Bandung, IDN Times – Sebuah rumah sederhana di Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 8, Kota Bandung, menyimpan cerita tentang cinta, pengorbanan, dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Di balik bangunannya, tersimpan kisah seorang perempuan yang bukan sekadar mendampingi Soekarno sebagai istri, tetapi juga ikut menopang kehidupan rumah tangga dan perjalanan pendidikannya hingga menjadi insinyur.
Perempuan itu adalah Inggit Garnasih. Ketika Soekarno menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), Inggit bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia menjahit, berjualan jamu, hingga membuat bedak untuk menambah penghasilan keluarga.
Dari pekerjaan-pekerjaan itulah, Inggit turut membantu membiayai pendidikan Soekarno. Kontribusinya mungkin tidak selalu terlihat dalam catatan besar sejarah politik, tetapi perannya menjadi bagian dari perjalanan seorang tokoh yang kelak memimpin Indonesia menuju kemerdekaan.
Kisah tersebut masih bisa ditelusuri melalui rumah yang kini dikenal sebagai Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Pengunjung dapat melihat bangunan dan sejumlah benda peninggalan masa lalu sekaligus mengenal sisi kehidupan pasangan tersebut yang tidak selalu hadir dalam cerita tentang perjuangan bangsa.
Rumah itu dibeli Soekarno dan Inggit pada 1926. Selama delapan tahun, hingga 1934, keduanya menjalani kehidupan bersama di tempat tersebut. Pada masa itulah, kehidupan rumah tangga mereka berjalan beriringan dengan aktivitas Soekarno dalam pergerakan nasional.
Juru pelihara sekaligus pemandu Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Jajang Ruhyat, mengatakan rumah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup keduanya.
“Selama delapan tahun tersebut, rumah ini menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka sekaligus menyimpan kisah perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,” ujar Jajang melalui siaran pers, dikutip IDN Times, Rabu (14/10/2026).
