Wellness Tourism hingga Gastronomi, Peluang Baru Pengembangan Wisata

- Penelitian mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung menemukan tantangan utama pariwisata daerah terletak pada tata kelola masyarakat dan strategi promosi yang belum tepat sasaran.
- Wisnu Rahtomo menekankan pentingnya hilirisasi sektor pariwisata agar potensi alam dan budaya dapat diubah menjadi produk wisata bernilai ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
- Hasil riset juga menunjukkan banyak destinasi masih terkendala infrastruktur dan sumber daya manusia, padahal memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pengelolaan yang lebih profesional.
Bandung, IDN Times - Pengembangan sektor pariwisata di berbagai daerah masih menghadapi sejumlah tantangan. Meski memiliki sumber daya alam, budaya, hingga potensi desa wisata yang besar, banyak pemerintah daerah dinilai masih kesulitan mengubah potensi tersebut menjadi produk wisata yang mampu menarik pasar secara tepat.
Kondisi ini menjadi salah satu temuan mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung saat melakukan penelitian terapan di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sulawesi. Hasil riset tersebut tidak hanya memetakan persoalan yang dihadapi daerah, tetapi juga menawarkan solusi yang dapat diterapkan untuk memperkuat sektor pariwisata secara berkelanjutan.
Wakil Direktur II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Politeknik Pariwisata NHI Bandung, R. Wisnu Rahtomo, penelitian yang dilakukan mahasiswa bertujuan memberikan pengalaman langsung dalam melihat persoalan pengelolaan destinasi wisata di lapangan. Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sejumlah lembaga, mahasiswa melakukan riset sekaligus menyusun rekomendasi pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Dari berbagai penelitian tersebut, persoalan yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan tata kelola masyarakat dalam pengembangan pariwisata, khususnya di kawasan desa wisata. Karena itu, hasil penelitian diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menyusun strategi yang lebih efektif dalam mengelola potensi wisata yang dimiliki.
"Memang lebih banyak kalau di daerah kabupaten dan kota itu pengembangan tata kelola masyarakat di dalam pariwisata, khususnya desa," kata Wisnu dalam Diseminasi Nasional Field Project Study 2026 di Kampus NHI, Kamis (18/6/2026).
1. Promosi dan pemasaran dinilai masih belum tepat sasaran

Tantangan lain yang banyak ditemukan adalah aspek pemasaran dan promosi wisata. Menurut Wisnu, banyak daerah sebenarnya memiliki daya tarik yang kuat, namun belum mampu menjangkau segmen wisatawan yang tepat sehingga potensi tersebut belum berkembang secara optimal.
Karena itu, berbagai program yang disusun mahasiswa tidak hanya berfokus pada promosi melalui media sosial, tetapi juga mencakup kampanye pemasaran hingga pengembangan aktivitas wisata yang sesuai dengan karakteristik daerah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing destinasi wisata di tengah persaingan yang semakin ketat.
"Pertama lebih kepada aspek pemasaran, terutama promosi. Promosi ini memang daerah itu agak kurang banyak bisa menembus segmen-segmen yang tepat," paparnya.
Wisnu mengatakan pengembangan program juga tetap diselaraskan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata, termasuk pengembangan wellness tourism dan wisata gastronomi yang saat ini mulai menjadi tren di berbagai daerah.
2. Daerah perlu melakukan hilirisasi sektor pariwisata

Meski banyak daerah memiliki sumber daya yang melimpah, Wisnu menilai tantangan terbesar saat ini adalah mentransformasikan potensi tersebut menjadi produk wisata yang konkret dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ia mencontohkan, sumber daya alam maupun budaya yang dimiliki daerah seharusnya dapat diolah menjadi produk wisata, kemudian dikembangkan menjadi berbagai aktivitas yang menarik bagi wisatawan. Langkah tersebut penting agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
"Jadi banyak sumber daya yang dimiliki oleh daerah. Sehingga mungkin dalam tanda petik, kalau pemerintah sekarang sedang mengembangkan hilirisasi, pariwisata juga perlu hilirisasi."
Konsep hilirisasi pariwisata harus diarahkan pada transformasi sumber daya menjadi produk dan aktivitas wisata yang berkelanjutan. Dengan begitu, pengembangan destinasi tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang tanpa mengorbankan kelestarian budaya maupun lingkungan.
3. Masih banyak kawasan wisata yang berpotensi dikembangkan

Sementara itu perwakilan salah satu tim peneliti di Kabupaten Subang, Jonas Stefanus, mengaku menemukan sejumlah kondisi yang berbeda dari gambaran yang selama ini diketahui. Beberapa destinasi yang sudah cukup dikenal wisatawan ternyata masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaannya.
Selain itu, sejumlah lokasi wisata juga masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia yang mengelola destinasi. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas layanan dan keberlanjutan pengembangan wisata di kawasan tersebut. Padahal potensi untuk menjadikan sebuah kawasan menarik untuk wisatawan masih memungkinkan karena daya tarik wisatanya tinggi.
"Jadi memang masih banyak persoalan yang berkaitan dengan infrastruktur dan sumber daya manusia. Dan setiap daya tarik wisata memiliki permasalahan yang berbeda-beda," paparnya.
Menurut Jonas, perbaikan akses dan pengelolaan berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Sebab, wisatawan umumnya mempertimbangkan kemudahan akses dan kenyamanan ketika menentukan destinasi yang akan dikunjungi.
Daya tarik wisata tetap menjadi faktor utama dalam sebuah destinasi. Namun tanpa dukungan pengelolaan yang baik dan infrastruktur yang memadai, potensi tersebut akan sulit berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.


















