Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat Binong Jati Merajut Wajah Baru sebagai Kampung Wisata Inklusif

Kota Bandung
15 min read
Saat Binong Jati Merajut Wajah Baru sebagai Kampung Wisata Inklusif
Novi (kiri) dan Rustandi (kanan) sedang mengolah serpihan plastik menjadi bahan baku serat di aula RW 05, Kelurahan Binong, Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Komunitas Merakit di Binong Jati mengolah botol plastik menjadi serat dan produk rajut, sekaligus membuka keterampilan, ruang sosial, serta penghasilan bagi perempuan penyandang disabilitas.
  • Pasca pandemi, Binong Jati berkembang dari sentra rajut menjadi kampung wisata kreatif dengan enam program; kunjungan wisatawan nusantara naik dari 1.057 orang pada 2022 menjadi lebih dari 1.500 pada 2025.
  • Pertamina mendukung pelatihan, pemasaran, dan PLTS untuk operasional Merakit, sementara pengembangan kawasan masih menghadapi keterbatasan akses jalan, fasilitas umum, drainase, serta integrasi destinasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Satu per satu botol plastik dikeluarkan dari karung di sudut Aula RW 05, Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Tuti (45) memisahkan tutup botol dari badan botol, lalu menyingkirkan plastik tipis yang membungkusnya. Tak ada bagian yang bisa dicampur begitu saja, semua harus pilih sesuai dengan karakteristik limbah botol plastik.

Di tangan Tuti, botol-botol bekas yang semula menjadi sampah itu tengah memulai perjalanan baru. Setelah dicacah dan diolah, plastik tersebut akan berubah menjadi serat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk rajutan.

"Tutup botolnya ini dipisah karena nanti diolahnya beda lagi. Kalau yang botol ini kita cacah pakai mesin. Terus nanti masuk ke mesin kayak bikin aromanis gitu, baru jadi serat-serat," kata Tuti saat ditemui di aula RW 05 pada pertengahan Oktober 2026.

Pekerjaan Tuti menjadi bagian awal dari proses yang dikerjakan kelompok Merajut Asa Kita (Merakit). Setelah botol-botol itu selesai dipilah, ia memasukkannya ke mesin pencacah. Botol yang semula utuh berubah menjadi serpihan kecil, yang kemudian dibawa ke ruang sebelah untuk diolah lebih lanjut.

Di ruangan itu, Novi (47) telah menyiapkan sekitar 200 gram serpihan plastik hasil proses pencacahan sebelumnya. Ia harus menunggu mesin candyfloss, yang bentuk kerjanya menyerupai alat pembuat aromanis, dipanaskan selama sekitar 30 menit menggunakan gas sebelum pengolahan dimulai.

Sementara Novi menyiapkan bahan, Rustandi (50) bersiap di depan mesin. Masker menutupi wajah mereka, sarung tangan khusus melindungi tangan Rustandi dari panas. Ia bertugas menangkap serat-serat yang keluar dari mesin agar dapat dikumpulkan.

Begitu mesin siap, serpihan plastik dimasukkan ke bagian tengah yang berbentuk lingkaran. Tak menunggu lama, sedikit demi sedikit serpihan plastik itu berubah menjadi gumpalan serat. Rustandi sigap menangkap serat yang terbentuk di dalam kotak mesin yang nantinya bakal dipintal bersama serat jenis lain hingga menjadi gulungan benang untuk dirajut.

Proses tersebut bukan pekerjaan sekali jadi. Setiap Senin dan Kamis, Tim Gober, petugas kebersihan lingkungan yang mengumpulkan sampah dari wadah-wadah khusus di sekitar gang pemukiman warga, mereka menjalankan pengolahan setelah berkeliling mengumpulkan botol plastik. Dalam sebulan, tim Gober dapat mengolah sedikitnya 15 kilogram (Kg) botol plastik untuk diubah menjadi serat.

Dari aula sederhana itu, perjalanan sampah belum berakhir. Serat yang terkumpul masih harus melewati proses berikutnya sebelum dapat dimanfaatkan menjadi bahan produk rajutan.

  1. Dari serat plastik ke tangan perajin

    WhatsApp Image 2026-10-20 at 12.10.31 AM.jpeg
    Anggota Komunitas Merakit, Elis, sedang membuat boneka dari benang rajut. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Benang yang telah dipintal kemudian dibawa ke tempat berkumpul anggota Merakit yang jaraknya sekitar 100 meter dari aula. Benang tersebut berpindah ke tangan Elis. Bagi perempuan penyandang disabilitas yang tergabung dalam komunitas Merakit tersebut, material ini bukan sekadar bahan baku, ada penghasilan yang ikut dirajut bersamanya.

    Tatapan Elis fokus pada gerakan kedua tangannya. Tangan kanan memegang jarum yang sudah terisi benang, sementara tangan kirinya memegang benang yang sudah terpola menjadi rajutan. Perlahan pola itu memanjang, menyambung satu dengan lain, dan akhirnya menjadi sebuah boneka kecil. Butuh sekitar dua jam untuk membuat boneka dari benang rajut menggunakan tangan. Meski terlihat sulit untuk orang awam, tapi Elis sudah terbiasa membuatnya.

    "Kalau yang benang dari limbah plastik memang belum banyak banget dipakai produk. Harus ada penyempurnaan sampai benangnya bagus, sekarang di satu gulungan benang ada yang besar, ada yang kecil. Cuman seratnya sih sudah dipakai jadi dacron, isian produk rajutan kaya boneka-boneka," ungkapnya.

    Elis merupakan anggota pertama komunitas Merakit yang bergabung sejak 2022. Dia adalah salah satu penyandang disabilitas yang tinggal di kawasan Binong Jati, Kota Bandung. Elis bercerita sudah bisa merajut dengan tangan (handmade) sejak lama. Ketika sekolah dulu salah satu pelajaran yang diberikan adalah merajut dan ini yang kemudian masih dilakukan Elis sampai sekarang menjadi sebuah usaha rumahan.

    Sayangnya, karena minimnya pembeli dan perubahan pembuatan produk rajut dari tangan ke mesin, dia pun sempat hiatus dari dunia rajutan. Namun, nasib Elis perlahan berubah ketika dia masuk dalam Merakit. komunitas yang diinisiasi anak muda Kampung Binong ini mengajak para perempuan difabel belajar merajut dan membuat produk rajutan dari tangan untuk diperjualbelikan.

    WhatsApp Image 2026-10-20 at 12.12.16 AM.jpeg
    Produk hasil rajutan yang isian dalamnnya menggunakan serat dari limbah plastik. IDN Times. Debbie Sutrisno

    Ketika awal mula masuk Merakit, Elis sebenarnya coba mengajak banyak teman difabel perempuan di Kampung Binong ikut serta dalam komunitas. Namun, mereka masih enggan karena merasa kegiatan seperti ini sia-sia, sekadar pelatihan, dan setelahnya tidak ada program untuk kesejahteraan secara berkelanjutan.

    Pemikiran itu pun berubah setelah mereka melihat Elis yang disibukkan dengan menumpuknya permintaan pembuatan produk rajutan, mereka yang awalnya menatap sebelah mata justru tertarik dan minta bergabung.

    "Pas udah banyak yang tahu kita banyak diorder dan barang rajutan laku, yang lain (difabel perempuan) jadi minta ikut masuk komunitas. Sekarang sudah ada 10 perempuan (difabel) kaya saya di Merakit," ungkap Elis.

    Membuat boneka dari benang rajutan hasil mengolah limbah plastik juga dilakukan Nazmi. Perempuan 29 tahun ini baru bergabung ke komunitas pada 2024 diajak oleh Elis. Berbeda dengan Elis, ia tidak banyak mengerjakan rajutan di sekretariat Merakit. Nazmi justru lebih nyaman mengerjakannya di rumah karena merasa lebih cepat dan fokus menyelesaikan permintaan sesuai dengan desain yang diberikan.

    Bagi Nazmi, bergabung dengan Merakit membawa perubahan berarti dalam kesehariannya. Setelah sekitar lima tahun menghadapi kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas, ia mulai memiliki kesempatan untuk kembali berkegiatan di luar rumah.

    Ia menuturkan, salah satu perkembangan yang dirasakannya adalah kemampuan untuk duduk di kursi roda dengan lebih kuat. Kondisi tersebut membuka peluang baginya untuk mengikuti kegiatan bersama anggota komunitas.

    Melalui komunitas tersebut, Nazmi tidak hanya mengasah kemampuan merajut, tetapi juga memperoleh pengalaman baru. Ia belajar bersama anggota lain yang memiliki tingkat keterampilan berbeda, sekaligus mendapatkan masukan untuk menghasilkan produk rajutan yang lebih baik.

    Selain memberikan ruang untuk bersosialisasi dan mengembangkan keterampilan, Merakit juga membuka peluang ekonomi bagi Nazmi melalui produk-produk rajutan yang dibuatnya. Ia mengatakan, penghasilan yang diperolehnya dari kegiatan tersebut tidak selalu sama setiap bulan. Besarnya pendapatan bergantung pada jumlah produk yang berhasil diselesaikan serta kegiatan atau acara yang diikuti komunitas.

    "Penghasilannya berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan. Kalau produknya bisa lebih cepat selesai, mungkin bisa lebih banyak yang terjual. Anggota lain bisa lebih besar soalnya lebih banyak hasil rajutan yang beres,” katanya.

    Meski demikian, bagi Nazmi manfaat yang diperoleh dari Merakit tidak semata-mata diukur dari penghasilan. Kesempatan untuk terus belajar, bertemu teman baru, dan kembali aktif menjalani kegiatan menjadi pengalaman berharga yang ia rasakan sejak bergabung dengan komunitas tersebut. Dari kegiatan merajut yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu selama sakit, Nazmi kini menemukan ruang untuk berkarya sekaligus membangun hubungan sosial.

    Saat ini Nazmi, Elis, bersama dengan anggota Merakit lainnya yang merupakan difabel sedang disibukkan untuk memenuhi permintaan buah tangan bagi wisatawan yang datang ke Kampung Wisata Rajut Binong. Salah satu yang menjadi produk jualan adalah boneka rajut yang di dalamnya menggunakan dacron dari serat plastik hasil karya tim Gober. Produk ini bahkan sedang dipersiapkan untuk masuk ke salah satu perusahaan retail fesyen yang ada di beberapa mal.

  2. Perubahan kawasan sangat dirasakan

    WhatsApp Image 2025-08-22 at 7.18.47 AM.jpeg
    Kunjungan wisatawan ke IKM rajut Binong Jati. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Puluhan tahun lalu, Binong Jati dikenal sebagai kawasan yang denyut kehidupannya bergerak mengikuti suara mesin rajut. Dari rumah-rumah warga, benang diolah menjadi pakaian dan berbagai produk rajutan yang dikirim ke pasar.

    Daniel Hermawan dalam bukunya "Inovasi dalam UMKM, Peluang, Tantangan, dan Berkelanjutan", menjabarkan bahwa kawasan ini sudah ada sekitar tahun 1960. Diawali dengan lima orang perajin setempat yang memulai usaha dan bekerja sama dengan pengusaha keturunan Tionghoa, kemudian berkembang di mana pada 2021 tercatat ada 323 unit usaha rumahan di kawasan sentra industri rajut Binong Jati.

    Kini, suara mesin itu masih terdengar, tetapi wajah Binong Jati perlahan berubah. Kawasan ini tak lagi hanya menjadi tempat memproduksi produk rajutan, tetapi juga ruang bagi wisatawan untuk melihat, belajar, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di sana.

    Transformasi ini tidak terlepas dari pandemik COVID-19 yang menerjang Indonesia beberapa pada 2020, mengakibatkan para pelaku industri rajutan tumbang. Meski produksi tetap berjalan, tapi jumlah permintaannya anjlok. Bahkan tak sedikit industri yang gulung tikar. Pasca pandemik, para pelaku usaha rajutan yang mencoba bangkit agar bisnisnya bisa kembali menggeliat di tengah gempuran produk impor, walaupun hasilnya belum maksimal.

    Persoalan ini yang coba dipecahkan sejumlah anak muda yang ada di Binong. Lalu muncul ide untuk mengembangkan kawasan Binong Jati yang selama ini dikenal sebagai industri rajutan, agar bisa dikemas menjadi kampung wisata rajut.

    "Jadi idenya memang sudah ada dari lama, tapi karena pandemik terus juga cari pemodalnya ini kan belum ada. Barulah kita ketemu perwakilan Pertamina, dan waktu itu dikumpulkan di balai pertemuan sama Lurah buat pemaparan," kata Eka Rahmat Jaya, salah satu pencetus Merakit.

    Dia dan beberapa orang di kawasan Binong mencari potensi apa saja yang bisa dikembangkan di luar industri rajut. Mulai dari makanan, kesenian dan budaya, tempat penginapan, hingga pelatihan merajut, yang akhirnya menjadi pilihan untuk dioptimalkan.

    Gayung bersambut, ide-ide tersebut kemudian diterima oleh Pertamina yang tengah menggencarkan program tanggung jawab dan sosial (TJSL). Perusahaan pelat merah ini pun bersedia memberikan bantuan dan berbagai pelatihan untuk mewujudkan ide tersebut dan menjadikan kawasan ini sebagai Kampung Wisata Rajut Binong

    DSC_0002.JPG
    Kegiatan mural di Kampung Rajut Binong bersama penyandang disabilitas. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Untuk kegiatan pertama yang diselenggarakan Merakit berkaitan dengan kesehatan mental. Musababnya, ketika itu banyak pelaku usaha yang drop karena pandemik COVID-19. Setelah program ini berjalan baik, barulah Merakit mencari masyarakat yang kurang terberdayakan secara ekonomi untuk dilatih dan bisa menghasilkan produk khas Kampung Wisata Rajut Binong. Dan pilihan tersebut jatuh pada para perempuan penyandang disabilitas.

    Perlahan tapi pasti, komunitas Merakit mulai membuka diri sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata di Binong Jati. Melalui informasi dari mulut ke mulut, tempat wisata kreatif ini  mulai dikenal berbagai tour and travel hingga beragam komunitas lain yang datang untuk merasakan sensasi wisata di kawasan ini. Melihat potensi tersebut, Eka memutar otak mencari program lain yang bisa meningkatkan nilai jual Kampung Wisata Rajut Binong.

    "Sekarang kita ada enam program mulai dari shopping village, Merasa (belajar merajut), Sekolah Rajut, Live In (menyaksikan kesenian dan budaya), Merakit I, dan Merakit II. Jadi tiap paket ini bisa dipakai kalau ada rombongan yang mau datang ke Binong," papar Eka.

    Dalam semua kegiatan di Kampung Wisata Rajut Binong, Eka mengajak masyarakat sekitar, mulai dari mengurusi keamanan, kebersihan, tempat tinggal (home stay), pemandu wisata, hingga tim pengajar merajut seperti Elis dan Nazmi. Pengemasan wisata dengan aksi sosial seperti ini membuat wisatawan semakin banyak berdatangan dan dampaknya perekonomian masyarakat di luar pelaku industri rajut perlahan bangkit.

    Menurut Eka, lonjakan wisatawan mulai terasa pada 2022 di mana wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1.057 orang. Angka itu tersebut terus bertambah hingga pada 2025 lebih dari 1.500 orang datang. Bahkan wisatawan mancanegara pun ada yang datang ke kawasan ini di mana pada 2024 mencapai 10 orang dan 2025 ada 13 orang.

    Dengan makin banyaknya wisatawan datang ke Binong, berbagai perubahan di kawasan ini dirasakan betul oleh Ketua RW 05 Kelurahan Binong, Yoga. Ia melihat secara langsung perubahan kawasan Binong dulu dan sekarang. Puluhan tahun tinggal di kawasan ini, dia merasakan bahwa Binong sekarang banyak didatangi masyarakat bukan hanya yang ingin membeli produk rajutan, tapi juga untuk berwisata melihat denyut nadi kampung ini seperti apa.

    Dengan kedatangan wisatawan yang semakin sering, warga sekitar pun 'dipaksa' untuk menata kawasan agar lebih nyaman. Mereka mulai aktif terlibat dalam upaya membuat kawasan lebih tertata, sementara sejumlah fasilitas juga disiapkan untuk mendukung aktivitas kampung wisata.


    Seorang wisatawan sedang membeli pernak-pernik yang dijual warga di kawasan Kampung Wisata Rajut Binong. IDN Times/Debbie Sutrisno
    Seorang wisatawan sedang membeli pernak-pernik yang dijual warga di kawasan Kampung Wisata Rajut Binong. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Sejumlah area yang sebelumnya terlihat kumuh mulai dibersihkan dan ditata. Perubahan tersebut membuat aktivitas wisata tidak hanya berdampak pada kegiatan ekonomi, tetapi juga mendorong warga memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

    Bagi Yoga, kehadiran komunitas Merakit yang memberdayakan perempuan disabilitas menjadi bagian penting dalam perubahan Binong. Menurutnya, kelompok tersebut mampu melihat potensi yang dimiliki anggotanya untuk kemudian dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Ia menilai keterlibatan penyandang disabilitas juga bisa memberikan motivasi bagi warga lain.

    "Ketika ada tamu-tamu datang, warga jadi termotivasi: 'Mereka aja bisa, masa kita enggak bisa,'" kata Yoga menirukan suara warga yang lain.

    Ia melihat peluang ekonomi menjadi salah satu dampak yang bisa dikembangkan dari perubahan Binong. Ketika kawasan semakin dikenal, wisatawan berpotensi datang dan membelanjakan uangnya di lingkungan sekitar, termasuk pada UMKM.

    "Kalau sudah dikenal, orang jadi ingin datang. Dan kalau datang, otomatis ada dampak ekonomi. Minimal ke UMKM," ujarnya.

    Pada akhirnya, Yoga berharap Kampung Wisata Binong tidak hanya membuat kawasan lebih dikenal wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.

  3. Pengembangan wisata sasar seluruh aspek

    WhatsApp Image 2026-10-17 at 12.49.16 AM.jpeg
    Pengurus Merakit, Eka, memperlihatkan aplikasi panel surya yang dipasang di masjid. Listriik yang dihasilkan dari fasilitas ini digunakan untuk berbagai kebutuan warga mulai dari penerangan jalan hingga air artesis. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Menjadikan kampung Binong Jati tidak sekedar bergantung pada sektor industri rajut dalam perekonomiannya menjadi fokus utama PT Pertamina dari awal bekerja sama. Pertamina melihat potensi ekonomi lokal Binong Jati yang sudah terbentuk sejak lama, tapi potensi tersebut dinilai masih perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada produksi dan penjualan produk rajut.

    “Pengembangan kawasan menjadi kampung wisata diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dari potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Warga tidak hanya menjadi perajin, tetapi juga dapat mengambil peran dalam pengelolaan wisata, edukasi, pemasaran, hingga pengembangan produk kreatif,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto.

    Menurutnya, selama ini pendampingan juga dilakukan untuk membantu penyandang disabilitas memperoleh akses bahan baku, keterampilan teknis, hingga pemasaran produk. Di sisi lain, warga juga didorong mengambil peran yang lebih luas dalam aktivitas wisata. Pengembangan pemuda sebagai pemandu wisata dan pelatih merajut menjadi salah satu upaya agar kemampuan masyarakat dapat menjadi bagian dari daya tarik kampung.

    Tak selesai di situ, pengembangan kampung wisata juga menyentuh aspek energi. Pada 21 April 2026, Pertamina Patra Niaga Regional JBB melalui FT Bandung memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) off-grid di Komunitas Merakit. PLTS tersebut memiliki kapasitas 6,6 kWp dengan baterai penyimpanan 10 kWh dan inverter 5.000 watt. Infrastruktur ini ditujukan untuk mendukung kegiatan UMKM, pelatihan, dan operasional komunitas.

    Reno menyebut, pemasangan PLTS menjadi bagian dari penguatan sarana produktif masyarakat. Nantinya, listrik yang dihasilkan juga bakal dipakai untuk menjalankan mesin pengolah sampah menjadi serat. Meski demikian, keberlanjutan fasilitas tersebut tetap membutuhkan kemampuan komunitas dalam mengoperasikan dan merawatnya.

    "Untuk menyatakan intervensi mana yang paling besar dampaknya secara terukur, diperlukan evaluasi internal yang membandingkan hasil masing-masing dukungan," katanya.

    Bagi Pertamina, ukuran keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah bantuan atau kegiatan yang terlaksana. Hal yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat mempertahankan kegiatan produktif dan manfaat ekonominya ketika intensitas pendampingan perusahaan mulai berkurang.

    Meski memiliki potensi ekonomi dan wisata, pengembangan Binong Jati tidak lepas dari sejumlah persoalan. Kajian Pemerintah Kota Bandung pada 2023 masih mencatat tantangan seperti keterbatasan akses jalan, fasilitas umum, dan drainase.

    Karena itu, pengembangan kampung wisata tidak cukup hanya dengan meningkatkan promosi atau membuat paket wisata. Ekosistem kawasan juga perlu diperkuat agar wisatawan merasa nyaman dan aktivitas ekonomi warga dapat terus berkembang.

    Sebab, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari keberadaan destinasi wisata atau jumlah bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan program menghasilkan nilai ekonomi, meningkatkan kesejahteraan kelompok rentan, mengurangi limbah, dan membangun kelembagaan masyarakat yang mandiri.

  4. Jadi percontohan bagi kampung wisata lain

    DSC_0031.JPG
    Kegiatan mural di Kampung Wisata Kreatif Binong Jati bersama komunitas Merakit. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Capaian komunitas Merakit yang mampu mengubah wajah kawasan Binong dari sekadar tempat industri rajut menjadi destinasi wisata kreatif di tengah kota mendapat perhatian dari banyak pihak. Sebab, selain wisatawan, mahasiswa, hingga pegiat kampung wisata baik dari dalam maupun luar kota kerap datang untuk belajar.

    Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Disbudpar Kota Bandung, Yayah Sumiati, menuturkan bahwa Binong Jati menjadi salah satu dari delapan Kawasan Wisata Kreatif (KWK) yang perkembangannya cukup menonjol. Selain telah memiliki tempat menginap dan Pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang aktif, kawasan tersebut juga mulai menjadi percontohan dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di sektor pariwisata.

    Keterlibatan penyandang disabilitas dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kompetensi masing-masing. Mereka tidak hanya berpeluang menjadi pelaku kriya, tetapi juga dapat dilibatkan sebagai pemandu wisata.

    "Artinya, penyandang disabilitas menjadi pilot untuk tempat-tempat yang lain. Bisa berdaya. Mereka bisa jadi pelaku kriyanya atau bisa jadi pemandunya, tergantung kompetensi yang dimiliki," ungkap Yayah.

    Meski demikian, konsep wisata inklusif di Binong diharap tidak berhenti pada keterlibatan penyandang disabilitas. Pemerintah menilai kawasan wisata harus aman dan nyaman bagi seluruh kelompok, termasuk penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya.

    Ke depan, Binong diharapkan tidak hanya menjadi kawasan wisata kreatif berbasis rajut, tetapi juga contoh bahwa destinasi wisata dapat memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, bekerja, dan berinteraksi dengan wisatawan. Akses pekerjaan yang ada di Kampung Binong pun diharap semakin mengurangi jumlah penyandang disabilitas yang tidak bekerja di mana pada per 2024 saja jumlahnya sudah mencapai 7.084 orang.

    Sementara itu, Pengamat pariwisata dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Galih Kusumah menilai bahwa kampung wisata yang ada di perkotaan seperti di kawasan rajut Binong memiliki keunggulan sebagai daya tarik wisata kreatif. Meski demikian, keberadaan kampung yang sudah beberapa tahun diresmikan ini tidak sedikit kekurangannya, salah satunya adalah kurang terintegrasi dengan destinasi wisata lainnya yang ada di kota ini.

    Dampak positif yang besar pada warga sekitar ketika kampung di perkotaan menjadi tujuan wisata harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah (pemda). Pemerintah harus turut serta mendampingi dalam pengembangan mulai dari pengelolaan areal destinasi, keberadaan tempat menginap, hingga paket wisata dengan kawasan lain.

    "Dampak positif terbesar dari sisi ekonomi terutama dapat dirasakan oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas rajut. Mereka dapat merasakan dampak langsung dan tidak langsung dari aktivitas kunjungan wisata ke kampung rajut. Dampak tidak langsung seperti aktivitas ekonomi lain sebagai akibat dari kunjungan wisatawan seperti meningkatnya penjualan produk makan dan minum," ujar Galih.

    Dari aspek sosial, keberadaan pengunjung yang datang ke kawasan ini akan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar baik itu yang ikut serta dalam komunitas maupun yang tidak. Ketika interaksi ini makin intens, maka hal baik sudah pasti tumbuh karena masyarakat di kampung wisata akan berupaya memberikan servis terbaik bagi wisatawan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More