Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Panen Melimpah, tapi Harga Garam Cirebon Ambruk Jadi Rp700 per Kg

Kab. Cirebon
Panen Melimpah, tapi Harga Garam Cirebon Ambruk Jadi Rp700 per Kg
Kondisi tambak garam yang tersebar di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)
  • Harga garam di Kabupaten Cirebon merosot hingga Rp700 per kilogram pada akhir September 2026, bahkan sebagian petani Pangenan menjualnya seharga Rp600 per kilogram.
  • Harga turun bertahap dari sekitar Rp2.000 pada awal panen, melewati Rp1.600, Rp1.500, dan Rp1.300 per kilogram seiring produksi garam meningkat.
  • Dibandingkan harga Rp2.500 per kilogram pada awal tahun, harga Rp700 lebih rendah Rp1.800 dan harga Rp600 turun Rp1.900, menekan nilai penerimaan petani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cirebon, IDN Times – Harga garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merosot hingga Rp700 per kilogram pada akhir September 2026. Harga tersebut turun signifikan dibandingkan kisaran Rp2.500 per kilogram yang disebut petani pada awal tahun.

Petani garam di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Ismail Marzuki, mengatakan penurunan harga terjadi secara bertahap seiring meningkatnya produksi garam pada musim panen.

Menurut Ismail, harga garam pada awal masa panen masih berada di sekitar Rp2.000 per kilogram. Setelah itu, harga terus turun hingga menembus Rp700 per kilogram. Bahkan, sebagian garam petani dibeli dengan harga Rp600 per kilogram.

“Turunnya bertahap. Awal-awal belum banyak yang panen, sempat di harga Rp2.000. Turun Rp1.600, turun lagi Rp1.500, turun lagi Rp1.300,” kata Ismail, Rabu (2/9/2026).

  1. 1. Harga terus merosot

    IMG_20251031_142204.jpg
    Tambak garam yang ada di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

    Ismail mengatakan penurunan harga tidak berhenti pada kisaran Rp1.300 per kilogram. Harga kembali turun hingga Rp700 per kilogram dan dalam sejumlah transaksi berada di level Rp600.

    “Sekarang di harga Rp700, bahkan ada juga yang dibeli dengan harga Rp600,” ujarnya.

    Dengan menggunakan harga Rp2.500 per kilogram sebagai pembanding, harga Rp700 per kilogram setara dengan sekitar 28 persen dari harga tersebut. Artinya, terdapat selisih nominal Rp1.800 per kilogram.

    Sementara jika harga pembelian berada di level Rp600 per kilogram, selisihnya mencapai Rp1.900 per kilogram dibandingkan harga Rp2.500 per kilogram.

  2. 2. Produksi meningkat, harga tertekan

    ilustrasi tambak garam 9pexels.com/Guduru Ajay bhargav)
    ilustrasi tambak garam 9pexels.com/Guduru Ajay bhargav)

    Menurut Ismail, perubahan harga berlangsung ketika jumlah garam yang masuk ke pasar bertambah seiring meningkatnya produksi petani.

    Kondisi tersebut membuat harga yang diterima petani bergerak turun selama periode panen. Penurunan berlangsung melalui beberapa tingkatan, mulai dari sekitar Rp2.000, kemudian Rp1.600, Rp1.500, Rp1.300, hingga Rp700 per kilogram.

    “Turunnya terus sampai sekarang,” kata Ismail.

    Harga tersebut merupakan harga yang diterima petani dalam penjualan garamnya. Perubahan harga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai penerimaan petani dari hasil produksi.

  3. 3. Petani hadapi penurunan nilai jual

    ilustrasi tambak garam (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
    ilustrasi tambak garam (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

    Penurunan harga membuat nilai jual garam yang diterima petani semakin rendah dibandingkan harga pada awal tahun.

    Jika harga Rp2.500 per kilogram dijadikan pembanding, maka harga Rp700 per kilogram menunjukkan penurunan sebesar Rp1.800 per kilogram. Sementara pada harga Rp600, penurunannya mencapai Rp1.900 per kilogram.

    Penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan periode meningkatnya produksi garam. Bagi petani, kondisi itu membuat hasil panen harus dijual dengan harga yang semakin rendah ketika pasokan garam meningkat di pasar.

    Ismail mengatakan harga Rp700 per kilogram menjadi harga yang saat ini diterima sebagian petani di wilayah Pangenan. "Ada juga yang jual dengan harga lebih rendah, Rp600 per kilogram," tutupnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More