Ekspor Naik, Impor Turun, Jabar Cetak Surplus Dagang USD16,63 Miliar

- Jawa Barat mencatat surplus perdagangan USD16,63 miliar pada Januari-Juli 2026, dengan ekspor USD23,58 miliar yang naik 6,43 persen dan impor USD6,95 miliar yang turun 1,45 persen.
- Ekspor nonmigas terbesar menuju Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang dengan kontribusi gabungan 33,09 persen; mesin dan peralatan mekanis mencatat kenaikan ekspor terbesar.
- Impor nonmigas terutama berasal dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan; impor migas anjlok 56,80 persen, sementara impor barang konsumsi naik 5,73 persen.
Bandung, IDN Times - Neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus sebesr USD16,63 miliar pada periode Januari-Juli 2026. Surplus ditunjang oleh nilai ekspor yang mencapai USD 23,58 miliar, sedangkan impor hanya USD 6,95 miliar pada periode tersebut.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, nilai ekspor Jawa Barat Januari-Juli 2026 mencapai USD 23,58 miliar atau naik 6,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai USD 23,40 miliar juga naik 6,35 persen. Demikian juga ekspor migas yang mencapai USD 178,27 juta atau naik 16,85 persen.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari-Juli 2026, komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah Golongan Mesin dan Peralatan Mekanis sebesar USD 418,86 juta (23,94 persen). Sementara yang mengalami penurunan terbesar adalah Golongan Karet dan Barang dari Karet sebesar USD 114,86 juta (12,72 persen).
1. Sektor pertambangan tidak mengalami peningkatan

ilustrasi impor (IDN Times/Aditya Pratama) Ekspor nonmigas Januari-Juli 2026 terbesar adalah ke Amerika Serikat yaitu USD3,98 miliar, disusul Filipina sebesar USD2,07 miliar dan ke Jepang sebesar USD 1,69 miliar dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,09 persen. Sementara ekspor ke ASEAN sebesar USD 6,27 miliar dan ekspor ke Amerika dan Eropa sebesar USD 8,87 miliar.
"Kinerja ekspor sektoral Januari-Juli 2026 dibanding periode yang sama tahun 2025 mengalami peningkatan di semua sektor kecuali sektor pertambangan. Sektor Migas naik 16,85 persen; Sektor Pertanian naik 18,51 persen dan sektor Industri Pengolahan naik 6,29 persen sedangkan Sektor Pertambangan turun 3,31 persen," kata Margaretha, dikutip Rabu (2/9/2026).
2. Impor mengalami penurunan

Ilustrasi impor - (IDN Times/Aditya Pratama) Sementara, nilai impor Jawa Barat Januari-Juli 2026 mencapai USD 6,95 miliar atau turun 1,45 persen dibanding periode yang sama di tahun 2025. Impor nonmigas mencapai USD 6,58 miliar atau naik 6,35 persen sedangkan impor migas mencapai USD 376,54 juta atau turun 56,80 persen.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai impor nonmigas terbesar Januari-Juli 2026, komoditas yang mengalami penurunan terbesar adalah Golongan Mesin dan Peralatan Mekanis sebesar USD 138,48 juta (22,23 persen).
"Sementara yang mengalami peningkatan terbesar adalah Golongan Mesin dan Perlengkapan Elektronik sebesar USD 245,44 juta (25,92 persen)," ujar Margaretha
3. Tiongkok jadi pemasok barang Impor di Jabar

Ilustrasi impor (IDN Times/Arief Rahmat) Negara pemasok barang impor Nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2026 ditempati oleh Tiongkok senilai USD 2,78 miliar (42,14 persen), disusul Jepang sebesar USD 788,98 juta (11,99 persen), dan dari Korea Selatan sebesar USD 779,07 Juta (11,84 persen).
Nilai impor Januari-Juli 2026 menurut golongan penggunaan Barang Konsumsi naik 5,73 persen, sedangkan Bahan Baku/Penolong dan Barang Modal turun masing-masing sebesar 1,04 persen dan 9,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.



















