Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dulu Dibakar, Daun Nanas di Subang Kini Bernilai Ekonomi Tinggi

Kota Bandung
Dulu Dibakar, Daun Nanas di Subang Kini Bernilai Ekonomi Tinggi
Alan Sahroni raih penghargaan Gold Best Local Hero melalui program Serat Cinta yang diinisiasi Pertamina EP Subang Field, di CID Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi. (Dok.Istimewa)
  • Limbah daun nanas di Desa Cikadu, Subang, yang sebelumnya dibakar dan memperburuk kualitas udara, kini diolah menjadi serat tekstil melalui kelompok Pinlefi bersama Pertamina EP Subang Field.
  • Program Serat Cinta memberdayakan 44 petani, pemuda, dan kelompok perempuan, dengan produksi sekitar 160 kilogram serat kering per bulan dari daun nanas serta batang pisang.
  • Inovasi Alan Sahroni meraih Gold Best Local Hero CID Upstream Award 2026, sekaligus membuka pendapatan baru dan peluang usaha dari bahan tekstil ramah lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Subang, IDN Times – Daun nanas yang selama ini dianggap limbah pertanian dan dibakar setelah panen kini berubah menjadi sumber penghasilan baru bagi warga Desa Cikadu, Kabupaten Subang. Melalui inovasi pengolahan serat alam, limbah tersebut diolah menjadi bahan baku tekstil dan berbagai produk bernilai ekonomi yang memberdayakan puluhan warga.

Inovasi yang digagas Alan Sahroni bersama masyarakat binaan Pertamina EP (PEP) Subang Field itu mengantarkannya meraih penghargaan Gold kategori Best Local Hero pada ajang Community Involvement and Development (CID) Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi.

Senior Manager Pertamina EP Subang Field, Despredi Akbar, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan mampu menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan maupun kesejahteraan warga.

"Penghargaan Gold Best Local Hero ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi yang dilandasi niat tulus mampu menghadirkan perubahan besar bagi masyarakat. Pertamina EP Subang Field akan terus mendampingi dan memberikan dukungan penuh kepada para local hero seperti Kang Alan," ujar Despredi.

  1. 1. Berawal dari masalah limbah yang dibakar dan kesehatan warga

    ilustrasi pohon nanas (unsplash.com/Yoel Winkler)
    ilustrasi pohon nanas (unsplash.com/Yoel Winkler)

    Kabupaten Subang dikenal sebagai salah satu sentra nanas terbesar di Jawa Barat. Namun di balik tingginya produksi tersebut, setiap satu hektare kebun nanas menghasilkan hingga 14 ton limbah daun.

    Selama bertahun-tahun, daun-daun tersebut umumnya dibakar setelah panen. Praktik itu tidak hanya menghasilkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga berdampak pada kualitas udara di lingkungan sekitar.

    Data program mencatat, pada 2020 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit terbanyak kedua di Desa Cikadu dengan 878 kasus.

    Melihat kondisi tersebut, Alan tergerak mencari solusi agar limbah daun nanas tidak lagi menjadi sumber pencemaran, tetapi bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

    Bersama PEP Subang Field, ia kemudian membentuk kelompok Pineapple Leaf Fiber (Pinlefi) melalui program Pesona Subang (Pemanfaatan Serat Olahan Daun Nanas Subang) untuk mengolah limbah daun nanas menjadi serat tekstil ramah lingkungan.

  2. 2. Libatkan 44 warga dan hasilkan 160 kilogram serat per bulan

    IMG-20260831-WA0016.jpg
    Alan Sahroni raih penghargaan Gold Best Local Hero melalui program Serat Cinta yang diinisiasi Pertamina EP Subang Field, di CID Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi. (Dok.Istimewa)

    Program tersebut terus berkembang melalui Serat Cinta (Sinergi Ekonomi Rakyat berbasis Alam Terbarukan melalui Cipta Inovasi dan Nilai Tambah).

    Alan bahkan memodifikasi mesin dekortikator buatannya menjadi mesin multifungsi yang mampu mengolah tidak hanya daun nanas, tetapi juga batang pisang menjadi serat, benang, kain hingga produk eco-fashion.

    Saat ini program tersebut telah memberdayakan 44 warga lokal yang terdiri dari petani, pemuda dan kelompok perempuan.

    Kapasitas produksinya mencapai sekitar 160 kilogram serat kering setiap bulan.

    Dampaknya, petani yang sebelumnya membuang limbah daun kini memperoleh tambahan penghasilan. Sementara operator mesin, penenun dan kelompok pengrajin mendapatkan sumber pendapatan baru dari aktivitas produksi serat alam.

  3. 3. Penghargaan jadi bukti dampak program

    IMG-20260831-WA0018.jpg
    Alan Sahroni raih penghargaan Gold Best Local Hero melalui program Serat Cinta yang diinisiasi Pertamina EP Subang Field, di CID Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi. (Dok.Istimewa)

    Selain mengurangi limbah pertanian, program Serat Cinta juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

    Serat hasil olahan daun nanas dan batang pisang kini dimanfaatkan sebagai bahan baku tekstil ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan saat masih menjadi limbah.

    Despredi mengatakan perusahaan akan terus mendorong program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada potensi lokal dan berorientasi pada keberlanjutan.

    "Kami percaya pemberdayaan sejati lahir dari kemandirian masyarakat, dan kami berkomitmen untuk hadir dan tumbuh bersama warga sekitar area operasi secara harmonis dan berkelanjutan," ujarnya.

    Bagi warga Desa Cikadu, perubahan tersebut bukan hanya soal mengurangi pembakaran limbah. Daun nanas dan batang pisang yang dulu dibuang kini menjadi komoditas bernilai ekonomi yang membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru di pedesaan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More