Survei Terbaru Pilgub Jabar, Paslon Dermawan Unggul Dengan Catatan

Bandung, IDN Times - Elektabilitas dan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) nomor urut empat Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (Dermawan) kembali mengungguli tiga pasangan lainnya dalam survei Skala Institute bersama Ragaplasma Research di enam Kabupaten/Kota di Jabar dari 1-7 Oktober 2024.
Adapun survei ini dilakukan dengan multistage random sampling, dengan margin of error (MoE) +/- 5 persen dan sistem pengambilan wawancara tatap muka ke 400 orang responden masing-masing di enam daerah yakni Kota Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Majalengka, Kota Cirebon dan Kabupaten Cianjur.
Meski pasangan Dermawan unggul, Direktur Skala Institute, Wahyu Ginanjar mengatakan, survei yang dilakukan bukan sebagai tolak ukur terakhir dalam Pilgub Jabar 2024. Menurutnya, ini hanya sebuah pemeriksaan sementara.
"Ini lebih ke medical check up saja, bagi para pasangan calon terhadap situasi konstelasi pilkada dan Pilgub yang sedang terjadi di Provinsi Jawa Barat," ujar Wahyu, di Kota Bandung, Kamis (10/10/2024).
1. Selisih cukup jauh dibandingkan dengan paslon lainnya

Wahyu menjelaskan, pasangan Dermawan mengungguli beberapa kontestan di Pilgub Jabar, di mana selisih angkanya pun tergolong jauh jika dibandingkan beberapa pasangan lainnya, termasuk jika dibandingkan dengan MoE dari survei yang ada.
"Selisih dalam margin error itu ada di Kota Bandung dengan Kabupaten Garut, sedangkan untuk selisih yang cukup jauh itu ada di Kabupaten Bekasi dengan di Kabupaten Cianjur. Sedangkan unggul tipis itu ada di Kabupaten Majalengka dengan Kota Cerebon," katanya.
2. Paslon lain punya kesempatan mengejar

Kendati demikian, Wahyu menuturkan, pasangan Pilgub Jabar lainnya jangan sampai patah arang, sebab masih ada kesempatan untuk mengejar elektabilitas di masa kampanye dan pemilu yang tinggal satu bulan ini.
Selain itu, para pemilih juga masih memiliki kecenderungan merubah pilihannya berdasarkan beberapa pendekatan, mulai dari kampanye langsung dan kunjungan tim pemenangan.
"Jadi, Pilgub bisa dikejar jika pasangan calon yang elektabilitasnya tinggi terkena kasus hukum, itu yang akan menurunkan elektabilitas. Paslon yang lain pun effort-nya harus agak tinggi, karena untuk menaikkan di angka 5 persen itu agak berat kan posisinya," katanya.
"Sedangkan untuk isu-isu yang lain (agama, keluarga, dan lain-lain) itu tidak berdampak terhadap pasangan calon posisinya," ujarnya.
3. Kampanye paslon lain harus dimaksimalkan

Direktur Ragaplasma Research, Romdin Azhar menambahkan, seluruh paslon yang tertinggal dari Dermawan masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas. Dia memberikan beberapa catatan, agar para paslon membuat strategi yang matang untuk merebut suara masyarakat.
"Masih bisa mengejar, tinggal strategi apa yang digunakan oleh paslon, basis apa yang disasar, segmentasi apa yang mau disasar. Wilayah mana yang difokuskan dengan tingkat perubahan yang masih tinggi," kata Romdin.
Ia menjelaskan, meningkatkan elektabilitas sebesar lima persen tidaklah mudah. Namun, hal ini bisa dimaksimalkan dengan berkampanye lebih dari paslon lainnya.
"Kalau hari ini ke lapangan tiga titik, harus sembilan titik. Kalau balihonya ada 100, jadi harus 300. Artinya effort ini harus tinggi, karena di lapangan masyarakat sudah makin memahami," katanya.
Berikut hasil elektabilitas paslon Pilgub Jabar berdasarkan survei Skala Institute bersama Ragaplasma Research di enam Kabupaten/Kota di Jabar dari 1-7 Oktober 2024:
Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan:
Kota Bandung, 43,50 persen, Kabupaten Bekasi 63,16 persen, Kabupaten Garut 52 persen, Kabupeten Cianjur 58,90 persen, Kabupaten Majalengka 57,30 persen dan Kota Cirebon 45,85 persen.
Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie:
Kota Bandung 21,00 persen, Kabupaten Bekasi 18,76 persen, Kabupaten Garut 17,50 persen, Kabupeten Cianjur 15,69 persen, Kabupaten Majalengka 13,70 persen dan Kota Cirebon 21,40 persen.
Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina:
Kota Bandung 14,75 persen, Kabupaten Bekasi 3,89 persen, Kabupaten Garut 10,25 persen, Kabupeten Cianjur persen, Kabupaten Majalengka 18,55 persen dan Kota Cirebon 17,45 persen.
Jeje Wiriadinata-Ronal Surapradja:
Kota Bandung 10,75 persen, Kabupaten Bekasi 5,80 persen, Kabupaten Garut 8,50 persen, Kabupeten Cianjur 6,70 persen, Kabupaten Majalengka 7,30 persen dan Kota Cirebon 10,80 persen.

















