Polisi Ikut Pantau UTBK-SNBT Antisipasi Praktik Perjokian

- Polda Jabar memantau langsung pelaksanaan UTBK-SNBT di berbagai kampus Jawa Barat untuk mencegah praktik perjokian dan memastikan ujian berlangsung jujur serta adil.
- Verifikasi identitas peserta dilakukan ketat melalui KTP, kartu peserta, biometrik, dan CCTV; panitia wajib mengamankan barang bukti serta berkoordinasi dengan polisi bila ditemukan pelanggaran.
- Universitas Airlangga mendeteksi 79 data anomali peserta UTBK yang dicurigai terkait kecurangan karena adanya kejanggalan lokasi domisili, pilihan kampus, dan tempat ujian.
Bandung, IDN Times - Aksi kecurangan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) yang kerap terjadi dalam beberapa tahun penyelenggaraan menjadi alarm bagi aparat kepolisian untuk kegiatan tahun ini. Guna menjamin integritas seleksi tahun ini, Polda Jabar turun tangan memantau langsung jalannya ujian di sejumlah kampus di Jawa Barat untuk memastikan tidak ada lagi celah bagi peserta nakal.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan bahwa pemantauan dilakukan aparat untuk memberikan keamanan bagi para peserta. Selain itu, polisi berkoordinasi dengan panitia guna mengantisipasi praktik perjokian.
"Menjamin pelaksanaan UTBK berjalan jujur dan adil, menindak tegas pelaku perjokian dan memberikan kepastian hukum," kata Hendra dalam keterangan yang diterima, Rabu (22/4/2026).
1. Verifikasi dilakukan secara ketat

Pemantauan ini dilakukan terhadap peserta UTBK, joki atau pengganti peserta dan pihak yang membantu seperti calo, admin dan lainnya.
"Dasar hukum, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 263, 378, 55, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik jika terkait manipulasi sistem, ketentuan dari SNPMB dan peraturan internal perguruan tinggi atau lokasi UTBK," ungkapnya.
Menurut Hendra, deteksi awal yang dilakukan panitia di antaranya verifikasi identitas seperti KTP, kartu peserta, biometrik atau foto, pengawasan CCTV dan pengawas ruang. Indikasinya bisa dilihat dari wajah yang tidak sesuai identitas perilaku mencurigakan dan data tidak sinkron dengan sistem.
"Tindakan, amankan peserta yang diduga joki atau pengguna jasa joki, pisahkan dari peserta lain dan hentikan ujian (status: diduga pelanggaran berat). Lalu, lakukan pemeriksaan awal (interogasi singkat)," ujanya.
2. Panitia harus tegas

Hendra juga mengingatkan kepada panita agar amankan, barang bukti berupa KTP atau kartu identitas, kartu peserta UTBK, perangkat elektronik (HP, earphone, dll), dokumen lain terkait, ekaman CCTV dan berita acara pengamanan barang bukti.
"Alur koordinasi, panitia UTBK, melapor ke aparat atau polisi. Koordinasi dengan SNPMB, jika lintas wilayah koordinasi antar satuan. Proses hukum, membuat laporan polisi," pungkasnya.
3. Kecurangan sempat terjadi di Unair

Universitas Airlangga (Unair) mencurigai 79 data anomali peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK). 79 peserta itu, dijadwalkan mengikuti tes di hari pertama, Selasa (21/4/2026).
Kordinator Pelaksana Pusat UTBK SNBT Unair 2026, Prof Dr I Made Narsa mengatakan, 79 data peserta didapat dari Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB). Mereka dicurigai lantaran ada data yang dirasa aneh. Keanehan data bisa mengarah pada tindakan kecurangan.
"Anomali saja, datanya kok aneh ya, jangan-jangan itu (mengarah pada kecuringan)" ujarnya di Kampus C Unair.
Made mencontohkan, keanehan data itu misalnya salah satu peserta berdomisi di Indonesia Barat dan memilih kampus di Jawa Tengah, tetapi dia justru memilih tes di wilayah bukan domisilinya dan kota kampus yang dipilih. Patut diduga, peserta tersebut memilih lokasi tes dengan tingkat pengawasan yang tidak terlalu ketat.
"Kan gini, tingkat keketatan kualitas pengawasan di masing-masing pusat UTBK kan beda-beda. Bisa jadi dia berpikir di daerah pengawasannya lebih lengah, kan bisa begitu. Jadi dari pikiran normal, ini kok aneh ya, rumahnya di sini, milihnya di sini, kok tesnya di situ, curiga kita," jelasnya.

















