Sebuah Rumah Doa di Bandung Diduga Dapat Ancaman dari Sekelompok Massa

- Sebuah rumah doa di Perumahan Hegarmanah Indah, Cikancung, Bandung didatangi sekelompok massa tak dikenal yang membuat keributan dan mengancam akan membakar tempat ibadah umat Kristen.
- Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) memastikan adanya dugaan intimidasi dan tengah berkoordinasi dengan warga pengguna rumah doa untuk menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan mereka.
- Pendeta Marudut menjelaskan rumah doa dibangun dari tanah pribadinya, sementara pihak Kemenag RI bersama tokoh lintas agama berencana turun langsung guna meredam ketegangan dan menjaga kerukunan.
Bandung, IDN Times - Dugaan tindakan intoleransi kembali terjadi di wilayah Bandung, Jawa Barat. Kasus tersebut ramai setelah ada video yang diunggah oleh akun @suara.digital di mana sebuah rumah doa di Kecamatan Cikancung, tepatnya di Perumahan Hegarmanah Indah, Kabupaten Bandung, didatangi orang tidak dikenal.
Kejadian ini memicu kekhawatiran mendalam karena sekelompok orang yang bukan merupakan warga setempat tersebut tiba-tiba datang, memicu keributan, hingga melontarkan ancaman ekstrem untuk membakar tempat ibadah umat Kristen tersebut.
"Tidak diketahui massa datang dari mana, tiba-tiba buat keributan, massa bukan warga setempat. Massa sempat mengancam akan membakar rumah doa atau rumah ibadahnya. Pak Gubernur Jabar Dedy Mulyadi, tolong tertibkan warganya dan ditindaklanjuti," tulis akun tersebut dalam video dikutip IDN Times, Jumat (26/6/2026).
Sementara itu, perwakilan dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Tantowi Anwari membenarkan mengenai dugaan intimidasi tersebut. Menurutnya, perwakilan dari Sejuk saat ini tengah berkoordinasi dengan masyarakat di sekitar pengguna rumah doa untuk memastikan bantuan apa saja yang mereka ingin dapatkan.
"Kami rencana ngezoom (diskusi lewat aplikasi Zoom) apa yg menjadi kebutuhan mereka untuk kami bantu," paparnya, Kamis (25/6/2026) malam.
Pengguna Instagram David Herson Tonius memberikan klarifikasi setelah berkomunikasi langsung dengan Pendeta Marudut, sosok yang juga bertindak sebagai developer perumahan tersebut.
Pendeta Marudut menjelaskan bahwa sejak awal membangun kawasan perumahan tersebut, beliau telah menghibahkan tanah pribadinya sendiri untuk dijadikan fasilitas tempat ibadah. Selama ini kehidupan antarwarga berjalan sangat harmonis dan tanpa kendala, namun gejolak penolakan ini baru mulai muncul setelah adanya pergantian ketua RW setempat.
Menyikapi konflik yang terjadi, David bersama Staf Kementerian Agama RI Gugun Gumilar menyatakan akan segera turun bersama-sama ke lokasi kejadian. Langkah cepat ini diambil untuk membantu mengurus kelengkapan administratif sekaligus meredam ketegangan di lapangan.
Kolaborasi antara tokoh lintas agama ini diharapkan mampu menyelesaikan kesalahpahaman yang ada, menjaga kerukunan umat beragama di Cikancung, serta mengembalikan fungsi rumah doa agar jemaat dapat kembali beribadah dengan tenang dan aman.

















