nah, itu demand-nya sangat tinggi,” ujar Bryan.
Perubahan pola permintaan ini ikut memengaruhi teknologi yang dibutuhkan. Di IAPE 2026, teknologi Direct-to-Garment (DTG) kembali mendapat perhatian, sementara teknologi direct-to-textile memungkinkan proses pencetakan dilakukan langsung pada lembaran kain.
Bagi pelaku usaha, teknologi semacam ini menawarkan fleksibilitas untuk mengerjakan pesanan dengan jumlah lebih kecil tanpa harus kehilangan kemampuan mengikuti perubahan desain dan tren.
3. Tantangannya, mesin apparel Indonesia masih impor

IDN Times/Yogi Pasha Di balik peluang tersebut, ada persoalan yang belum selesai: sebagian besar teknologi mesin apparel yang digunakan industri Indonesia masih berasal dari luar negeri.
Bryan mengatakan Indonesia belum memiliki kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin apparel tersebut dalam skala yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Akibatnya, perubahan nilai tukar dan kebijakan impor dapat langsung memengaruhi harga mesin sekaligus keputusan investasi pelaku usaha.
“Kalau mesin-mesin itu sebagian besar masih impor. Kita belum punya kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin itu secara masif,” ujar Bryan.
Tekanan tersebut membuat kondisi pasar mesin tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pembatasan impor dan kenaikan nilai tukar ikut membuat biaya mesin meningkat sehingga peluang bisnisnya masih ada, tetapi tidak sebesar sebelumnya.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri apparel nasional. Di satu sisi, pelaku usaha membutuhkan teknologi untuk menekan biaya produksi dan menghadapi persaingan global. Di sisi lain, teknologi tersebut masih harus didatangkan dari luar negeri sehingga investasi mesin ikut terpengaruh kondisi ekonomi dan perdagangan.
Persaingan itu terasa semakin penting bagi Jawa Barat yang memiliki banyak perusahaan tekstil berorientasi ekspor. Bryan mengatakan perusahaan Indonesia harus berhadapan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh yang memiliki biaya produksi lebih kompetitif.
“Cuman memang tantangannya beberapa negara itu memberikan harga yang kompetitif untuk produksi, seperti kita ketahui bersama Vietnam, Bangladesh,” katanya.
Karena itu, menurut Bryan, tantangan industri bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi. Pelaku usaha juga harus mencari cara agar biaya produksi lebih rendah dan produknya tetap dapat diterima pasar.
“Tantangannya bagaimana untuk produksi cost-nya bisa lebih rendah dan produk-produknya supaya lebih bisa diterima, kalau dari segi industri tekstilnya,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Bandung masih memiliki ruang sebagai pasar mesin apparel. Bukan karena industri sedang mengalami ledakan pertumbuhan, melainkan karena pelaku usaha tetap membutuhkan teknologi untuk beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi, produksi custom, dan persaingan biaya yang semakin ketat.


















