KDM Ungkap Alasan Marah saat Warga Ciamis Protes Jalan Rusak

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan kemarahannya dipicu rombongan dialihkan ke jalan rusak tanpa penjelasan hingga berisiko terlambat acara, bukan karena protes warga.
KDM menyatakan tidak memakai tim pendahulu agar melihat kondisi lapangan apa adanya, serta mengingatkan aspirasi warga yang viral dapat dimanfaatkan pihak berkepentingan.
Warga menyebut jalan Cintajaya rusak sejak 2012; Pemprov Jabar berencana membantu perbaikan jalan kabupaten dan desa mulai 2027, termasuk menyediakan mobile batching plant.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM meluruskan isu yang bergulir akibat berdarnya video viral dirinya marah-marah saat kendaraan rombongannya diarahkan ke jalan rusak oleh Warga Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, beberapa waktu kemarin.
KDM mengatakan, aksi dirinya marah-marah tersebut merupakan teguran dan itu diklaimnya bukan disebabkan oleh protes warga terhadap kondisi jalan. Dia mengaku terbiasa menerima keluhan masyarakat mengenai kerusakan infrastruktur di berbagai daerah di Jawa Barat.
"Saya tidak marah karena diprotes jalan jelek. Diprotes jalan jelek, sejak di Cikasok pun saya senyum saja," kata KDM saat bertemu dengan perwakilan masyarakat, dikutip Senin (19/10/2026).
1. Marah karena bisa berpotensi telat datang ke sebuah acara

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Menurut KDM, persoalan muncul karena rombongannya dialihkan ke jalan rusak tanpa penjelasan yang memadai. Awalnya, dia mengira jalur tersebut merupakan akses menuju lokasi kegiatan.
Hanya saja, setelah menempuh perjalanan cukup jauh, rombongannya menyadari arah yang dituju tidak sesuai sehingga harus berbalik arah. Atas situasi tersebut, ia terancam terlambat mendatangi acara.
"Kalau disampaikan, 'Pak, acaranya di sana', mungkin saya juga tidak marah," ucapnya.
KDM juga mempertanyakan keberadaan kerucut lalu lintas yang telah dipasang di tengah jalan sebelum rombongannya melintas. Dia menilai kondisi itu mengindikasikan pengalihan jalur telah dipersiapkan sebelumnya.
Dia menjelaskan, seorang pemimpin tidak harus selalu bersikap lembut demi menjaga citra. Menurutnya, pemimpin perlu berani menegur ketika menemukan sesuatu yang dianggap tidak tepat.
"Bagi saya, pemimpin itu ya kalau waktunya marah, marah-marah, kalau waktunya memuji-muji, ya puji," katanya.
2. KDM singgung pencitraan dan dampak video viral

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) KDM mengibaratkan sikap tersebut seperti orangtua yang harus berani menegur anak ketika melakukan kesalahan. Dia juga menyinggung kebiasaannya menyampaikan kritik secara langsung kepada orang-orang terdekat.
Dalam pertemuan dengan warga, KDM juga menyinggung praktik pencitraan yang menurutnya bisa terjadi dalam kunjungan pejabat. Dia mengaku tidak menggunakan tim pendahulu atau advance team untuk memeriksa kondisi jalan sebelum mendatangi suatu lokasi.
"Kalau saya mau pencitraan-pencitraan, kalau kunjungan itu ada tim advance dulu. Ada tim. Jalan diperiksa," kata dia.
Menurut KDM, pemeriksaan lokasi sebelum kunjungan berpotensi membuat kondisi lapangan yang ditemui pejabat tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan sebenarnya. Dia mengklaim lebih memilih mendatangi lokasi untuk melihat langsung persoalan masyarakat.
"Kalau saya mah ke lokasi, memang ingin menemukan apa adanya," katanya.
Dia juga mengingatkan warga mengenai persepsi yang dapat terbentuk ketika rekaman peristiwa beredar di media sosial. Dia mengaku khawatir aspirasi warga yang disampaikan secara tulus justru dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan tertentu.
"Di balik ibu ada yang tulus, tapi di balik ibu ada yang tidak tulus," ucapnya.
3. Jalan Rusak Sejak 2012, Perbaikan Jadi Tanggung Jawab Pemkab Ciamis

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Dalam dialog tersebut, warga menyebut jalan di Cintajaya telah rusak sejak 2012. Artinya, persoalan itu telah berlangsung sekitar 14 tahun. KDM menjelaskan, ruas jalan tersebut semula berstatus jalan desa sebelum berubah menjadi jalan kabupaten pada 2023.
Dia juga menyinggung keterbatasan anggaran infrastruktur di Kabupaten Ciamis. Menurutnya, alokasi anggaran untuk jalan sekitar 2,3 persen dari APBD yang mencapai Rp2,2 triliun.
Selain itu, KDM menyebut dana bagi hasil yang tertunda mencapai Rp174 miliar per tahun selama dua tahun, atau sekitar Rp348 miliar. Menurutnya, kondisi fiskal tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam pembahasan pembangunan infrastruktur.
Untuk penanganan jalan ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mulai membantu perbaikan jalan kabupaten dan desa pada 2027. Khusus jalan desa, Pemprov Jabar berencana menyediakan mobil pembuat beton atau mobile batching plant yang ditempatkan di kecamatan.
Melalui skema tersebut, kata dia, pemerintah desa menyiapkan material seperti semen, pasir, dan batu split, sedangkan peralatan pembuat beton disediakan pemerintah provinsi.
"Mobilnya bergerak ke desa, dibuat di situ. Corannya juga nanti bisa distandarkan. Standarnya berapa, nanti dicorkan langsung di situ. Nanti biayanya akan lebih murah," kata KDM.





















