Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kursi Kosong Farhan Jadi Tempat Curhat Warga Soal Angkot Bandung

Kursi Kosong Farhan Jadi Tempat Curhat Warga Soal Angkot Bandung
Diskusi kondisi transportasi umum khususnya angkot di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Warga Bandung menggelar diskusi di Gedung Indonesia Menggugat membahas perbaikan angkot sebagai transportasi utama, meski Wali Kota Muhammad Farhan tidak hadir sesuai jadwal.
  • Peserta menyoroti perlunya integrasi rute, kepastian jadwal, tarif transparan, serta modernisasi layanan seperti pembayaran digital agar angkot kembali diminati masyarakat.
  • Komunitas disabilitas menuntut aksesibilitas lebih baik pada angkot karena desain armada saat ini belum ramah bagi pengguna kursi roda dan tongkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandung, IDN Times - Masyarakat dari berbagai komunitas di Kota Bandung menggelar diskusi di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Minggu (28/6/2026), mengenai ketersedian angkutan umum khususnya angkutan kota (angkot) yang selama ini belum bisa berjalan maksimal sebagai transportasi utama. Dalam diskusi ini Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, diagendakan hadir pukul 11.00 WIB.

Namun, hingga pukul 12.00 WIB Farhan tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Panitia pun tetap memulai diskusi tanpa kehadiran Farhan. Karena kesal, panitia kemudian mengganti Farhan dengan sebuah botol minum yang didepannya diberikan tulisan Wali Kota Bandung. Tulisan ini pun menjadi candaan para peserta diskusi yang hadir sejak pagi hari.

Selain Farhan, dalam diskusi ini juga menghadirkan perwakilan dari Dishub Kota Bandung, ahli transportasi ITB Sony Sulaksno, perwakilan Kopamas Budi Kurnia dan perwakilan masyarakat atas nama Syifa Maudini.

1. Sampaikan surat ke botol Farhan

IMG_20260628_115928.jpg
Diskusi kondisi transportasi umum khususnya angkot di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Harapan agar angkutan kota (angkot) kembali menjadi pilihan transportasi masyarakat mengemuka dalam sebuah diskusi mengenai transportasi umum di Kota Bandung. Sejumlah warga menilai angkot masih memiliki peran penting, tetapi membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari integrasi rute, kepastian jadwal, hingga peningkatan kenyamanan dan aksesibilitas.

Masalah kemacetan yang semakin parah di Kota Bandung juga dinilai menjadi alasan pemerintah harus segera melakukan reformasi transportasi umum. Warga berharap angkot tidak hanya dipertahankan sebagai moda transportasi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Muhammad, warga Bandung Timur, mengatakan bahwa angkot di Kota Bandung sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat, khususnya generasi muda yang menginginkan layanan cepat, praktis, dan pasti.

Menurut dia, pertumbuhan kawasan wisata dan pusat aktivitas baru tidak diimbangi dengan penataan transportasi umum maupun kapasitas jalan. Kondisi itu membuat kemacetan semakin membebani masyarakat, baik dari sisi waktu, biaya, maupun kesehatan mental.

"Bandung kota kreatif, kota wisata, banyak tempat baru. Tapi pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan tidak sebanding. Makanya Bandung jadi kota macet. Secara finansial dan mental ini kerugian bagi kami," ujarnya.

2. Angkot harus seluruhnya terintegrasi

IMG_20260628_113251.jpg
Diskusi kondisi transportasi umum khususnya angkot di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ia menilai angkot seharusnya terintegrasi dengan kawasan permukiman, pusat pendidikan, hingga sentra ekonomi agar lebih mudah diakses masyarakat. Selain itu, kepastian tarif dan rute juga harus diperjelas karena saat ini masih sering membingungkan penumpang.

Muhammad juga mendorong adanya peningkatan standar pelayanan, seperti informasi halte yang akurat dan dapat diakses secara real time, serta metode pembayaran yang lebih modern menggunakan QRIS atau pembayaran digital lainnya.

Menurutnya, kenyamanan armada juga perlu menjadi perhatian. Ia menyoroti masih adanya sopir yang merokok saat mengemudi hingga kondisi kendaraan yang kurang terawat sehingga membuat masyarakat enggan beralih ke transportasi umum.

Sementara itu, Dimas, warga Bandung yang kini bekerja di Jakarta, membandingkan layanan angkot di Bandung dengan sistem transportasi terintegrasi di Ibu Kota. Ia berharap Bandung memiliki layanan serupa dengan angkutan pengumpan (feeder) yang memiliki jadwal pasti, menerima berbagai metode pembayaran, serta menjangkau lebih banyak wilayah.

"Dear Kang Farhan, capek naik angkot di Bandung, tapi kita semua butuh angkot. Yang dibutuhkan itu jadwal yang jelas, pembayaran yang mudah seperti JakLingko, dan layanan yang menjangkau seluruh wilayah Bandung," katanya.

Ia mengingatkan agar pengembangan transportasi umum tidak berhenti pada program yang bersifat seremonial. Menurutnya, perluasan layanan angkot harus benar-benar menyentuh kawasan yang berkembang dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

3. Penyandang disabilitas kesulitan untuk gunakan transum

IMG_20260628_113351.jpg
Diskusi kondisi transportasi umum khususnya angkot di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Masukan juga datang dari kalangan penyandang disabilitas. Taufik Hidayattullah dari komunitas disabilitas mengatakan akses angkot hingga kini masih belum ramah bagi pengguna kursi roda maupun tongkat.

Ia mengaku sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi masih mengandalkan angkot. Namun, proses naik dan turun kendaraan kerap menjadi tantangan karena desain armada belum mendukung mobilitas penyandang disabilitas.

"Terkait transportasi yang aksesibel, ini harus benar-benar diwujudkan. Baik untuk disabilitas fisik maupun sensorik. Angkot harus bisa digunakan pengguna tongkat maupun kursi roda. Ini sudah menjadi kewajiban pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Menurut Taufik, pembenahan transportasi umum tidak hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga pemenuhan hak seluruh warga untuk memperoleh layanan transportasi yang aman, mudah diakses, dan setara.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More