BEM SI Kerakyatan Wilayah Jawa Barat melangsungkan aksi di Gedung DPRD Jabar Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (26/10/2026). Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
Kritik terhadap pemerintah kembali terdengar pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Jabar. Di antaranya mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB), Universitas Islam Bandung (Unisba), dan Universitas Persatuan Islam (Unipi).
Ketua Senat Mahasiswa STHB, Alhady, mengatakan tuntutan mahasiswa secara garis besar mencakup tiga sektor, yakni pendidikan, kesehatan, serta hukum dan demokrasi.
"Secara keseluruhan, kurang lebih ada tiga poin tuntutan. Yang sudah disebutkan tadi sebelumnya, ada pendidikan, kesehatan, dan juga hukum sebenarnya," ujar Alhady.
Menteri Sosial Politik Senat Mahasiswa STHB, Hegya Rifandy, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan mahasiswa terhadap kondisi Indonesia yang dinilai belum membaik.
"Mahasiswa sendiri juga sudah beberapa kali turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi, sampai hari ini, kondisi Indonesia belum baik-baik saja. Kita juga sudah tahu banyak keluhan dari masyarakat," kata Hegya.
Dalam sektor kesehatan dan penanganan bencana, mahasiswa meminta pemerintah serius menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk menetapkannya sebagai bencana nasional.
Mereka juga mendesak penanganan dampak karhutla melalui layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, penyediaan masker, serta evakuasi kelompok rentan. Selain itu, perusahaan di wilayah kebakaran diminta diaudit dan ditindak apabila terbukti melakukan pelanggaran.
Di sektor pendidikan dan program MBG, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan program tersebut. Mereka menyoroti persoalan standar keamanan pangan dan meminta pengawasan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperketat.
Mahasiswa juga mempersoalkan penggunaan anggaran pendidikan untuk program pemerintah lainnya. Mereka meminta anggaran MBG dipisahkan dari anggaran pendidikan sehingga alokasi pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN tidak tergerus pembiayaan program tersebut.
Persoalan ketenagakerjaan turut menjadi sorotan. Mahasiswa menagih janji pemerintah terkait penciptaan 19 juta lapangan kerja.
Mereka meminta data penciptaan lapangan kerja dipublikasikan secara berkala dan diverifikasi Badan Pusat Statistik (BPS). Pemerintah juga didesak memperkuat perlindungan pekerja, memperluas pelatihan vokasi, serta memastikan kebijakan upah memperhatikan kebutuhan hidup layak dan inflasi.
Sementara di bidang hukum dan demokrasi, mahasiswa meminta pemerintah menghentikan kekerasan terhadap aktivis dan pembuat konten, mengusut aktor intelektual di balik kekerasan, serta menjamin kebebasan masyarakat menyampaikan pendapat.
Mereka juga mendesak keterbukaan proses legislasi, termasuk publikasi draf rancangan undang-undang dan naskah akademik, serta pelibatan masyarakat dalam pembahasan kebijakan.
Aspirasi mahasiswa diterima anggota DPRD Jabar dari Fraksi PKB, Muhamad Sidkon Djampi. DPRD menyatakan akan meneruskan sejumlah tuntutan tersebut kepada DPR RI dalam bentuk rekomendasi.