Kunjungan wisatawan ke IKM rajut Binong Jati. IDN Times/Debbie Sutrisno
Puluhan tahun lalu, Binong Jati dikenal sebagai kawasan yang denyut kehidupannya bergerak mengikuti suara mesin rajut. Dari rumah-rumah warga, benang diolah menjadi pakaian dan berbagai produk rajutan yang dikirim ke pasar.
Daniel Hermawan dalam bukunya "Inovasi dalam UMKM, Peluang, Tantangan, dan Berkelanjutan", menjabarkan bahwa kawasan ini sudah ada sekitar tahun 1960. Diawali dengan lima orang perajin setempat yang memulai usaha dan bekerja sama dengan pengusaha keturunan Tionghoa, kemudian berkembang di mana pada 2021 tercatat ada 323 unit usaha rumahan di kawasan sentra industri rajut Binong Jati.
Kini, suara mesin itu masih terdengar, tetapi wajah Binong Jati perlahan berubah. Kawasan ini tak lagi hanya menjadi tempat memproduksi produk rajutan, tetapi juga ruang bagi wisatawan untuk melihat, belajar, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di sana.
Transformasi ini tidak terlepas dari pandemik COVID-19 yang menerjang Indonesia beberapa pada 2020, mengakibatkan para pelaku industri rajutan tumbang. Meski produksi tetap berjalan, tapi jumlah permintaannya anjlok. Bahkan tak sedikit industri yang gulung tikar. Pasca pandemik, para pelaku usaha rajutan yang mencoba bangkit agar bisnisnya bisa kembali menggeliat di tengah gempuran produk impor, walaupun hasilnya belum maksimal.
Persoalan ini yang coba dipecahkan sejumlah anak muda yang ada di Binong. Lalu muncul ide untuk mengembangkan kawasan Binong Jati yang selama ini dikenal sebagai industri rajutan, agar bisa dikemas menjadi kampung wisata rajut.
"Jadi idenya memang sudah ada dari lama, tapi karena pandemik terus juga cari pemodalnya ini kan belum ada. Barulah kita ketemu perwakilan Pertamina, dan waktu itu dikumpulkan di balai pertemuan sama Lurah buat pemaparan," kata Eka Rahmat Jaya, salah satu pencetus Merakit.
Dia dan beberapa orang di kawasan Binong mencari potensi apa saja yang bisa dikembangkan di luar industri rajut. Mulai dari makanan, kesenian dan budaya, tempat penginapan, hingga pelatihan merajut, yang akhirnya menjadi pilihan untuk dioptimalkan.
Gayung bersambut, ide-ide tersebut kemudian diterima oleh Pertamina yang tengah menggencarkan program tanggung jawab dan sosial (TJSL). Perusahaan pelat merah ini pun bersedia memberikan bantuan dan berbagai pelatihan untuk mewujudkan ide tersebut dan menjadikan kawasan ini sebagai Kampung Wisata Rajut Binong
Kegiatan mural di Kampung Rajut Binong bersama penyandang disabilitas. IDN Times/Debbie Sutrisno
Untuk kegiatan pertama yang diselenggarakan Merakit berkaitan dengan kesehatan mental. Musababnya, ketika itu banyak pelaku usaha yang drop karena pandemik COVID-19. Setelah program ini berjalan baik, barulah Merakit mencari masyarakat yang kurang terberdayakan secara ekonomi untuk dilatih dan bisa menghasilkan produk khas Kampung Wisata Rajut Binong. Dan pilihan tersebut jatuh pada para perempuan penyandang disabilitas.
Perlahan tapi pasti, komunitas Merakit mulai membuka diri sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata di Binong Jati. Melalui informasi dari mulut ke mulut, tempat wisata kreatif ini mulai dikenal berbagai tour and travel hingga beragam komunitas lain yang datang untuk merasakan sensasi wisata di kawasan ini. Melihat potensi tersebut, Eka memutar otak mencari program lain yang bisa meningkatkan nilai jual Kampung Wisata Rajut Binong.
"Sekarang kita ada enam program mulai dari shopping village, Merasa (belajar merajut), Sekolah Rajut, Live In (menyaksikan kesenian dan budaya), Merakit I, dan Merakit II. Jadi tiap paket ini bisa dipakai kalau ada rombongan yang mau datang ke Binong," papar Eka.
Dalam semua kegiatan di Kampung Wisata Rajut Binong, Eka mengajak masyarakat sekitar, mulai dari mengurusi keamanan, kebersihan, tempat tinggal (home stay), pemandu wisata, hingga tim pengajar merajut seperti Elis dan Nazmi. Pengemasan wisata dengan aksi sosial seperti ini membuat wisatawan semakin banyak berdatangan dan dampaknya perekonomian masyarakat di luar pelaku industri rajut perlahan bangkit.
Menurut Eka, lonjakan wisatawan mulai terasa pada 2022 di mana wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1.057 orang. Angka itu tersebut terus bertambah hingga pada 2025 lebih dari 1.500 orang datang. Bahkan wisatawan mancanegara pun ada yang datang ke kawasan ini di mana pada 2024 mencapai 10 orang dan 2025 ada 13 orang.
Dengan makin banyaknya wisatawan datang ke Binong, berbagai perubahan di kawasan ini dirasakan betul oleh Ketua RW 05 Kelurahan Binong, Yoga. Ia melihat secara langsung perubahan kawasan Binong dulu dan sekarang. Puluhan tahun tinggal di kawasan ini, dia merasakan bahwa Binong sekarang banyak didatangi masyarakat bukan hanya yang ingin membeli produk rajutan, tapi juga untuk berwisata melihat denyut nadi kampung ini seperti apa.
Dengan kedatangan wisatawan yang semakin sering, warga sekitar pun 'dipaksa' untuk menata kawasan agar lebih nyaman. Mereka mulai aktif terlibat dalam upaya membuat kawasan lebih tertata, sementara sejumlah fasilitas juga disiapkan untuk mendukung aktivitas kampung wisata.
Seorang wisatawan sedang membeli pernak-pernik yang dijual warga di kawasan Kampung Wisata Rajut Binong. IDN Times/Debbie Sutrisno
Sejumlah area yang sebelumnya terlihat kumuh mulai dibersihkan dan ditata. Perubahan tersebut membuat aktivitas wisata tidak hanya berdampak pada kegiatan ekonomi, tetapi juga mendorong warga memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Bagi Yoga, kehadiran komunitas Merakit yang memberdayakan perempuan disabilitas menjadi bagian penting dalam perubahan Binong. Menurutnya, kelompok tersebut mampu melihat potensi yang dimiliki anggotanya untuk kemudian dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Ia menilai keterlibatan penyandang disabilitas juga bisa memberikan motivasi bagi warga lain.
"Ketika ada tamu-tamu datang, warga jadi termotivasi: 'Mereka aja bisa, masa kita enggak bisa,'" kata Yoga menirukan suara warga yang lain.
Ia melihat peluang ekonomi menjadi salah satu dampak yang bisa dikembangkan dari perubahan Binong. Ketika kawasan semakin dikenal, wisatawan berpotensi datang dan membelanjakan uangnya di lingkungan sekitar, termasuk pada UMKM.
"Kalau sudah dikenal, orang jadi ingin datang. Dan kalau datang, otomatis ada dampak ekonomi. Minimal ke UMKM," ujarnya.
Pada akhirnya, Yoga berharap Kampung Wisata Binong tidak hanya membuat kawasan lebih dikenal wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.