Farhan Akui Penanganan Sampah Bandung Masih Reaktif

- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui penanganan sampah masih reaktif; pemerintah ingin memperkuat investasi dan perencanaan jangka panjang berbasis hasil riset Climate Opportunity Investment.
- Pemkot Bandung mendorong pengelolaan sampah dari hulu melalui model per wilayah skala kecil-menengah, untuk mengurangi timbulan sampah dan ketergantungan pada fasilitas besar.
- Gedebage disiapkan untuk teknologi SRF, sementara hasil riset juga menjadi dasar kebijakan sampah, air bersih, dan udara demi target penurunan emisi 22 persen pada 2035.
Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui pengelolaan sampah di Kota Bandung saat ini masih didominasi pendekatan reaktif dan responsif terhadap persoalan yang muncul di lapangan. Menurutnya, investasi dan perencanaan jangka panjang di sektor persampahan masih perlu diperkuat agar persoalan sampah tidak terus berulang.
Pernyataan tersebut disampaikan Farhan saat menanggapi hasil penelitian Climate Opportunity Investment yang dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), sejumlah mitra dari Inggris, serta International Finance Corporation (IFC), anggota World Bank Group.
“Yang kita lakukan sekarang bukan investasi terhadap pengelolaan sampah. Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah yang bentuknya reaktif dan responsif, bukan perencanaan jangka panjang,” kata Farhan.
Ia menilai hasil penelitian tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat arah kebijakan lingkungan Kota Bandung, terutama pada sektor pengelolaan sampah, air bersih, dan kualitas udara.
1. Bandung Mulai Ubah Pendekatan Pengelolaan Sampah

(Dok.Humas Bandung) Farhan mengatakan selama ini pembahasan pengelolaan sampah sering berfokus pada proyek-proyek besar di hilir. Padahal, menurutnya, penanganan di tingkat sumber atau hulu juga harus menjadi perhatian.
Karena itu, hasil riset yang diterima Pemkot Bandung diharapkan dapat membuka berbagai alternatif kebijakan dan model investasi baru, termasuk pengelolaan sampah berbasis wilayah dengan skala kecil hingga menengah.
“Nah, diharapkan dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide. Tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir, tetapi juga pengelolaan sampah di hulu,” ujarnya.
Menurut Farhan, model pengelolaan sampah per wilayah dinilai dapat memperkuat kemampuan kota dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas pengolahan berskala besar.
2. Investasi Persampahan Dinilai Belum Optimal

Pemkot Bandung gandeng kemenristek dan Danantara untuk kembangkan teknologi sampah. Farhan mengungkapkan investasi di sektor persampahan Kota Bandung masih menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, beberapa inisiatif telah mulai berjalan, namun pengembangan sistem pengelolaan sampah jangka panjang masih membutuhkan dukungan investasi dan kolaborasi yang lebih kuat.
“Leuwikunang yang paling maju sekarang. Sarimukti masih jauh dari angan-angan, tetapi kita sudah memulai,” katanya.
Karena itu, hasil penelitian yang dilakukan IFC dan para mitra diharapkan dapat membantu Kota Bandung menyusun arah kebijakan investasi yang lebih terukur dan berkelanjutan.
3. Gedebage Disiapkan Jadi Lokasi Pengembangan Teknologi SRF

(Dok.Humas Pemkot Bandung) Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah, Pemkot Bandung juga tengah mengembangkan pengolahan sampah berbasis teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) di kawasan Gedebage.
Farhan menjelaskan pengembangan tersebut dilakukan bersama pemerintah pusat dan sejumlah mitra strategis. Teknologi SRF dinilai memiliki kemampuan pengolahan yang lebih maju dibanding Refuse Derived Fuel (RDF) yang selama ini lebih dikenal masyarakat.
“Yang kita coba sekarang bersama pemerintah pusat dan mitra adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah maggot di Gedebage menjadi pengelolaan sampah SRF. SRF itu bentuk yang lebih canggih dari RDF,” ujarnya.
Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengurangi beban sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pengolahan sampah.
4. Hasil Riset Jadi Dasar Kebijakan Lingkungan Kota Bandung

Pemkot Bandung Gandeng Inggris dan IFC, Dorong Investasi untuk Kota Lebih Hijau. (Dok.Humas Pemkot Bandung) Selain sektor persampahan, penelitian Climate Opportunity Investment juga mengidentifikasi peluang investasi pada pengelolaan air bersih dan peningkatan kualitas udara.
Farhan mengatakan hasil kajian tersebut akan ditindaklanjuti oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapprida) Kota Bandung sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ke depan.
Panduan tersebut akan diselaraskan dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), sekaligus menjadi alat ukur keberhasilan berbagai program lingkungan yang dijalankan pemerintah.
Menurut Farhan, langkah tersebut penting untuk mendukung target Kota Bandung dalam menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 22 persen pada 2035.
“Kita mempunyai ambisi bahwa pada tahun 2035 Kota Bandung bisa mengurangi emisi gas buang atau efek rumah kaca sampai 22 persen. Itu sebabnya kerja sama ini menjadi sangat penting,” tuturnya.
















