Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menu MBG Ramadan di Majalengka Disorot, Wali Murid: Ini Mah Camilan!

Menu MBG Ramadan di Majalengka Disorot, Wali Murid: Ini Mah Camilan!
IDN Times/Inin Nastain
Intinya Sih
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) edisi Ramadan di Majalengka menuai kritik karena menu untuk siswa RA dinilai tidak sebanding dengan anggaran dan dianggap kurang memenuhi standar gizi.
  • Perbedaan kualitas menu antara jenjang RA dan SMA memicu pertanyaan publik, sebab siswa SMA menerima porsi lebih variatif dengan nilai bahan baku lebih tinggi dibandingkan tingkat bawah.
  • Pihak SPPG menjelaskan adanya salah paham soal besaran dana serta menegaskan bahwa susu bisa diganti sumber protein lain, sambil berjanji melakukan evaluasi agar gizi tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Majalengka, IDN Times- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) edisi Ramadan di Kabupaten Majalengka tengah menuai kritik pedas dari para orang tua siswa. Pasalnya, menu "keringan" yang dibagikan sebagai pengganti nasi dianggap tidak ideal dan jauh dari ekspektasi gizi jika dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah.

Keresahan ini viral di media sosial dan grup percakapan setelah beberapa wali murid mengunggah foto menu yang diterima anak-anak mereka. Di tingkat RA (pendidikan anak usia dini), menu yang diterima dinilai lebih mirip camilan daripada makanan bergizi penunjang kesehatan siswa.

Berikut adalah 3 fakta di balik polemik menu MBG Ramadan di Majalengka:

1. Wali murid curhat menu tidak sampai Rp8 ribu

WhatsApp Image 2025-09-30 at 16.48.55.jpeg
Infografis anggaran makanan bergizi gratis (MBG). (IDN Times/IDN Times/Aditya Pratama)

Iman, salah satu wali siswa RA di Kelurahan Sindangkasih, membagikan foto menu MBG anaknya yang hanya berisi tiga item: satu roti mini, satu buah jeruk, dan satu cup kecil bubur sumsum. Jika dikalkulasikan dengan harga pasar, Iman merasa nilai makanan tersebut jauh di bawah anggaran Rp8.000 per siswa.

"Mari kita hitung: Roti mini Rp1.000, bubur sumsum Rp2.000, jeruk Rp1.000. Sedih, setelanjang ini. Ini mah bukan makanan, tapi camilan," keluh Iman, Rabu (25/2/2026).

Ia juga menyebut pada hari sebelumnya, menu yang diterima hanya berupa roti, telur asin, dan jeruk.

2. Perbedaan kontras di tingkat SMA

IMG-20260225-WA0031.jpg
Menu MBG edisi Ramadan di salah satu SMA di Majalengka (inin nastain/IDN Times)

Kondisi berbeda terlihat di SMAN 2 Majalengka. Untuk kelompok siswa SMA, anggaran yang dialokasikan adalah Rp10.000 (untuk bahan baku). Arla, salah satu siswi, mengaku cukup puas karena mendapatkan empat item yang bervariasi setiap harinya, mulai dari susu, telur, roti, hingga buah-buahan seperti kurma dan apel.

"Menurut aku sih cukup enak ya. Kalau lihat daerah lain, ini lebih ideal. Semoga ke depan menu-menunya lebih berkreasi lagi dan gizinya lebih baik," ungkap Arla. Perbedaan kualitas menu antar jenjang sekolah inilah yang kemudian memicu pertanyaan publik mengenai standarisasi pengawasan di lapangan.

3. Klarifikasi Koordinator SPPG: Ada salah paham anggaran

f6e67241-713f-4ae9-ac89-1798d292ecb6.jpeg
Edukasi besaran harga menu MBG.

Menanggapi polemik tersebut, Koordinator SPPG Kabupaten Majalengka, Intan Diena Khoerunisa, menyebut terjadi salah paham di masyarakat terkait besaran dana. Banyak warga mengira anggaran per porsi mencapai Rp13.000 hingga Rp15.000, padahal untuk bahan baku murni hanya di angka Rp8.000 dan Rp10.000.

Terkait hilangnya menu susu di beberapa hari, Intan menjelaskan bahwa susu bukan lagi kewajiban harian. "Susu ini bisa diganti dengan protein lain, seperti telur. Yang penting sekarang ada karbohidrat, protein, dan seratnya," jelasnya. Meski demikian, pihak SPPG berjanji akan terus mengevaluasi pelaksanaan di lapangan agar kandungan gizi tetap terjaga.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More