Trotoar Gasibu Terlalu Tinggi, Gubernur Dedi Mulyadi Sentil DBMPR

- Trotoar di persimpangan Sentot Alibasyah-Surapati, sekitar Gasibu Bandung, disorot karena dinilai terlalu tinggi dan berpotensi membahayakan pejalan kaki serta pengendara.
- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta DBMPR mengevaluasi trotoar dengan menambahkan undakan agar akses dari jalan ke trotoar tidak terlalu curam.
- Evaluasi juga mencakup jalur disabilitas; penataan kawasan Gedung Sate-Gasibu turut mengubah jalan menjadi tiga jalur selama sebagian Jalan Diponegoro ditutup.
Bandung, IDN Times - Trotoar sekitar Lapangan Gasibu tepatnya di persimpangan Jalan Sentot Alibasyah - Surapati, Kota Bandung menjadi perhatian warganet karena ketinggiannya disebut tidak lazim. Hal itu pun dianggap membahayakan para pejalan kaki dan pengendara yang melintas karena lokasinya berada di persimpangan.
Tidak hanya warganet, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM juga mengomentari hal itu dan mengakui trotoar kawasan tersebut khususnya akses dari arah Monumen Perjuangan menuju Gasibu, terlalu tinggi dibandingkan banyak trotoar lainnya.
"Mengenai zebra cross (trotoar) yang dari arah Monju (Monumen Perjuangan) ke Gasibu, itu saya melihat memang terlalu tinggi," ucap Dedi dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
1. Minta proses pembangunan dievaluasi

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Dengan begitu, KDM mengatakan telah meminta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DBMPR) untuk melakukan evaluasi. Salah satu solusi yang disiapkan adalah membuat undakan agar pejalan kaki tidak harus langsung naik dari permukaan jalan ke trotoar yang tinggi.
"Saya sudah meminta Kepala PU (DBMPR) untuk melakukan evaluasi dengan membuat undakan, sehingga naiknya ada trap-nya, tidak langsung dari jalan raya ke trotoar," ujarnya.
2. Jalur penyandang disabilitas harus dipenuhi

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Selain itu, akses bagi penyandang disabilitas juga diminta menjadi bagian dari evaluasi penataan kawasan. Dia menegaskan, trotoar dibangun bukan untuk berjualan melainkan hak dari pejalan kaki.
"Dan dibuatkan jalur untuk penyandang disabilitas dengan satu catatan bahwa trotoar itu untuk pejalan kaki, bukan untuk pedagang, bukan untuk pemotor maupun pesepeda," ungkap Dedi.
3. Banyak perubahan rute setelah proyek penyatuan halaman Gedung Sate-Gasibu

Wajah baru Gedung Sate di era kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Sebagaimana diketahui, pembangunan trotoar tersebut masuk dalam bagian penataan kawasan halaman Gedung Sate-Gasibu. Tidak hanya trotoar, jalan yang sebelumnya hanya dua jalur saat ini menjadi tiga jalur, karena untuk memfasilitasi pengguna Jalan Diponegoro yang saat ini masih ditutup sebagian.
Para pengendara yang sebelumnya bisa melewati Jalan Diponegoro, depan Gedung Sate, kini harus memutar melalui Jalan Sentot Alibasyah. Namun, Pemerintah Provinsi Jabar memastikan nantinya masyarakat bisa tetap melewati jalan tersebut setelah proses pembangunan rampung sepenuhnya.



















