Herwin Muchtar Maju Ketua Kadin Bandung, Fokus Dorong Ekonomi

- Herwin Muchtar mengambil formulir calon Ketua Kadin Kota Bandung periode 2026–2031, dengan dukungan Japnas dan Hipmi, menjelang Mukota IX pada 7 Oktober 2026.
- Herwin ingin Kadin memberi dampak ekonomi langsung melalui perluasan akses pasar, investasi, jaringan bisnis, serta kolaborasi dengan pemerintah bagi pelaku usaha.
- Jika terpilih, ia mengusung konsolidasi pengusaha, penguatan pasar dan investasi, digitalisasi-edukasi, serta dukungan bagi UMKM dan pengusaha muda.
Bandung, IDN Times – Kontestasi menuju kursi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung periode 2026–2031 mulai memanas. Presiden Direktur Cihampelas Group sekaligus Wakil Ketua PHRI Jawa Barat, Herwin Muchtar, resmi mengambil formulir pendaftaran calon Ketua Kadin Kota Bandung pada Senin (31/8/2026).
Pencalonan Herwin menjadi sorotan karena mendapat dukungan dari sejumlah organisasi pengusaha, di antaranya Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Namun, Herwin menegaskan langkahnya maju dalam Musyawarah Kota (Mukota) IX Kadin Kota Bandung bukan semata untuk menduduki jabatan organisasi, melainkan mendorong Kadin agar memiliki dampak ekonomi yang lebih nyata bagi para pelaku usaha.
1. Herwin ingin Kadin lebih berperan dalam pertumbuhan ekonomi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Herwin mengatakan motivasinya maju sebagai calon Ketua Kadin Kota Bandung berangkat dari keinginan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia usaha dan perekonomian daerah. Menurutnya, Kadin memiliki posisi strategis sebagai wadah yang dapat menghubungkan berbagai pelaku usaha sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Motivasi saya sederhana, ingin memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia usaha dan perekonomian Kota Bandung," ujar Herwin.
Ia menilai Kadin perlu memperkuat perannya agar tidak hanya menjadi organisasi yang aktif menggelar kegiatan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh para anggota. Bentuk manfaat tersebut, kata dia, bisa berupa akses pasar yang lebih luas, peluang investasi, hingga terbukanya jaringan bisnis yang membantu pelaku usaha berkembang.
2. Usung lima pilar untuk perkuat dunia usaha Kota Bandung

Ilustrasi bahwa warteg juga bisa ikut menjual barang lainnya untuk menjadi bagian dari revolusi digital UMKM (pexels.com/iMin Technology) Sebagai bagian dari visinya, Herwin menyiapkan lima pilar strategis yang akan menjadi fokus jika dipercaya memimpin Kadin Kota Bandung. Pilar pertama adalah konsolidasi dan kolaborasi dengan menyatukan asosiasi, himpunan, serta komunitas pengusaha dari berbagai sektor usaha.
Selain itu, ia ingin memperkuat akses pasar dan investasi dengan membuka peluang kerja sama di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, Kota Bandung memiliki potensi besar untuk menarik investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.
Herwin juga menaruh perhatian pada isu digitalisasi dan edukasi. Ia menilai pelaku usaha perlu mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta akses terhadap teknologi dan pembiayaan agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia bisnis yang semakin cepat.
Di sisi lain, penguatan UMKM dan pengusaha muda menjadi salah satu agenda yang akan didorong melalui pembangunan ekosistem usaha yang lebih kondusif. Menurutnya, pelaku usaha kecil dan generasi pengusaha baru harus mendapatkan ruang yang lebih besar untuk berkembang dan meningkatkan daya saing.
3. Ingin Kadin diukur dari manfaat yang dirasakan anggota

Logo Kadin Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko) Bagi Herwin, ukuran keberhasilan Kadin tidak cukup dilihat dari banyaknya program atau kegiatan yang dijalankan. Ia menilai organisasi pengusaha harus mampu menunjukkan dampak yang nyata terhadap perkembangan usaha para anggotanya.
"Target akhirnya jelas. Kadin jangan hanya aktif secara organisasi, tetapi harus aktif secara ekonomi. Ukurannya adalah seberapa banyak anggota yang mendapat peningkatan akses pasar, jaringan, dan peluang bisnis nyata," katanya.
Menurut Herwin, sinergi dengan Pemerintah Kota Bandung juga menjadi faktor penting dalam menciptakan kebijakan yang mendukung iklim usaha. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menghasilkan program-program yang tidak hanya menguntungkan dunia usaha, tetapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menjelang Mukota IX yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Oktober 2026, Herwin mengaku memandang persaingan antarcalon sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat. Ia menegaskan bahwa seluruh kandidat memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan dunia usaha di Kota Bandung.
"Saya tidak melihat kandidat lain sebagai lawan, melainkan sesama insan dunia usaha yang punya niat baik membangun Bandung. Yang terpenting persaingan tetap sehat dan bermartabat," ungkapnya.
Herwin berharap seluruh elemen Kadin Kota Bandung dapat kembali bersatu setelah proses pemilihan selesai. Menurutnya, tantangan yang sesungguhnya justru berada setelah Mukota, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, hingga memperkuat daya saing ekonomi Kota Bandung di tengah persaingan yang semakin ketat.


















