Indonesia Dipandang Jadi Pasar Potensial Industri Keju Asia

- Indonesia dipandang sebagai pasar keju potensial di Asia karena populasi lebih dari 280 juta jiwa dan konsumsi per kapita masih rendah, di bawah satu kilogram per tahun.
- Bel Group memperkuat kemitraan dengan MBR dan Garudafood; MBR membangun fasilitas produksi di Sumedang seluas 25 ribu meter persegi yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
- Di tengah ekspansi, MBR membukukan penjualan Rp960 miliar dan laba bersih Rp105,5 miliar pada semester I 2026, naik 15,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sumedang, IDN Times – Indonesia dinilai menjadi salah satu pasar paling potensial bagi pertumbuhan industri keju di kawasan Asia. Besarnya jumlah penduduk serta tingkat konsumsi keju yang masih relatif rendah menjadi alasan Indonesia dilirik pelaku industri global untuk memperluas bisnisnya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam kunjungan CEO Bel Group, Cécile Béliot, ke fasilitas produksi baru PT Mulia Boga Raya Tbk (MBR) di Kabupaten Sumedang, Jumat (28/8/2026). Kunjungan itu sekaligus menandai penguatan kemitraan strategis antara perusahaan keju asal Prancis tersebut dengan MBR dan Garudafood di Indonesia.
Cécile mengatakan kolaborasi yang terjalin selama ini mempertemukan kekuatan lokal dan global untuk mengembangkan pasar keju di Indonesia.
"Kemitraan ini menyatukan kekuatan yang saling melengkapi, yaitu keahlian Garudafood di bidang makanan dan jaringan distribusi nasional, kepemimpinan MBR di pasar keju Indonesia, serta pengalaman Bel dalam industri keju global," ujarnya.
1. Konsumsi keju Asia masih jauh di bawah Eropa

kiri ke kanan: Dede Patmawidjaja Direktur Utama Mulia Boga Raya, Cécile Béliot CEO Bel Group, Hardianto Atmadja Direktur Utama Garudafood dan Komisaris Utama MBR. (Dok.Istimewa) Bel melihat peluang pertumbuhan industri keju di Asia masih sangat besar. Salah satu indikatornya adalah tingkat konsumsi keju per kapita yang masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa.
Saat ini konsumsi keju di Asia tercatat masih berada di bawah satu kilogram per orang per tahun. Sebaliknya, konsumsi keju di Eropa telah mencapai lebih dari 20 kilogram per orang per tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar bagi industri keju di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Direktur Utama Garudafood sekaligus Komisaris Utama MBR, Hardianto Atmadja, mengatakan Indonesia memiliki daya tarik tersendiri karena jumlah penduduknya yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
"Indonesia merupakan pasar strategis dengan potensi pertumbuhan yang besar. Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan untuk menjalin kemitraan jangka panjang di Indonesia," kata Hardianto.
2. Sumedang disiapkan menjadi pusat produksi baru

kiri ke kanan: Dede Patmawidjaja Direktur Utama Mulia Boga Raya, Cécile Béliot CEO Bel Group, Hardianto Atmadja Direktur Utama Garudafood dan Komisaris Utama MBR. (Dok.Istimewa) Melihat prospek pasar yang masih besar, MBR saat ini tengah membangun fasilitas produksi baru di Kabupaten Sumedang.
Fasilitas yang berdiri di atas lahan sekitar 25 ribu meter persegi tersebut ditargetkan beroperasi penuh pada 2028. Kehadirannya akan meningkatkan total kapasitas produksi perusahaan menjadi sekitar 60 ribu ton per tahun.
Selain mendukung peningkatan kapasitas produksi, fasilitas baru itu juga dirancang dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Sekitar 30 persen area akan dialokasikan sebagai ruang terbuka hijau dan memanfaatkan panel surya berkapasitas hingga 250 kWp sebagai sumber energi terbarukan.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa investasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Pemerintah Kabupaten Sumedang menyambut baik investasi yang masuk dan memberikan nilai tambah bagi daerah, termasuk melalui kolaborasi yang dilakukan saat ini," ujar Dony.
3. Kinerja perusahaan tumbuh di tengah ekspansi

Prochiz Quick Melt (prochiz.com) Ekspansi yang dilakukan perusahaan berjalan beriringan dengan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang semester I 2026.
MBR mencatatkan penjualan sebesar Rp960 miliar dengan laba bersih mencapai Rp105,5 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 15,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp91,5 miliar.
Direktur Utama MBR Dede Patmawidjaja mengatakan kolaborasi dengan mitra global diharapkan dapat memperkuat daya saing industri keju nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.
"Kami percaya sinergi ini akan membuka babak baru bagi industri keju nasional sekaligus menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar kualitas global," katanya.
Dengan jumlah penduduk yang besar, konsumsi yang masih relatif rendah, serta masuknya investasi baru, Indonesia dipandang memiliki peluang untuk menjadi salah satu motor pertumbuhan industri keju di kawasan Asia dalam beberapa tahun mendatang.


















