Pakar UI: Saat Ekonomi Tertekan, yang Dikurangi Justru Gizi Keluarga
- Data SUSENAS 2024-2025 menunjukkan belanja nonmakanan naik 5,98 persen, melampaui makanan 3,16 persen; saat anggaran tertekan, keluarga cenderung mengurangi lauk berprotein, bukan karbohidrat.
- Keluarga berpendapatan terendah mengalokasikan 63,2 persen penghasilan untuk pangan, lebih tinggi daripada 40,5 persen pada kelompok tertinggi, sehingga lebih rentan terhadap kenaikan harga dan biaya hidup.
- Pakar menekankan literasi gizi serta pilihan protein terjangkau seperti tempe, tahu, telur, dan ikan agar keluarga mempertimbangkan nilai nutrisi, terutama untuk mendukung pertumbuhan anak.
Bandung, IDN Times – Tekanan ekonomi tidak hanya mengubah pola belanja masyarakat, tetapi juga memengaruhi kualitas gizi keluarga. Ketika pendapatan tertekan dan biaya hidup meningkat, banyak rumah tangga memilih mengurangi konsumsi lauk bergizi dibandingkan mengurangi sumber karbohidrat. Temuan ini terungkap dalam diskusi Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal yang digelar Forum Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia di Jakarta.
Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, mengatakan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini dapat dilihat dari perubahan pola konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data SUSENAS 2024-2025, kenaikan belanja nonmakanan mencapai 5,98 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan belanja makanan yang hanya 3,16 persen.
1. Keluarga berpenghasilan rendah paling rentan
Dok.Istimewa Menurut Dewa, semakin rendah tingkat pendapatan rumah tangga, semakin besar porsi penghasilan yang digunakan untuk membeli makanan.
Pada kelompok pendapatan terbawah atau kuintil 1, pengeluaran pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kelompok pendapatan tertinggi atau kuintil 5, porsinya sekitar 40,5 persen.
Kondisi ini membuat keluarga berpenghasilan rendah lebih rentan ketika terjadi kenaikan harga pangan maupun biaya hidup lainnya.
"Ada trade off karena masyarakat tetap harus memenuhi kebutuhan lain, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana," kata Dewa.
Ia menambahkan, saat anggaran rumah tangga tertekan, yang pertama kali dikorbankan bukan jumlah makanan, melainkan kualitas gizinya. Masyarakat tetap membeli sumber karbohidrat seperti beras, namun mulai mengurangi konsumsi lauk yang menjadi sumber protein.
2. Belanja makanan jadi dan rokok meningkat
Dok.Istimewa Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap makanan sehat identik dengan bahan pangan mahal. Padahal, kebutuhan gizi keluarga dapat dipenuhi melalui berbagai bahan pangan lokal yang lebih terjangkau.
"Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu seperti ikan salmon," ujar Tara.
Menurutnya, sumber protein seperti tempe, tahu, telur, dan ikan dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan daging merah. Khusus untuk anak-anak, protein hewani tetap penting karena mengandung asam amino esensial yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
Tara juga mengingatkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan kalori harian, namun masih didominasi oleh konsumsi karbohidrat. Karena itu, keluarga perlu lebih cermat memilih bahan pangan yang padat gizi, bukan sekadar mengenyangkan.
Selain itu, ia menilai makanan di luar rumah atau makanan olahan tidak selalu identik dengan pola makan yang buruk. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mengombinasikan sumber makanan agar tetap memenuhi prinsip gizi seimbang.
3. Literasi nutrisi dinilai semakin penting
Dok.Istimewa Sementara itu, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat perlu lebih cermat menentukan prioritas pengeluaran, termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.
Menurutnya, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi faktor penting agar keluarga dapat mengambil keputusan konsumsi yang tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
"Pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya," ujar Andrew.
Ia mengatakan edukasi gizi diperlukan agar masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga ketika membeli makanan, tetapi juga memahami nilai gizi yang diperoleh dari setiap pilihan konsumsi.
Bagi Dewa, menjaga kualitas gizi keluarga di tengah tekanan ekonomi bukan sekadar persoalan kesehatan saat ini. Dampaknya juga akan menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa depan.
Menurutnya, jika kebutuhan gizi anak terus dikorbankan karena keterbatasan ekonomi, masyarakat berisiko menghadapi penurunan kualitas kesehatan, kemampuan fisik, hingga kapasitas kognitif generasi mendatang.


















