SIG Hidupkan Kembali Semen Kujang, Merek yang Hadir Sejak 1975

- SIG kembali memasarkan Semen Kujang di Jawa Barat, mengandalkan pengenalan merek sejak 1975 dan respons konsumen yang masih mencari produk tersebut.
- Toko bangunan di Sumedang mencatat penjualan kuat; TB Resna Jaya menjual lebih dari 3.800 zak setelah menerima pasokan Semen Kujang.
- Semen Kujang diproduksi di Pabrik Narogong sebagai PCC berteknologi Active Micro Particle, sementara SIG memanfaatkannya untuk memperkuat kedekatan dengan pelaku konstruksi Jawa Barat.
Bandung, IDN Times - Semen Kujang kembali dipasarkan di Jawa Barat setelah dihidupkan lagi oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Menariknya, merek yang pertama kali hadir pada 1975 itu ternyata belum kehilangan daya tariknya di pasar. Sejumlah toko bangunan mengaku konsumen masih mencari Semen Kujang ketika produk kembali beredar. Bahkan, salah satu toko di Sumedang mencatat penjualan lebih dari 3.800 zak dalam waktu relatif singkat sejak menerima pasokan produk tersebut.
Respons pasar tersebut menjadi sinyal bahwa Semen Kujang masih memiliki kekuatan merek yang kuat di Jawa Barat. Di tengah persaingan industri semen nasional yang semakin ketat, SIG melihat kedekatan historis masyarakat terhadap merek tersebut sebagai modal untuk memperkuat penetrasi pasar di wilayah Pasundan. Bagi perusahaan, peluncuran kembali Semen Kujang bukan sekadar menghadirkan produk lama ke pasar, melainkan mengaktifkan kembali sebuah merek yang masih memiliki tempat di benak konsumen.
1. Konsumen Ternyata Masih Mencari Semen Kujang

Direktur Sales dan Marketing SIG, Dicky Saelan (keempat kiri) dan Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Rizki Kresno Edhie Hambali (kedua kiri) Bandung pada sesi meet and greet bersama pemain Persib Bandung dalam rangkaian Grand Launching Semen Kujang Hotel InterContinental, Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (28/8/2026). (Dok.Istimewa) Fakta paling menarik dari peluncuran ulang Semen Kujang justru datang dari respons pasar. Meski telah lama tidak menjadi sorotan utama di industri semen, nama Semen Kujang ternyata masih dikenal dan dicari oleh konsumen di Jawa Barat. Hal itu dirasakan langsung oleh para pemilik toko bangunan yang kembali menjual produk tersebut setelah dipasarkan ulang oleh SIG.
Asni Arini, pemilik TB Rama Daris di Sumedang, mengaku tidak mengalami kesulitan saat memasarkan Semen Kujang. Menurutnya, banyak pelanggan yang sudah mengenal kualitas produk tersebut sehingga proses penjualannya berjalan lebih mudah dibanding memperkenalkan merek baru kepada konsumen.
“Kualitasnya memang sudah teruji, merek ini memang sudah dari dulu banyak yang kenal. Sekarang Semen Kujang balik deui, jadi penjualannya tidak terlalu sulit,” ujar Asni.
Cerita serupa datang dari Adin, pemilik TB Resna Jaya di Sumedang. Ketika kembali ditawari Semen Kujang pada akhir Juli 2026, ia langsung melakukan pemesanan dalam jumlah besar karena telah lama mengenal produk tersebut. Keputusan itu terbukti tepat. Hingga saat ini, penjualan Semen Kujang di tokonya telah mencapai lebih dari 3.800 zak, membuatnya meraih penghargaan Juara 1 Top Spender Semen Kujang dalam rangkaian grand launching produk.
“Semen Kujang dari dulu sudah saya tahu kualitasnya bagus. Alhamdulillah, senang sekali dan terima kasih banyak kepada SIG, bagus pisan,” kata Adin.
Di tengah banyaknya pilihan merek semen yang tersedia saat ini, respons tersebut menunjukkan bahwa Semen Kujang tidak memulai kembali dari nol. Merek yang pernah menjadi bagian dari pembangunan Jawa Barat itu masih memiliki modal penting berupa kepercayaan dan daya ingat konsumen yang terbangun selama puluhan tahun.
2. Merek yang Menjadi Bagian Sejarah Jawa Barat Sejak 1975

Direktur Sales dan Marketing SIG, Dicky Saelan memberikan paparan keunggulan merek Semen Kujang dalam acara Grand Launching Semen Kujang di Hotel InterContinental, Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (28/8/2026). (Dok.Istimewa) Semen Kujang bukanlah merek baru. Produk ini pertama kali hadir pada 1975 dan menjadi bagian dari sejarah industri semen di Jawa Barat. Karena memiliki perjalanan panjang dan kedekatan dengan masyarakat setempat, SIG melihat Semen Kujang bukan hanya sebagai produk konstruksi, tetapi juga sebagai merek yang memiliki nilai emosional dan identitas lokal yang kuat.
Direktur Sales dan Marketing SIG, Dicky Saelan, mengatakan Semen Kujang telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Jawa Barat selama lebih dari lima dekade. Karena itu, perusahaan memilih menghidupkan kembali merek tersebut dengan kualitas dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi masa kini.
“Kami ingin mengembalikan merek yang menjadi kebanggaan warga Sunda, sekaligus menghadirkan produk dengan teknologi mutakhir yang lebih kokoh, relevan, dan siap menjawab tantangan masa depan,” ujar Dicky.
Saat ini Semen Kujang diproduksi oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk di Pabrik Narogong, Jawa Barat. Produk semen tipe Portland Composite Cement (PCC) tersebut dilengkapi teknologi Active Micro Particle yang diklaim mampu mengisi rongga material secara lebih optimal sehingga menghasilkan struktur bangunan yang lebih padat, kuat, dan tahan lama.
Bagi SIG, sejarah panjang itulah yang menjadi pembeda Semen Kujang dibanding sekadar peluncuran produk baru. Perusahaan mencoba menggabungkan kekuatan warisan merek yang sudah dikenal masyarakat dengan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
3. Strategi SIG Memanfaatkan Kekuatan Merek Lokal

Direktur Sales dan Marketing SIG, Dicky Saelan (kanan) dan Group Head of Marketing SIG, Niluh Putu Setiawati (kiri) memberikan hadiah undian grand prize berupa motor Honda Beat kepada pemilik TB Rama Daris, Asni Arini (kedua kiri) dan pemilik TB Buana Alba Jaya, Didin (ketiga kiri) dalam acara Grand Launching Semen Kujang Hotel InterContinental, Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (28/8/2026). (Dok.Istimewa) Kembalinya Semen Kujang juga menjadi bagian dari strategi SIG untuk memperkuat posisinya di Jawa Barat, salah satu pasar konstruksi terbesar di Indonesia. Sebagai market leader industri bahan bangunan nasional, SIG sebenarnya memiliki sejumlah merek besar dalam portofolionya. Namun untuk Jawa Barat, perusahaan memilih memanfaatkan kekuatan merek lokal yang sudah memiliki hubungan historis dengan konsumennya.
Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, mengatakan keputusan menghadirkan kembali Semen Kujang didorong oleh potensi pasar Jawa Barat sekaligus kedekatan masyarakat terhadap merek tersebut. Menurutnya, peluncuran kembali Semen Kujang bukan hanya soal produk, tetapi juga upaya membangun kembali hubungan dengan para pelaku industri konstruksi di daerah.
“Bagi kami, ini bukan sekadar memperkenalkan kembali sebuah produk, tetapi menjadi awal dari interaksi dan pengalaman baru bersama pelanggan. Hari ini, kita bersama-sama menyambut kembalinya Semen Kujang,” ujar Indrieffouny.
Ia menambahkan, kehadiran kembali Semen Kujang diharapkan dapat semakin mendekatkan SIG dengan distributor, toko bangunan, kontraktor, pengembang, konsultan, tukang bangunan, hingga masyarakat Jawa Barat secara luas.
“Melalui Semen Kujang, kami ingin semakin dekat dengan para distributor, toko bangunan, kontraktor, pengembang, konsultan, tukang bangunan, serta seluruh masyarakat Jawa Barat. Karena kami percaya bahwa keberhasilan pembangunan lahir dari kolaborasi seluruh pelaku industri,” katanya.
Strategi tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Persib Bandung dalam rangkaian peluncuran produk. Langkah itu menunjukkan bahwa SIG tidak hanya menjual material bangunan, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali kedekatan emosional antara Semen Kujang dan masyarakat Jawa Barat. Respons pasar yang muncul dalam beberapa pekan pertama menjadi indikasi bahwa pendekatan tersebut masih relevan. Ketika sebuah merek berhasil menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat, nilai yang dibangun selama puluhan tahun dapat berubah menjadi keunggulan bisnis yang tetap bertahan hingga hari ini.

















