Ada 12,85 Juta Jiwa, Ini Alasan Gen Z Jabar Lebih Banyak dari Jakarta

Jawa Barat memiliki 12,85 juta Gen Z atau 25,22 persen dari 50,94 juta penduduk, hampir lima kali jumlah Gen Z Jakarta yang mencapai sekitar 2,59 juta jiwa.
Selisih besar tersebut terutama dipengaruhi basis penduduk Jawa Barat yang jauh lebih besar, sementara proporsi Gen Z di Jakarta dan Jabar relatif berdekatan.
Kawasan suburban seperti Bogor, Depok, dan Bekasi berkembang sebagai hunian keluarga produktif; TFR Jawa Barat 2,05–2,11 juga lebih tinggi dibanding Jakarta 1,75.
Bandung, IDN Times - Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah Generasi Z (Gen Z) terbanyak di Indonesia. Jumlahnya bahkan terpaut cukup jauh jika dibandingkan dengan DKI Jakarta yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan.
Ada beberapa fakta yang membuat populasi Gen Z Jabar lebih besar dari Jakarta, seperti karakter wilayah yang luas, hingga perkembangan kawasan penyangga Jakarta menjadi sejumlah faktor yang ikut membentuk tingginya jumlah generasi yang lahir pada era digital tersebut.
Berdasarkan data terbaru BPS Jawa Barat, jumlah penduduk Jabar mencapai 50,94 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25,22 persen atau sekitar 12,85 juta jiwa merupakan Gen Z.
Sementara itu, jumlah penduduk DKI Jakarta berada di kisaran 10,5 juta hingga 11 juta jiwa. Proporsi Gen Z di Jakarta mencapai 24,12 persen atau sekitar 2,59 juta jiwa.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa secara jumlah absolut, Gen Z di Jawa Barat hampir lima kali lipat dibandingkan Jakarta.
1. Basis penduduk Jabar jauh lebih besar

Jumlah Penduduk Menurut Provinsi (sumber: Badan Pusat Statistik) Salah satu faktanya adalah jumlah penduduk Jawa Barat yang memang jauh lebih besar. Dengan populasi mencapai sekitar 50,94 juta jiwa, Jawa Barat memiliki basis penduduk hampir lima kali lipat dibandingkan Jakarta.
Karena itu, ketika proporsi Gen Z di kedua wilayah relatif tidak jauh berbeda, jumlah absolutnya tetap terpaut sangat besar.
Artinya, tingginya jumlah Gen Z di Jabar tidak serta-merta berarti persentase anak mudanya jauh lebih tinggi dibandingkan Jakarta. Besarnya basis penduduk menjadi faktor penting dalam melihat perbedaan ini.
2. Karakter wilayah juga menjadi pembeda

ilustrasi Jakarta, Indonesia (pexels.com/Noel Snpr) Jawa Barat memiliki kawasan penyangga Jakarta yang luas, terutama Bogor, Depok, dan Bekasi. Wilayah-wilayah tersebut berkembang pesat menjadi kawasan permukiman dan bagian dari kawasan metropolitan yang aktivitas ekonominya terhubung erat dengan Jakarta.
Banyak keluarga memilih tinggal di kawasan suburban Jawa Barat karena ketersediaan perumahan dan akses menuju pusat ekonomi Jabodetabek. Perkembangan kawasan tersebut kemudian ikut membentuk struktur penduduk Jawa Barat.
Berbeda dengan Jakarta yang memiliki luas wilayah sekitar 661 kilometer persegi. Sebagai pusat bisnis dan jasa, Jakarta memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi dengan ruang perkotaan yang relatif terbatas.
3. Faktor fertilitas

Ilustrasi kelahiran seorang bayi (pixabay.com/TanteTati) Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) di wilayah penyangga dan pedesaan atau kabupaten di Jawa Barat secara historis lebih tinggi dibandingkan pusat kota megapolitan seperti Jakarta.
Di mana tingkat kesadaran keluarga berencana dan orientasi karier di perkotaan padat menekan angka kelahiran lebih cepat. Berdasarkan data BPS, TFR Jabar berada di kisaran 2,05 hingga 2,11 mendekati atau sedikit di bawah tingkat penggantian penduduk di angka 2,1.
Sementara, TFR Jakarta tercatat lebih rendah, yakni di kisaran 1,75. Angka ini jauh berada di bawah replacement level, yang berarti tingkat reproduksi alami di Jakarta tidak cukup untuk menggantikan populasi secara mandiri tanpa adanya migrasi masuk dari luar daerah.
4. Perkembangan kawasan suburban

Ilustrasi Kota Depok (IDN Times/Irfan Fathurohman) Pertumbuhan kawasan suburban turut membuat persebaran penduduk di sekitar Jakarta semakin melebar. Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Depok menjadi contoh wilayah yang berkembang sebagai kawasan hunian sekaligus bagian dari aktivitas metropolitan Jabodetabek.
Pertumbuhan perumahan dan fasilitas pendidikan maupun ekonomi di kawasan tersebut membuat banyak keluarga usia produktif menetap di Jawa Barat, meski aktivitas mereka tetap berkaitan dengan Jakarta.
Fenomena ini membuat perkembangan penduduk di Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari dinamika kawasan metropolitan Jakarta.


















