Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
1.500 Hektare Lahan Kopi Kuningan Disiapkan untuk Pasar Ekspor
Ilustrasi kebun kopi (freepik.com/wirestock)
  • Pemkab Kuningan mengonsolidasikan sekitar 1.500 hektare lahan kopi di lereng Gunung Ciremai untuk membangun ekosistem hulu-hilir dan memenuhi standar pasar ekspor.
  • Produksi kopi Kuningan naik hampir 60 persen, dari 775 ton pada 2023 menjadi 1.236 ton periode berikutnya, mencerminkan prospek ekonomi bagi masyarakat setempat.
  • Permintaan ekspor 30 ton Arabika belum terpenuhi karena kapasitas terstandar dan modal terbatas; Kuningan juga menggandeng Majalengka serta Bank Indonesia untuk perlindungan Indikasi Geografis Kopi Ciremai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kuningan, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Kuningan mengonsolidasikan sekitar 1.500 hektare lahan potensial di kawasan lereng Gunung Ciremai untuk menata ekosistem komoditas kopi dari hulu hingga hilir.

Langkah strategis ini diambil guna merespons lonjakan produksi kopi daerah yang signifikan sekaligus memenuhi standar kualitas serta kuantitas pasar internasional.

Pengelolaan kawasan perbanyakan tanaman kopi ini tersebar di wilayah utara, selatan, hingga barat Kabupaten Kuningan dengan komoditas varietas Robusta, Arabika, dan Liberika. Konsolidasi lahan terpadu tersebut diharapkan mampu menjaga kontinuitas pasokan panen, meningkatkan daya saing produk, serta memperkuat kelembagaan para petani lokal secara berkelanjutan.

1. Lonjakan produksi capai 60 persen

ilustrasi wisata ke kebun kopi (pexels.com/Michael Burrows)

Bupati Kuningan, Dian Rahmat Yanuar mengatakan, kebijakan penataan ekosistem ini dipicu oleh pertumbuhan volume panen kopi di Kabupaten Kuningan yang mencatatkan tren positif.

Berdasarkan data pemerintah daerah setempat, volume produksi kopi melonjak hampir 60 persen dalam kurun waktu satu tahun, yakni dari sekitar 775 ton pada 2023 menjadi 1.236 ton pada periode berikutnya.

Dian mengatakan, kenaikan angka produksi yang cukup tajam tersebut menjadi bukti nyata bahwa komoditas kopi lokal memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat kawasan lereng gunung.

”Ini menunjukkan kopi bukan komoditas kecil lagi atau tidak punya masa depan. Jika digarap secara maksimal, hasilnya akan optimal bagi perekonomian masyarakat,” ujar Dian, Rabu (9/9/2026).

2. Permintaan ekspor 30 ton

Salah satu tempat yang dikunjungi peserta edukopi ialah kawasan kebun kopi Curug Lawe Gunung Ungaran. (IDN Times/Dok Humas PLN IP Semarang)

Meski tren pertumbuhan produksi terbilang pesat, upaya pemenuhan permintaan pasar global masih menghadapi sejumlah tantangan operasional.

Dian membeberkan, pembeli internasional sempat mengajukan permintaan ekspor hingga sebanyak 30 ton kopi jenis Arabika kepada para pelaku usaha daerah.

Namun, permintaan ekspor dalam jumlah besar tersebut belum dapat terealisasi secara maksimal akibat keterbatasan kapasitas produksi terstandar serta kendala permodalan di tingkat petani.

Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk segera membenahi seluruh tahapan rantai pasok, mulai dari teknik budidaya, penanganan pascapanen, proses roasting, hingga manajemen pemasaran.

”Langkah konsolidasi ini merespons tingginya minat pasar luar negeri. Pemenuhan kuota belum terealisasi akibat keterbatasan kapasitas produksi terstandar dan permodalan. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk membangun ekosistem yang menjamin kuantitas, kontinuitas pasokan, serta kualitas produk,” ujar Dian.

3. Perlindungan indikasi geografis Kopi Ciremai

Kebun kopi. (IDN Times/Vanny El Rahman)

Sebagai upaya memperkuat keabsahan hukum dan menjaga keaslian cita rasa produk lokal, Pemerintah Kabupaten Kuningan resmi menandatangani surat keputusan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

Langkah kolaboratif ini dilangsungkan bersama Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Bank Indonesia, mengingat kawasan penghasil Kopi Buana Ciremai membentang di perbatasan kedua wilayah tersebut.

Melalui sertifikasi Indikasi Geografis dan pendampingan kemitraan, produk kopi lereng Ciremai diharapkan memiliki posisi tawar yang kuat di pasar domestik maupun mancanegara.

"Program pengembangan ini difokuskan untuk meningkatkan kesejahteraan petani penggarap, menurunkan angka kemiskinan daerah, serta menarik minat generasi muda dalam mengelola bisnis pertanian modern dari hulu sampai ke usaha kedai kopi," tutupnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article