Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Plastik Mahal, Omzet Pedagang Pasar Cirebon Ikut Turun
ilustrasi plastik HDPE (pexels.com/Anna Shvets)
  • Kenaikan harga kantong plastik di pasar tradisional Cirebon membuat pedagang harus menekan biaya operasional dan menghadapi penurunan omzet akibat daya beli masyarakat yang belum pulih.
  • Pedagang mulai mengubah pola transaksi dengan mengurangi penggunaan plastik berlapis dan mendorong konsumen membawa tas belanja sendiri demi efisiensi biaya.
  • Kenaikan harga plastik memicu munculnya alternatif pembungkus seperti daun pisang, yang dinilai bisa mengurangi ketergantungan pada plastik meski masih didorong alasan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Lonjakan harga kantong plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai terasa di pasar tradisional Kota Cirebon, Jawa Barat. Kenaikan biaya kemasan itu membuat pedagang harus mengatur ulang strategi penjualan, di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon Iing Daiman, mengatakan kenaikan harga plastik tidak hanya membebani pedagang, tetapi juga mengubah pola transaksi di pasar.

Menurut dia, pedagang kini cenderung mengurangi jumlah kantong yang digunakan untuk setiap pembelian.

“Pedagang mulai menggabungkan beberapa barang dalam satu kantong. Kalau sebelumnya dipisah, sekarang disatukan untuk menekan biaya,” ujar Iing, Kamis (9/4/2026).

1. Tekanan biaya dan penurunan omzet

ilustrasi plastik LDPE (pexels.com/SHVETS production)

Kenaikan harga plastik berdampak langsung pada margin keuntungan pedagang. Biaya tambahan yang sebelumnya relatif kecil kini menjadi komponen pengeluaran yang cukup signifikan, terutama bagi pedagang skala mikro.

Sejumlah pedagang bahkan sempat menaikkan harga jual untuk menutup kenaikan biaya tersebut. Namun, langkah itu tidak bertahan lama karena respons konsumen yang cenderung mengurangi pembelian.

Aeni (60), pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku kondisi ini membuat pendapatannya turun drastis. Ia menyebut harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp8.000 per kemasan kini naik menjadi Rp12.000 sejak awal April.

“Pembeli jadi lebih sedikit. Sekarang untuk dapat Rp100 ribu saja susah, padahal dulu bisa sampai Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per hari,” kata dia.

2. Perubahan pola transaksi di pasar

ilustrasi plastik botol (pexels.com/mali maeder)

Selain mengurangi jumlah kantong, pedagang juga mulai meninggalkan penggunaan plastik berlapis yang sebelumnya umum digunakan untuk membungkus komoditas tertentu. Saat ini, sebagian besar hanya menggunakan satu lapis plastik untuk menghemat biaya.

Iing mengatakan, penyesuaian tersebut dinilai sebagai langkah realistis di tengah kenaikan harga bahan kemasan yang tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli.

"Pedagang berupaya menekan pengeluaran tanpa harus menaikkan harga jual secara signifikan," tutur Iing.

Di sisi lain, lanjut Iing, konsumen juga mulai beradaptasi. Kebiasaan membawa tas belanja sendiri yang sebelumnya belum umum kini mulai terlihat di sejumlah pasar tradisional.

3. Munculnya alternatif ramah lingkungan

Ilustrasi plastik (freepik.com/rawpixel.com)

Tidak hanya itu, lanjut Iing, kenaikan harga plastik turut mendorong penggunaan bahan pembungkus alternatif. Sejumlah pedagang kembali memanfaatkan daun pisang untuk membungkus barang, khususnya komoditas basah seperti ikan dan sayuran.

Menurut Iing, kondisi ini berpotensi menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Meski demikian, ia menilai perubahan tersebut masih didorong faktor ekonomi, bukan sepenuhnya kesadaran lingkungan.

“Memang ada sisi positifnya, penggunaan plastik berkurang. Tapi saat ini motivasinya lebih karena biaya yang naik,” ujarnya.

Topics

Editorial Team