Survei: 77 Persen Orang Indonesia Perkirakan Tetap Bekerja Saat Pensiun

- Dua realitas pensiun: pilihan atau keterpaksaan
- Gold Star Planners siap secara finansial
- Stalled Starters menunda pensiun karena kebutuhan finansial
- 71% responden butuh penghasilan tambahan untuk keamanan finansial
- Bonus demografi menua, tapi perencanaan masih minim
- Penuaan populasi meningkat dari 11,1% pada 2023 menjadi 20,5% pada 2050
- 24% responden tidak memiliki rencana pensiun sama sekali
- Hanya 38% merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka
Bandung, IDN Times – Indonesia menghadapi tantangan serius dalam kesiapan pensiun. Survei terbaru Sun Life bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide menunjukkan 77 persen responden Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun.
Fenomena ini tidak sepenuhnya soal pilihan gaya hidup. Sebagian memang ingin tetap aktif, namun mayoritas mengaku terdorong kebutuhan finansial. Di tengah perubahan demografi dan tekanan ekonomi, kesenjangan kesiapan pensiun dinilai semakin nyata.
1. Dua realitas pensiun: pilihan atau keterpaksaan

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menyebut ada dua kelompok besar dalam lanskap pensiun Indonesia.
Kelompok pertama adalah Gold Star Planners, yakni mereka yang siap secara finansial dan dapat memilih kapan berhenti bekerja. Sementara kelompok kedua, Stalled Starters, adalah mereka yang menunda pensiun karena belum siap secara ekonomi.
Sebanyak 71 persen responden menyebut masih membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang biaya hidup dan keamanan finansial jangka panjang. Bahkan 43 persen responden menunda pensiun untuk membiayai pendidikan anak atau kebutuhan keluarga.
“Merencanakan pensiun lebih awal dan menyeluruh akan menentukan realitas mana yang akan dijalani,” ujar Albertus.
2. Bonus demografi menua, tapi perencanaan masih minim

Indonesia tengah memasuki fase penuaan populasi. Pada 2023, sekitar 30,9 juta penduduk atau 11,1 persen populasi berusia di atas 60 tahun. Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 64,9 juta jiwa atau 20,5 persen pada 2050.
Namun, kesadaran perencanaan pensiun masih rendah. Sebanyak 24 persen responden tidak memiliki rencana pensiun sama sekali, dan 34 persen baru mulai merencanakan dua tahun sebelum berhenti bekerja.
Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka.
Di Jawa Barat, dengan jumlah pekerja formal dan informal terbesar di Indonesia, kondisi ini berpotensi menjadi tantangan serius, terutama bagi generasi sandwich yang harus menopang orang tua sekaligus anak.
3. Tren AI naik, konsultasi profesional justru turun

Menariknya, survei juga mencatat lonjakan penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini dalam pengambilan keputusan finansial. Penggunaannya naik dari 13 persen menjadi 30 persen.
Sebaliknya, minat berkonsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, dan penasihat keuangan independen dari 44 persen menjadi 31 persen.
Albertus menilai AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi, tetapi tidak menggantikan kebutuhan personalisasi dan konteks yang hanya bisa diberikan penasihat profesional.
“Teknologi membantu, tapi keamanan finansial jangka panjang tetap membutuhkan panduan yang tepat,” katanya.
4. Kesehatan jadi faktor penentu

Survei ini juga menegaskan bahwa kesehatan berperan besar dalam menentukan waktu dan kualitas pensiun. Sebanyak 58 persen responden yang optimistis menyebut kondisi fisik yang baik sebagai alasan utama. Sebaliknya, 22 persen yang pensiun lebih cepat menyebut kesehatan menurun sebagai faktor pemicu.
Dengan usia harapan hidup yang semakin panjang, tantangan bukan hanya hidup lebih lama, tetapi bagaimana tetap sejahtera secara finansial dan fisik di masa pensiun.

















