Sepanjang 2024, 1.486 Warga Cirebon Terjangkit DBD

Cirebon, IDN Times - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Cirebon mengalami lonjakan yang signifikan pada 2024. Tercatat ada 1.486 kasus DBD sepanjang Januari hingga September 2024.
Jumlah tersebut pun lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2023, yakni hanya 728 kasus. Kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan yang perlu diwaspadai.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr Neneng Hasanah mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah kasus DBD ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan cuaca yang tidak menentu dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Angka kasus DBD tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Salah satu faktornya adalah perubahan cuaca yang ekstrem, serta genangan air yang sering terbentuk akibat curah hujan yang tinggi, yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," kata Neneng, Senin (7/10/2024).
1. Perubahan iklim jadi pengaruh kuat

Menurut Neneng, pola cuaca yang tidak stabil, dengan curah hujan yang tinggi disertai panas terik, menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk penular DBD untuk berkembang biak.
Genangan air yang terbentuk di tempat-tempat terbuka, seperti kaleng bekas, ban, dan tempat penampungan air yang tidak tertutup, menjadi sarang bagi nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini adalah vektor utama penyebaran virus dengue yang menyebabkan demam berdarah.
Selain faktor lingkungan, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk juga menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus ini.
Beberapa wilayah di Cirebon, terutama daerah-daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, masih kurang memperhatikan kebersihan lingkungan dan sering kali mengabaikan potensi genangan air yang ada di sekitar rumah.
2. Langkah-langkah penanganan oleh Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon telah mengambil berbagai langkah untuk menanggulangi penyebaran DBD. Salah satu langkah utama yang diambil adalah pengasapan (fogging) di daerah-daerah rawan.
Fogging ini bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa yang dapat menularkan virus dengue. Namun, Neneng menekankan bahwa fogging saja tidak cukup untuk memutus rantai penularan.
"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak membunuh jentik-jentik nyamuk. Oleh karena itu, masyarakat juga harus melakukan upaya pencegahan di rumah masing-masing dengan menerapkan 3M Plus: Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan obat nyamuk atau kelambu," tambahnya.
Selain fogging, Dinas Kesehatan juga gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk.
Kampanye dilakukan melalui berbagai media, baik online maupun langsung di lapangan, dengan melibatkan kader kesehatan dan aparat desa. Dinas juga menggelar program pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas untuk mendeteksi dini gejala DBD.
3. Fasilitas kesehatan siaga

Dalam menghadapi lonjakan kasus ini, fasilitas kesehatan di Kabupaten Cirebon telah disiapkan untuk memberikan penanganan terbaik bagi pasien DBD.
Puskesmas dan rumah sakit di wilayah tersebut telah meningkatkan kapasitas dan kesiapan tenaga medisnya untuk menangani pasien yang datang dengan gejala DBD, seperti demam tinggi, nyeri otot, dan munculnya bintik merah di kulit.
"Kami sudah melakukan pelatihan kepada tenaga medis di seluruh fasilitas kesehatan di Cirebon agar mampu menangani pasien DBD dengan cepat dan tepat. Selain itu, kami juga menyediakan layanan rawat inap di beberapa rumah sakit bagi pasien dengan gejala yang parah," jelas Neneng.
Menurut data Dinas Kesehatan, dari total 1.486 kasus DBD yang tercatat, sebagian besar pasien dapat pulih setelah mendapatkan perawatan yang intensif.
Namun, Neneng mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika merasakan gejala-gejala DBD, karena penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.Perubahan iklim global yang menyebabkan cuaca ekstrem turut menjadi tantangan dalam penanganan penyakit DBD.
Curah hujan yang tidak merata dan suhu yang terus meningkat membuat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti semakin sulit diprediksi. Hal ini mempengaruhi pola penyebaran DBD yang dapat terjadi kapan saja, tidak hanya di musim hujan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi lonjakan kasus yang lebih tinggi di bulan-bulan mendatang, terutama jika curah hujan meningkat di akhir tahun. Kerja sama dengan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini lebih lanjut," tambahnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon optimistis bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan instansi terkait, penyebaran DBD dapat ditekan.
Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk akan terus digalakkan, terutama di daerah-daerah yang rawan terjadi lonjakan kasus.


















